Renungan Harian, Kamis 2 Mei 2019; Kejadian 1:24-31 “TANAH LIAT DI TANGAN PENJUNAN”

0
474

http://www.survive-giezag.org

Saudara sepupu Lani sekolah di bagian seni rupa. Ia belajar mengenai keramik. Ia membuat piring-piring, jambangan dan pot-pot bunga dari tanah liat. Lani suka sekali sekali memperhatikan saudaranya membentuk tanah liat.

“Ini bagus sekali,” kata Lani mengagumi sebuah piring yang sudah jadi. “Gimana caranya sampai sebagus ini?”

Saudara sepupunya mengambil segumpal tanah liat yang halus dan lunak. Ia memperlihatkan kepada Lani bagaimana cara membentuknya. Mula-mula ia meremas tanah liat itu. Lalu mulai dibentuk. Waktu tanah liat itu sudah berbentuk piring seperti yang dikehendakinya, dimasukkan ke dalam oven yang sangat panas. Ketika dibakar itulah, tanah liat menjadi keras. Sesudah dibakar beberapa waktu, piringan itu dikeluarkan dari oven. Lalu dicat, dan dibakar kembali. Barulah piringan itu siap digunakan.

“Piring ini lebih bagus daripada yang tadi,” kata Lani.


http://cammpur.blogspot.com

“Betul,” jawab saudara sepupunya. “Tapi coba bayangkan seandainya tanah liat tadi memprotes: Jangan aku diremas-remas, aku tidak mau dimasukkan ke oven.”

Lani tertawa mendengar penjelasan saudara sepepunya. Ia tahu, tidak mungkin ada tanah liat yang bisa memprotes. Tapi Lani tahu, saudaranya ingin mengajarkan sesuatu.

“Tuhan ingin sekali menggunakan kita,” kata suadara sepupu Lani. “Tuhan ingin menghaluskan dan membentuk kita, Sampai kadang-kadang kita memprotes Tuhan: Tidak Tuhan, biarkan saya tetap seperti ini saja.” Kita tidak sadar bahwa Tuhan dapat membentuk kita lebih indah daripada rencana kita sendiri.

“Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup.” (Kejadian 2:7)

Jendela Pagi, Lembaga Literatur Baptis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here