Profil Muda – Patahkan Cibiran Anak Homeschooling (Ferista Erdina Yosephine)

0
258

Siapa yang tidak mengenal dunia seni? Hampir semua orang mengekspresikan hidupnya melalui seni. Bagi mereka yang mengerti sepenuhnya dunia ini, seni merupakan cara untuk mengungkapkan isi hati. Seni tidak selalu melihat ke luar tetapi ke dalam.

Ferista Erdina Yosephine atau yang akrab di sapa Fey, seorang pemudi anggota Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung, sangat lekat dengan dunia seni. Baik itu seni musik, seni tarik suara, seni lukis dan lain-lain. Fey terlahir dari pasangan Ferry Priadi Soeparno dan Setia Arista Sara.

Pemudi kelahiran Bandung, 24 Februari 1999 itu mengaku menyukai semua yang berbau seni. Menurutnya, seni adalah sesuatu yang unik dan dinamis.

“Lewat kesenian aku bisa menuangkan isi hati bahkan pikiran aku. Aku juga bisa mengajak orang lain untuk melihat ke dalam atau isi hati aku,” tutur Fey kepada Juniati dari Suara Baptis, Senin 30 Maret 2020.

Ia melanjutkan, “Contohnya, penulis lagu galau biasanya menggambarkan keadaan dia saat itu, dan pendengarnya bisa merasakan apa isi hati dari si penulis lagu itu. Begitu juga dengan hasil karya lukisan, film, dan karya seni lainnya.”

Hal inilah yang menjadi salah satu motivasi drummer GBP Bandung ini untuk dapat menghasilkan karya yang bisa menarik orang lain baik itu film, musik, lukisan maupun karya seni lainnya. Tak aneh jika gadis ramah ini seolah tak dapat dipisahkan dari seni.
“Aku pengen menghasilkan karya yang bisa menarik orang lain untuk mengenal Tuhan Yesus, karena aku sudah merasakan hubungan yang indah sama Tuhan Yesus. Dan aku pengen orang lain juga turut merasakannya. Seni itu jadi perantara ungkapan hati yang tersirat,” tutur anak dari tiga bersaudara ini.

Memilih mendalami dunia seni, Fey mendapat dukungan orang tuanya. “Dari dulu saya selalu mendukung apa pun yang anak-anak kami minati. Karena tugas saya adalah mengarahkan mereka, saya nggak pernah memaksakan kehendak saya kepada mereka. Biasanya mereka tanya dan saya kasih masukan,” ujar Setia Arista Sara.
Ia melanjutkan, “Fey ingin membuat film animasi rohani untuk anak-anak, itu sesuatu yang luar biasa. Kita bisa mengemas Injil dalam film animasi yang dapat dikonsumsi anak-anak maupun orang dewasa.”

Menanggapi hal itu, Fey menyampaikan, “Terutama kepada anak, apalagi film rohani, itu kan sangat jarang? Kebanyakan untuk anak dewasa (kisaran remaja, red.). Dan pengennya film (animasi rohani) ini bisa membangun karakter anak-anak, gitu.”
Tak hanya itu, dara muda ini pun gemar bermain drum untuk mengiringi kebaktian. Ia mengenal alat musik sedari kecil. Terinspirasi dari sang ibu yang merindukan anak perempuannya bermain musik, menjadi motivasi sendiri bagi Fey mendalami alat musik drum.

“Awalnya dilesin piano. Pasti semua pemain musik juga tahu ya, kalau piano itu basic semua pemusik. Namun semakin ke sini, dilesin sesuai dengan yang kita suka. Tapi sekarang belajar sendiri. Awalnya terinspirasi dari Mama, terus aku juga melihat drummer cewek itu kelihatannya keren. Dan jadilah sampai sekarang jadi drummer, hehehe,” tandasnya.


Fey juga sosok pemudi yang spontan, ekspresif dan senang bergaul. Ia punya kemauan yang kuat dalam mengerjakan sesuatu dan cenderung perfeksionis. Meski menurut sang ibu ini adalah kelemahannya, Tuhan memakai hal itu. Tak mengherankan, Fey banyak diberi tanggung jawab dalam mengerjakan sesuatu karena hasilnya selalu bagus.

Karena hal ini jugalah, Fey sering dipercaya menangani acara-acara penting di lingkungan gereja maupun di luar jemaat. Salah satunya, ia dipilih sebagai ketua organisasi kemahasiswaan untuk mendorong pertumbuhan minat dan bakat olah raga maupun seni di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Tak hanya itu, Fey yang juga mencintai seni tarik suara pada tahun 2019 mengikuti perlombaan pembuatan lagu himne untuk jurusannya (ilmu komunikasi UPI). Jurusan ini memang belum memiliki himne.

Lagu ciptaan Fey berhasil lolos sebagai pemenang. Lagu yang dikerjakan bersama seorang teman sejurusannya itu kini resmi menjadi lagu himne Jurusan Ilmu Komunikasi UPI.
Semasa masuk pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Fey menjalani homeschooling. Sistem pendidikan mandiri ini sempat membuat Fey tidak bersemangat. Ia bahkan sempat berkecil hati di awal menjalani pendidikan homeschooling ini. Apalagi ketika Fey mendengar omongan-omongan tidak enak tentang anak-anak yang menjalani homeshooling. Misalnya, dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran seperti anak-anak yang belajar di sekolah formal, prestasinya tertinggal, dan lain-lain.

