Salah Kostum di Amsterdam

0
80
Keramaian di depan Amsterdam Central Station (gedung cokelat orange) yang penuh dengan pejalan kaki dan sepeda yang berlalu-lalang.

Mengunjungi Negara Kincir Angin, Belanda – Seri Amsterdam

Jalan-jalan kali ini, saya akan menceritakan perjalanan liburan musim panas bersama keluarga di Belanda, tepatnya di Kota Amsterdam. Amsterdam merupakan ibu kota Belanda yang sepertiga wilayahnya berada dua hingga empat meter di bawah permukaan air laut. Namun, jangan heran kalau kota ini tidak pernah banjir, sebab pengaturan air di Belanda sendiri merupakan yang terbaik di dunia.

Kalau kebanyakan kota besar memiliki bangunan tinggi dan modern, lain halnya dengan Amsterdam. Pertama kali keluar dari Stasiun Kereta Amsterdam Central, kita akan disuguhkan dengan hiruk pikuk lalu lintas jalanan yang penuh dengan orang-orang dan sepeda yang hilir mudik. Deretan bangunan dan rumah-rumah tua dengan batu bata merah kecoklatan menjadi ciri khas kota yang terkenal dengan kanal-kanal sungainya yang cantik.

Sabtu, 7 Juli 2019, hari yang cukup dingin dan berawan untuk ukuran musim panas di Eropa. Jika sebelumnya kami sering melihat orang-orang memakai celana pendek dan kaos tipis, hari itu terlihat beberapa orang memakai jaket musim dinginnya. Namun, begitulah cuaca di Amsterdam, sering berubah-ubah yang menyebabkan kami salah kostum. Tetapi tidak mengapa, jangan sampai cuaca menghalangi acara untuk jalan-jalan, bukan? Selalu sedia payung saja sebelum hujan, pasti rencana tetap jalan lancar :D.

Keluar dari stasiun, kami langsung dihadapkan dengan jalanan yang penuh dengan toko (shopping street), baik yang menjual pakaian, souvenir, supermarket, atau mainan. Jadi di Amsterdam ini tidak ada shopping centre besar seperti Grand Indonesia di Jakarta atau Tunjungan Plaza di Surabaya yang memiliki enam atau tujuh lantai dalam satu gedung besar. Pertokoan di sini paling banyak hanya terdiri dari dua lantai dan itu pun satu bangunan untuk satu merk saja. Sesuai dengan namanya shopping street, jika kita mau belanja atau hanya sekadar jalan-jalan, kita harus jalan menyusuri jalanan kecil nan panjang yang hanya boleh dilewati oleh pejalan kaki.

Destinasi selanjutnya adalah pasar bunga terapung atau yang dikenal dengan bloemenmarkt. Pasar yang terletak di tengah kota dan berada di antara Muntplein dan Koningsplein ini telah dibuka sejak tahun 1862 dan merupakan satu-satunya pasar bunga terapung di dunia. Sesuai dengan namanya, pasar ini berisi deretan toko kecil yang menjual berbagai macam bunga. Misalnya, mulai dari biji bunga, karangan bunga, dan tentunya bunga tulip khas Belanda dengan berbagai macam warna.

Pemandangan beberapa kincir angin dan sepeda yang terletak sebelum gerbang masuk tempat workshop pembuatan klompen di Zaanse Schans.

Kami mencoba masuk salah satu toko. Rupanya toko-toko ini tidak hanya menjual bunga tulip dan bibitnya, tetapi juga menjual souvenir khas Amsterdam yang siap dibawa pulang untuk oleh-oleh. Setelah puas berkeliling di pasar dan membeli beberapa oleh-oleh, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Zaanse Schan.

Sembari berjalan kembali ke stasiun, kami melewati banyak sekali kanal kecil yang membuat Amsterdam memiliki nama lain sebagai “Venesia Utara”. Ini karena terdapat 165 kanal dan 1281 jembatan yang hingga saat ini masih berdiri kokoh dan terawat. Sebelum adanya kanal-kanal dan jembatan ini, pada abad ke-16, Amsterdam merupakan daerah rawa-rawa. Pemerintah lalu membuat pulau-pulau kecil yang dikelilingi kanal dan jembatan sebagai sarana transportasi, irigasi, dan juga sebagai pertahanan militer. Sungguh banyak sekali kanal ini sehingga tidak sampai berjalan 50 meter, kami melewati lagi kanal dan kanal lagi hingga ke Stasiun Amsterdam Central. Perjalanan yang menyenangkan melihat deretan bangunan kota tua dengan bebatuan merah dan kanal-kanal yang cantik. Juga banyaknya orang berlalu lalang dengan sepeda atau berjalan kaki.

Tidak terasa 20 menit dari Stasiun Amsterdam Central, sampailah kami di Stasiun Zaandijk Zaanse Schan. Dari stasiun inilah kami harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk melihat kincir angin (molen dalam bahasa Belanda). Saat jalan menuju tempat kincir angin, kami melewati sebuah pabrik yang kalau dari luar baunya harum dan enak sekali. Baru kemudian kami ketahui kalau itu adalah pabrik cokelat van Houten. Bagi yang suka baking, pasti tahu merek cokelat ini. Selain pabrik-pabrik, sepanjang perjalanan kami juga melihat rumah-rumah tua khas Belanda yang masih terawat dengan baik.

Foto di seberang stasiun Amsterdam Central (gedung cokelat orange paling belakang sebelah kiri) dengan bangunan khas batu-batuan merah dan cokelat (sebelah kanan) yang terletak di pinggir sungai Amsterdam.

Sepuluh menit berlalu, sampailah kami di lokasi kincir angin dan segeralah saya mencari tempat duduk karena merasa lelah seharian jalan-jalan. Setelah merasa cukup istirahat, kami mulai menyusuri kembali jalanan menuju kincir angin. Di lokasi ini, tidak hanya terdapat kincir angin, tetapi juga ada museum yang menceritakan sejarah di wilayah Zaanse Schan. Oya, ada toko-toko kecil yang menjual oleh-oleh berupa cokelat dan souvenir khas Belanda. Selain itu, kami juga melihat secara singkat pembuatan klompen, sepatu khas Belanda yang terbuat dari kayu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 namun langit masih cerah benderang. Maklum, saat musim panas, biasanya matahari baru tenggelam sekitar pukul 23.00. Meski demikian, kami sudah harus kembali ke tempat penginapan untuk beristirahat karena esoknya masih akan melanjutkan jalan-jalan ke tempat lain. Sampai bertemu di cerita selanjutnya.

Gita (paling kiri) bersama keluarga di Zaanse Schaan.

Penulis: Gita Benefita Suprianto,
mahasiswa Psikologi Olah Raga Vrije Universiteit, Amsterdam.
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here