Traveling “Pulau Ambon: SURGANYA PARA PENIKMAT PANTAI”

0
86

 

Halo sobat Suara Baptis, kali ini saya akan membawa Anda berjalan-jalan di Pulau Ambon. Selain merupakan nama sebuah pulau, Ambon juga merupakan nama sebuah kota. Kota Ambon adalah Ibu Kota dari Propinsi Maluku. Nah, Pulau Ambon sendiri dibagi menjadi dua daerah, yakni Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah. Karena merupakan Ibu Kota Propinsi, tentunya menjadi pusat perdagangan dan pembangunan serta merupakan kota termodern di wilayah Maluku. Pun tentunya dengan jalur transportasi, semua penerbangan dan pelayaran akan transit di Kota Ambon terlebih dahulu untuk mencapai tempat lain di Propinsi Maluku.

Untuk keindahan alam, tak perlu diragukan lagi. Sebab alam Indonesia Timur memang dikenal eksotis dan masih asri, dinamika kontur alamnya pun sangat memanjakan mata. Khususnya di Pulau Ambon, eksotisme Ambon cukup menantang bagi Anda para pecinta laut yang tak takut terbakar matahari. Bersiaplah, sebab kejernihan air laut, keindahan pantai ditambah santapan ikan segar yang lezat akan menjadi paket lengkap bagi Anda yang gemar “melaut”.

Mari merapat. Tempat pertama yang akan kita kunjungi –tentunya setelah mendarat di Bandara Pattimura- adalah Pantai Batu Kapal. Lokasi wisata Batu Kapal letaknya tak jauh dari Bandara Pattimura, lokasinya di daerah Liliooi, hanya berjarak sekitar 9 km atau 15 menit berkendara dari bandara. Sekeluarnya dari Bandara, kita tinggal belok kiri atau ke arah Barat. Sebaiknya kita jangan menunda untuk mengunjungi tempat ini setibanya di kota Ambon, karena letak Bandara dan pusat kota cukup jauh. Jika salah startegi –telanjur ke pusat kota baru merencanakan ke Batu Kapal- kita terpaksa menempuh perjalanan sejauh 27 km (jarak pusat kota ke Batu Kapal) atau 45 menit berkendara. Masuk ke Batu Kapal, kita cukup merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu per orang dan Rp 10 ribu lagi untuk ongkos parkir.

Di Pantai ini, jangan berharap bertemu dengan pasir putih, karena bebatuan mendominasi pinggiran laut. Namun suasana tenang dengan birunya air laut serta sejuknya terpaan angin bebas, dijamin membuat Sobat nyaman dan betah di sini.

Setelah mengunjungi Batu Kapal, tak ada salahnya singgah ke salah satu ikon kota Ambon: Monumen Ambon The City of Music. Khususnya bagi kita yang gemar selfie, monumen ini tak pantas jika dilewatkan. Konon, monumen ini didirikan sebagai pengingat bagi masyarakat Ambon tentang cita-citanya yang ingin menjadikan kota Ambon sebagai Kota Musik dunia di kemudian hari.

Setelah berfoto di sini, jangan lupa mengabadikan momen di Jembatan Merah Putih yang merupakan salah satu ikon terkenal lainnya di Kota Ambon. Jembatan sepanjang 1,14 km ini menghubungkan daerah Rumah Tiga dan Galala. Dahulu, sebelum jembatan ini dibangun, warga Ambon harus mengitari seluruh pulau jika ingin pergi dari kota menuju bandara. Ada jalur alternatif lain, namun menggunakan kapal feri.

Ikon lainnya di kota Ambon adalah Gong Perdamaian dan Patung Christina Martha Tiahahu. Seperti yang masih lekat dalam ingatan beberapa orang, perang saudara sempat menorehkan sejarah kelam di kota Ambon Manise ini. Bukan hanya di Kota Ambon namun juga di beberapa desa dan kota lain di sekitarnya. Perang saudara yang sulut-menyulut terjadi selama 10 tahun (1999-2009). Maka Gong Perdamaian itu dibangun sebagai monumen pengingat agar masyarakat Ambon selalu berdamai dan tidak berperang lagi. Gong ini berdiri di pusat kota atau alun-alun Kota Ambon, tepatnya di dalam Taman Pelita. Sedangkan Patung Christina Martha Tiahahu ada di daerah Karang Panjang, kawasan perbukitan di kota Ambon. Dari sini kita dapat menikmati eloknya pemandangan kota Ambon dari ketinggian.

