Renungan Harian, Kamis 28 Februari 2019, 1 Korintus 15:51-58 “SUKACITA ATAU KETAKUTAN”

0
122
https://dafunda.com

Pada masa yang silam, terompet dipakai sebagai tanda untuk mengumumkan sesuatu. Juga dipakai untuk memanggil seseorang yang sedang ada dalam penjara atau diadili. Panggilan itu berupa isyarat bunyi terompet.

Bayangkanlah hal berikut ini: Dua orang sedang mendekam dipenjara. Yang sorang sedang menunggu saat diadili, yang lain sudah lama menjalani hukuman. Ia justru sedang menunggu saat dibebaskan. Mereka berada dalam sel yang sama tetapi yang mereka pikirkan jauh berbeda.

Tiba-tiba terdengar bunyi terompet. Orang yang menunggu saat pembebasan tampak diam saja. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh bunyi itu. Lain sekali dengan orang yang sedang menunggu saat diadili. Mendengar suara terompet, ia langsung ketakutan. Dahinya berkerut, bibirnya kering, dan tubuhnya gemertar. Ia melihat kepada teman satu selnya. Namun teman itu kelihatannya sangat tenang. Rupanya tidak peduli sama sekali dengan bunyi terompet itu. Ketika melihat dirinya kembali, ia sadar bahwa ia sangat ketakutan. Sebentar lagi, ia harus berhadapan dengan hakim. Ia akan ditanyai, diselidiki, disalahkan dan tentu saja dihukum. Jadi, sewaktu mendengar terompet, ia gemetar sekali, sebab sadar akan apa yang akan dihadapinya. Kematian yang menakutkan.

Suatu saat nanti, terompet akan berbunyi dari dalam surga, dan orang orang yang mati dalam Kristus akan bangkit dari dalam kubur. Kita yang telah diselamatkan di dalam Kristus akan pergi bersama Dia. Kita tidak menderita ketakutan. Yang ada dalam hati kita hanyalah sukacita.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah Para Rasul 4:12)

Jendela Pagi, Lembaga Literatur Baptis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here