Renungan Harian, Rabu 13 Maret 2018, Matius 9:9-15 “PAHIT TETAPI MENYEMBUHKAN”

0
122
http://jateng.tribunnews.com

Sekelompok orang beranggapan bahwa apabila mereka dapat memusnakan seluruh Alkitab, memenjarakan semua pendeta serta menutup semua pintu gereja, mereka tidak perlu takut lagi tentang dosa. Tetapi pendapat seperti itu salah. Dunia kita ini telah penuh dengan dosa, sehingga Allah memakai semua hal diatas untuk mengingatkan orang berdosa bahwa mereka memerlukan juruselamat.

Seorang yang mengalami patah tulang, tidak akan menolak dokter untuk merawatnya. Dia tidak akan merusak alat-alat kedokteran atau mengusir dokter keluar dari kamarnya. Dia tidak akan marah kepada dokter, karena kakinya patah bukan kesalahan dokter. Tetapi dokter datang untuk merawakt dan menyambung kembali tulang kakinya yang patah itu.

Dokter bekerja sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Ia melakukannya dengan bebas demi kesembuhan pasien. Dokter tidak dapat didikte pasien. Sebaliknya pasien harus melakukan perintah dokter. Dokter berhak menegur dengan keras sekalipun, apabila pasien mengabaikan perintahnya.

Membetulkan kembali tulang yang patah, sangatlah mungkin menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Tetapi melalui perawatan akan dialami kesembuhan. Mungkin sekarang kita merasakan sakitnya, mungkin kita terganggu dengan gips yang membalut luka kita, tetapi sesudah itu ada kesembuhan.

Seringkali kata-kata Firman Tuhan begitu keras menegur kita. Terdengar tidak enak pada telinga kita, menyakitkan di hati kita. Kita kecewa dan dibuatnya malu untuk seketika. Tetapi kita harus ingat bahwa Firman Tuhan itu benar. Firman Tuhan itu meluruskan jalan kita yang bengkok itu.

“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.” (Ayub 5:17)

Jendela Pagi, Lembaga Literatur Baptis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here