Profil Muda: Jehuda Halel Haryono “PIAWAI BERMUSIK, SEKOLAH TETAP ASIK”

0
95

Siapa yang tak senang mendengarkan musik? Mungkin hampir semua dari kita sangat gemar menikmati alunan musik, apapun jenis dan irama musiknya. Musik seolah sudah tak bisa terpisah dari bagian kehidupan kita, apalagi bagi umat Kristen yang menggunakan musik sebagai sarana memuji dan memuliakan Tuhan.

Adalah Jehuda Halel Haryono, remaja yang sangat lekat hidupnya dengan dunia musik. Terlahir dari keluarga pasangan hamba Tuhan, Pdt. Daniel Royo Haryono dan ibu Wahyuni, membuat Jehuda setidaknya mengenal alunan musik sejak kanak-kanak. Pasalnya, kehidupan keluarga hamba Tuhan tak dapat dipungkiri akan dekat dengan dunia musik, terlebih musik gereja.

Dalam dunia pelayanan gereja, orang tua Jehuda memang sejak dini membiasakan putranya untuk melibatkan diri dalam melayani musik. Dari pengakuannya, Jehuda tak hanya memainkan satu jenis alat musik untuk iringan ibadah.  “Kalau di gereja, biasanya kebaktian pagi saya main saxophone, sore main drum. Saat Jam Doa Rabu saya main piano,” kisahnya saat berbincang dengan Suara Baptis melalui messenger.

Remaja kelahiran Surabaya, 19 Desember 2003 itu berkisah bahwa dirinya sangat hobi dengan musik. Kesehariannya lebih banyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan musik, dibanding dengan kegiatan lainnya. Hal tersebut yang menjadi salah satu faktor mengapa dirinya tak dapat dipisahkan dari dunia musik.

Kerap Tampil di Muka Umum

Tak hanya bermain musik untuk menyalurkan kegemaran atau melayani Tuhan di dalam tembok gereja saja, Jehuda kerap mendapat kesempatan untuk menampilkan kebolehannya di hadapan banyak orang dalam berbagai acara. Ia mengaku, awalnya memiliki perasaan grogi yang besar saat akan tampil di hadapan banyak orang apalagi dalam sebuah acara resmi.

“Tahun 2016, dalam acara Hari Ulang Tahun Kota Surabaya. Rasanya deg-degan, sehari sebelumnya saya nggak bisa tidur, haha,” kenangnya.

Tampil untuk kali pertama solo saxophone di depan ribuan orang itu menjadi pengalaman paling berkesan sekaligus paling mendebarkan bagi Jehuda. Untuk mengatasi perasaan groginya, Jehuda selalu berdoa dan juga mencari teman-teman di antara paduan suara seribu siswa pada waktu itu.

Pada tahun 2017 dan 2018 ini, Jehuda terpilih menjadi anggota Youth Orchestra di Jawa Timur. Bukan main-main, untuk dapat menjadi anggota orkestra tersebut harus melalui seleksi dan audisi yang ketat. Banyak anak-anak lainnya yang gagal untuk masuk dalam tim yang biasanya ditampilkan pada acara-acara resmi pemerintah itu.

Menurut Jehuda, Jawa Timur Youth Orchestra sering tampil dalam acara kenegaraan di Gedung Negara Grahadi Surabaya. “Mulai dari hari kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun Jawa Timur, hari Keselamatan Kerja Nasional, hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang dihadiri oleh para menteri, dan lain-lain,” ungkapnya.

Pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-73 ini, Jawa Timur Youth Orchestra juga tampil dalam acara kenegaraan untuk tingkat Provinsi Jawa Timur. Selain tampil dalam acara-acara kenegaraan, Jehuda juga pernah ikut dalam konser persahabatan Worldship Orchestra dari Jepang dan orkestra dari Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan, Jehuda juga dipercaya untuk mengisi acara-acara on-air di stasiun televisi lokal. “Saya pernah mengisi acara keagamaan di televisi lokal yaitu SBOTV dan TVRI,” Jehuda mengisahkan.

Anak bungsu dari dua bersaudara ini paling suka dengan genre musik pop-jazz. Dirinya tak dapat menjelaskan alasan kesukaannya terhadap jenis musik tersebut, namun jenis musik itu menginspirasinya dalam bermain musik. Menurutnya, mendengarkan musik itu dapat menenangkan hati dan pikiran.

Pada bulan April silam, Jehuda meraih juara ke-2 dalam perlombaan gitar solo se-Surabaya. Hal ini membuktikan bahwa Jehuda tak hanya piawai meniup mouthpiece saxophone saja, namun jemarinya pun mahir dalam memainkan dawai gitar.

Sebagai seorang putra dari salah satu pimpinan Gabungan Gereja Baptis Indonesia, Jehuda belum begitu dikenal luas di kalangan Baptis Indonesia. Di samping usianya yang masih remaja, Jehuda memang belum terlalu sering muncul dalam kegiatan GGBI secara nasional. Namun, beberapa kesempatan terakhir dirinya mulai dikenal salah satunya melalui keikut sertaannya dalam acara Penata nasional bulan Juni lalu di River Hill Tawangmangu. Dalam acara tersebut, Jehuda sempat mempertunjukkan kebolehannya dalam bermusik, bersama beberapa anak pendeta lainnya.