Setelah asyik mengelilingi kota kita dapat bersantai dengan menikmati ikan bakar yang segar dengan harga bersahabat di jalan Sam Ratulangi daerah Ambon Plasa. Walaupun terletak di pinggir jalan, kesegaran dan kenikmatan rasanya terjamin. Harganya pun cukup bersahabat, dengan berbekal Rp 35 ribu kita dapat menikmati seekor ikan bakar plus nasi. Biasanya, jika sedang berada di kota, saya tidak lupa mengunjungi warung kopi kesukaan saya. Warung kopi ini bernama Sibu-sibu yang berarti sepoi-sepoi. Warung ini menjadi sedikit istimewa bagi saya karena warung kopi ini memiliki menu yang khas, yaitu Kopi Rarobang. Kopi yang dicampur dengan jahe, madu, susu kental manis dan kenari. Kopi ini sangat enak diminum ketika badan sedang pegal-pegal. Khasiatnya mungkin mirip dengan wedang jahe, yang berbeda adalah adanya kenari yang menjadi ciri khas hasil bumi wilayah Maluku. Rasa kenari yang renyah serta tekturnya yang kriuk menambah nikmatnya minuman kopi jahe ini.

Tempat wisata lain yang dapat kita datangi adalah Pantai Pintu Kota. Pantai Pintu Kota sangat cocok jika kita ingin menikmati Matahari Terbit. Pintu Kota sendiri adalah suatu lubang besar yang terdapat pada tebing besar yang ada di daerah Nusaniwe – Latuhalat. Pintu Kota terletak di selatan Pulau Ambon, berjarak 16 km dari pusat kota atau sekitar 40 menit berkendara. Biaya masuknya masuk terhitung murah, dengan Rp 5000,- per orang kita dapat menikmati keindahan alam. Ada beberapa pantai lain yang kita dapat kunjungi setelah mengunjungi pintu kota, salah satunya Santai Beach yang berjarak 3 km atau sekitar 10 menit dari Pintu Kota. Dengan biaya masuk Rp 5000,- per orang kita dapat benar-benar bersantai di sini. Kondisi pantainya yang berpasir putih dan landai pasti membuat Anda betah. Anda dapat leluasa bermain dan berenang di Santai Beach. Bahkan jika berani membandingkan, Santai Beach lebih menyenangkan daripada Pintu Kota yang pantainya berbatu.

Setelah dari Santai Beach kita dapat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan lainnya, yaitu Batu Lubang. Batu Lubang berjarak 9 km atau 20 menit berkendara ke arah kembali ke kota. Akan tetapi tidak semua orang tahu akan lokasi wisata yang terletak di daerah Hamahusu ini. Tempat masuk yang kecil dan tidak adanya petunjuk di jalan, cukup menyulitkan wisatawan menemukannya. Kita harus bertanya pada masyarakat sekitar untuk menemukan tempat ini. Tetapi perlu diakui, Batu Lubang memang sangat unik dan memiliki daya tarik sendiri. Gua-gua di pinggir pantai ini tampak megah dan misterius, berhiaskan batu karang berlubang-lubang yang menjulang tinggi.

Jika kita ingin mencicipi makanan khas Ambon -papeda, Kita dapat mengunjungi sebuah restoran di Jalan Said Perintah: Restoran Barcelona. Restoran ini memiliki menu Papeda dengan kuah kuning yang mantap. Papeda sendiri adalah makanan olahan berbahan dasar sagu, berbentuk seperti lem aci dan rasanya tawar. Papeda baru terasa sedap jika dimakan dengan ikan kuah bumbu kuning. Ikan kuah inilah yang memberi rasa pada papeda. Perpaduan antara keduanya akan memberikan pengalaman baru bagi kita. Mungkin kita dapat menemukan makan seperti ini di luar Maluku, tetapi tingkat kesegaran ikan di daerah Maluku adalah kunci kenikmatan dari santapan ini. Kesegaran ikan akan menentukan rasa dari masakan ini yang tidak dapat ditemui di luar Maluku.

Masih melanjutkan perjalanan kita, jika Sobat masih memiliki waktu, mari singgah ke Pantai Natsepa, Pantai Liang, atau Pantai Lubang Buaya Morela. Kita akan membahas pantai-pantai eksotis ini di Majalah Suara Baptis edisi III, tunggu ya?

(bersambung)

*) Penulis adalah hamba Tuhan yangmelayani di Pulau Ambon
Editor: Andry Waper

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here