“Awalnya aku tuh sempat bete, kenapa sih harus homeschooling? Kan aku udah keterima masuk SMA (SMA 1 BPK Penabur)? Tapi karena aku yakin ini rencana Tuhan dan pasti Tuhan udah atur semuanya, Tuhan pasti menuntun aku sampai bisa melewati ini,” tuturnya.
Fey bersyukur, seiring berjalannya waktu, ia mulai bisa menyesuaikan diri. Fey bahkan melihat bagaimana Tuhan menuntunnya selama menjalani homeschooling. Ia mampu mematahkan cibiran orang tentang anak-anak homeschooling. Meski mereka belajar sendiri, prestasinya tidak kalah dengan anak-anak keluaran sekolah formal. Ketika Fey mengikuti Ujian Nasional (UN), ia mencapai peringkat tertinggi nilai UN IPS Paket C se-Kota Bandung.

“Kita belajar sendiri karena memang sudah ada aplikasi-aplikasi yang membantu. Terus ada juga namanya (website bimbingan belajar) ruang guru, dan lain-lain. Namun kita juga bisa ikut komunitas-komunitas. Yang aku ikuti itu komunitas bahasa Inggris, Celebration of Praise (COP, komunitas pelayanan) dan lain-lain.”

Fey melanjutkan, “Aku tadinya tuh khawatir, bisa nggak ya, bersaing dengan anak-anak di sekolah formal? Dan puji Tuhan, dengan ketekunan (belajar), juga (karena) penyertaan-Nya, aku berhasil meraih nilai UN IPS tertinggi se-Kota Bandung. Dan Tuhan kasih aku hadiah lagi dengan lolos di UPI melalui jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Pergutuan Tinggi Negeri),” ucapnya.

Dari komunitas di homeschooling inilah Fey diperkenalkan dengan Kafe Central Station (CS) yang dikelolah para utusan Injil untuk pelayanan. Ia pun diterima dan menjadi salah satu barista di kafe ini.

“Awalnya kan waktu homeschooling aku punya komunitas bahasa Inggris yang isinya itu kebanyakan misionaris. Mereka punya misi untuk membuat kafe untuk pelayanan. Terus ada orang tua teman aku, ngajakin,” ujarnya.

Terbiasa dengan dunia pelayanan sejak sekolah menengah pertama (SMP) membuat Fey tidak lagi merasa asing dengan hal-hal yang bersifat pelayanan. Maka ketika diajak bergabung di kafe CS, ia tidak merasa kesulitan.

Kafe ini didirikan untuk menjangkau mahasiswa yang membutuhkan gereja ataupun persekutuan. Meski sebagai barista, Fey juga berkesempatan mengajak setiap pengunjung baru.

“Di lantai satu itu ada kafe, terus lantai atasnya dijadiin tempat persekutuan. Aku kebagian menjadi baristanya. Jadi, sambil kita nyuguhin kopi ataupun makanan, kita sambil memperkenalkan dan mengajak mereka ikut pelayanan, ikut persekutuan. Aku bertugas untuk menjaring nanti yang di atas, yang melanjutkan dan mengajak mereka untuk bertumbuh,” tuturnya.

Meski terlibat dalam pelayanan di tempat lain, tak serta merta membuat Fey menjadi pasif di GBP Bandung. Ia tetap memprioritaskan kegiatan dan pelayanannya di gereja. Seperti pada hari Jumat, di kafe tempanya menjadi barista mengadakan persekutuan setiap pukul 19.00. Namun karena bersamaan dengan kegiatan di gerejanya, Fey memutuskan untuk tetap memprioritaskan pelayanannya di GBP Bandung.

Fey mengaku bersyukur bisa bekerja sebagai barista di kafe ini karena ia bisa mengatur jam kerja dengan jam kuliahnya. Dengan begitu, studinya tidak terganggu. Kuliah tetap berjalan dengan baik, pekerjaannya sebagai barista juga dapat tetap berjalan tanpa harus membolos kerja ataupun kuliah.

“Dan kita minimalnya itu masuk kerja dua kali seminggu. Tapi aku paling sering, itu empat kali seminggu,” tuturnya.

Sadar akan identitas dirinya dalam Kristus, Fey yang sedang menuntut ilmu di lingkungan mayoritas bukan Kristen ini selalu berusaha menjaga terang dalam dirinya. Misalnya, dalam berpakaian, perbuatan dan perkataannya.“Aku nggak pengen teman-teman aku punya image yang buruk tentang Tuhan Yesus dan orang-orang yang beragama Kristen. Karena itu aku menjaga banget cara berpakaian, perkataan dan perbuatan aku. Tujuannya supaya mereka tertarik dengan kekristenan dan nama Tuhan Yesus dikenal dan dimuliakan,” jelasnya.
Di akhir perbincangan, Fey berharap kisahnya bisa menginspirasi dan mengajak anak-anak muda untuk lebih mengenal sosok Kristus.

Penulis: Juniati
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here