Sang ayah, Pdt. Royo, mengakui bahwa Jehuda memang masih sangat muda di usianya saat ini. Namun dirinya mendorong sang anak untuk sebisa mungkin mulai melibatkan diri dalam kancah pelayanan Baptis Indonesia mengikuti jejaknya. “Saya mendukung anak saya untuk lebih dini bergaul dan mengikuti kegiatan-kegiatan remaja-pemuda Baptis supaya semakin mengenal dan mencintai Baptis. Sesungguhnya, potensinya sangat besar dan terlalu saying jika tidak diberi kesempatan untuk bersama-sama melayani,” terang Wakil Ketua BPN GGBI tersebut.

Dalam acara Reuni Akbar Alumni STBI awal Juli lalu, Pdt. Royo mengajak serta Jehuda untuk menghadiri acara yang berlangsung di kampus STBI Simongan Semarang itu. Jehuda tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempersembahkan talentanya di hadapan peserta reuni akbar itu. Jehuda berkolaborasi dengan sang kakak, Yehezkiel Kharis Haryono, dan dua teman lainnya dalam acara pembukaan.

Dari banyak kisah yang sering kita dengar, kebanyakan pendeta mendorong dan menginginkan anak-anaknya untuk terpanggil menjadi hamba Tuhan juga. Pdt. Royo tidak membatasi anaknya dalam menentukan pilihan hidup, namun selalu mengingatkan kepada anak-anaknya bahkan juga kepada anak-anak muda Baptis Indonesia, bahwa untuk menjadi pelayan Tuhan itu tidak sebatas hanya menanggapi panggilan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu. Melayani Tuhan dapat dikerjakan dengan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing kaum muda sesuai bidangnya.

Demikian juga harapan yang ditaruh terhadap Jehuda. Pdt. Royo memberi dukungan dan fasilitas bagi Jehuda untuk mengembangkan keahliannya dalam bermusik, namun juga selalu mengajak serta saat ada kesempatan untuk melayani Tuhan di manapun dan kapanpun.

Menurut Pdt. Royo, Jehuda adalah sosok anak yang unik yang memiliki gaya dan karakternya sendiri. Oleh sebab itu sang ayah tidak pernah mempersoalkan saat Jehuda memilih untuk memelihara gaya rambut yang sedikit gondrong berbeda dengan teman-teman sepergaulannya. Meski terkadang orang yang tidak mengenalnya akan sedikit memandang aneh karena model rambut Jehuda tidak terlalu lazim bagi sebagian besar pelajar sekolah menengah pertama di Indonesia.

Bukan hanya bermain musik saja, ternyata Jehuda memiliki cita-cita ingin menjadi komposer musik sesuai dengan kegemaran dan talenta yang ia miliki. Beberapa waktu lalu, ia dan kelompok bandnya sempat melakukan recording untuk lagu mereka.

Tidak Meninggalkan Prestasi Akademik

Meski Jehuda sangat berfokus dan menggunakan sebagian aktivitasnya untuk dunia musik, namun dirinya tak pernah sekali pun mengabaikan tugas dan kewajiban utamanya sebagai seorang pelajar di sekolah menengah pertama.

Pelajar kelas IX di Great Crystal International School Surabaya ini selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya, bahkan pada tahun ajaran 2017/2018 ia berhasil mendapatkan predikat sebagai siswa terbaik di sekolahnya. “Tahun kemarin saya mendapat prestasi sebagai siswa terbaik, puji Tuhan,” tuturnya.

Saat ditanya bagaimana bisa selalu meraih prestasi terbaik di sekolah, remaja yang juga gemar main bola basket itu sempat bingung. Menurutnya, selama ini dirinya justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain dan berlatih musik. “Tapi kadang-kadang juga belajar, hahaha,” akunya.

Atas pencapaiannya sebagai siswa berprestasi, surat kabar nasional yang berbasis di Surabaya, Jawa Pos, sempat meliput dan mewawancarai Jehuda.

Sebagai seorang siswa berprestasi, Jehuda tetap selalu rendah hati dan menikmati sekolahnya dengan seru dan asyik. Ia bergaul tanpa membeda-bedakan teman-temannya. Baginya, segala hal yang dapat ia raih adalah anugerah dari Tuhan dan tidak satupun yang perlu untuk disombongkan.

Jehuda menyisakan satu tahun lagi masa belajarnya di bangku sekolah menengah pertama. Selepas itu, ia memiliki keinginan untuk dapat melanjutkan pendidikan ke salah satu sekolah menengah atas terbaik di kota Surabaya yaitu SMA Negeri 2. Perjalanan hidup yang masih cukup panjang di masa mudanya, tak akan ia sia-siakan tanpa terus berprestasi dan meraih apa yang selama ini ia cita-citakan.

Mungkin, Jehuda dapat menjadi salah satu contoh dan teladan bagaimana remaja Baptis mampu berprestasi dalam bidangnya namun juga sangat memperhatikan sisi akademik yang menjadi tanggung jawab utama seorang remaja yang berstatus sebagai pelajar. Jehuda juga menjadi salah satu teladan sebagai seorang anak hamba Tuhan yang tidak mau terkurung dan terbatas dalam berkreasi dan berprestasi.

Penulis: Krisna

Editor: Andri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here