Profil Muda: Amos Ursia “REMAJA PELAHAP BUKU FILSAFAT”

0
146

Sangatlah jarang mendapati remaja umur 18 Tahun doyan membaca buku-buku serius. Amos Ursia adalah satu dari sedikit remaia seperti itu. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6 Bandung ini menyukai buku-buku filsafat, sastra dan sejarah. 

Kegemaran membaca ayahnya, Pdt. Martinus Ursia, menjadi salah satu pendorong Amos mencintai buku. lapun bercita-cita menjadi sejarawan, profesi yang juga jarang diangankan kebanyakan anak muda. 

“ldentitas diri saya juga kan adalah sejarah? Bagaimana mungkin saya bisa mengenal identitas diri saya dengan apa yang ada di sekitar saya, bangsa saya, daerah saya kalau saya tidak mempelajari sejarah dengan baik?” tukas Amos saat ditanya alasannya ingin menjadi seJarawan.

“Sejarah juga menolong saya untuk memahami Firman Tuhan dengan baik. Kalau saya tidak belajar sejarah, saya tidak akan tahu bagaimana situasi, kondisi bahkan keadaan saat Firman Tuhan itu ditulis. Jadi, satu-satunya cara untuk memahami dengan benar adalah saya harus belajar sejarah,” sambungnya.


Selain suka membaca buku-buku serius, Amos juga piawai memainkan sejumlah alat musik, di antara piano dan gitar. Bagi Amos, sejarah dan musik tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkait.

“Waduh… itu sih nggak bisa dipisahkan, soalnya musik dan sejarah punya titik temu, punya hubungan yang sangat erat menurut saya. Soalnya kalau saya dengerin lagu, saya jadinya nggak dengerin lagu seperti biasa tapi akhirnya mempelajari juga, ini penulis lagu waktu nulis lagunya kehidupannya kayak apa sih? Hidup di masa seperti apa atau kehidupan sosial pada masa itu seperti apa? ltu semua kan membentuk karyanya juga,” jelasnya kepada Juniati dan Kiki dari Suara Baptis (SB).

Amos juga sosok remaja yang kreatif. Bersama timnya dari SMA Negeri 6 Bandung, Amos meraih juara pertama lomba jingle (iklan dalam bentuk musik) bertemakan “Nilai Musik Tradisonal dan Pendidikan” Desember 2018 lalu. Lomba ini digagas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. 

Lomba diikuti 80 murid SMA yang terbagi dalam sejumlah tim mewakili sekolah masing-masing. Setiap peserta diaudisi dua kali sampai masuk grand final. Setelah selesai grand final, juri memutuskan hanya lima tim yang akan lanjut ke babak selanjutnya. Keputusan juri dalam memilih kelima tim untuk melaniutkan ke babak selanjutnya tentunva karena mereka memenuhi kriteria yang sudah ditentukan.

Berhasil membawa penghargaan sebagai pemenang tentunya tidak terlepas dari perjuangan gigih. Setiap tim harus bekerja ekstra keras karena harus menggabungkan beberapa alat musik tradisional maupun modern. Mereka harus memperhitungkan kriteria yang dipatok, misalnya harmonisasi, srtuktur lagu dan filosofi atau maknanya.

Sadar menjadi utusan yang mewakili sekolah, Amos dan tim serius dalam memadukan alat musik tradisional dan modern. Setiap hari setelah pulang sekolah, mereka berlatih selama dua minggu.

“Awal konsepnya di alat musik seperti gitar, trus nyobain latihan pake alat musik lain seperti gamelan karena menggunakan unsur musik tradional. Jadi harus ada pesan-pesan pendidikannya menggunakan identitas Jawa Barat, identitas musik tradisionalnya,” ungkap anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Baitlahim tersebut.

“Lombanya serius, jadi lumayan berat. Kami melakukan persiapan dua minggu, khusus untuk produksinya selama tujuh hari. Saya bersama tim dan juga guru seni musik, melakukan persiapan bersama-sama,” lanjutnya.

Bagaimana rasanya memenangkan lomba pembuatan jingle ini?

Seneng banget  dan tentunya bersyukur karena saya kan di sekolah negeri. Biasanya orang Kristen atau minirotas selalu kesorot, dia baik atau buruk kelakuannya, pasti kesorot. Dengan keberhasilan ini, membuktikan bahwa minoritas juga bisa,” jelas Amos.

Amos yang lahir dari pasangan Pdt. Martinus Ursia dan Mieke Darmawan 13 Oktober 2000, dikenal luwes dan mudah menyesuaikan diri. Remaja yang sikapnya dewasa ini ternyata sudah mengenal alat musik sejak umur 12 tahun.

“Dari usia 12 tahun, papa-mama ngelesin musik. Waktu itu, saya pertama les gitar sekitar empat tahun, terus lanjut gitar jazz sekitar dua-tiga tahun. Tapi sekarang lagi ngembangin ke musik lain,” ujarnya.

Tidak banyak orang yang bisa belajar piano secara otodidak. Namun Amos berhasil melakukannya dengan bantuan video-video dari YouTube.

“Sekarang kan sudah semakin canggih. Intinya mah, kemauan (belajar) kita ada atau tidak?” tandasnya. 

Sulung dua bersaudara ini terus berlatih alat musik. Setiap hari Amos menyisihkan waktu untuk berlatih memainkan alat musik, di antaranya yang ada di gereja. Dengan talenta yang dimiliki, ia pun giat dalam pelayamnan di gereja. Kesempatan terlibat dalam pelayanan di gereja membentuk kepribadian Amos dan menjadikannya belajar lebih banyak lagi tentang musik.

Meski anak seorang pendeta, Amos tidak menganggap dirinya harus mengikuti jejak ayahnya. Bagi Amos, pelayanan merupakan anugerah yang diberikan Tuhan di banyak bidang. 

Selain gemar bermain musik dan membaca, Amos juga hobi jalan-jalan. Saat liburan tiba, ia melancong ke berbagai tempat atau mendaki gunung di Jawa Barat, Tengah, bahkan Bali. 

Ketika mendaki gunung, Amos melakukannya bersama beberapa teman sesama pecinta alam. Namun pada saat jalan-jalan, ia lebih suka melakukan solo trip atau sendirian. Semua itu dilakukannya bukanlah sekadar ikut-ikutan sesuatu yang lagi ngetren atau hanya karena penasaran. Menurutnya, selain menarik, semua kegiatan itu menantang agar bisa belajar banyak hal.

“Kita nggak tahu sejauh mana kemampuan kita kalau hanya berdiam di zona nyaman. Tetapi kalau kita berani keluar dari zona nyaman, kita akan tahu banyak hal dan wawasan jauh lebih luas,” ucapnya.

Selain itu, Amos memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Salah satu contohnya, April 2018 lalu Amos tahu dirinya masuk dalam daftar penerima Kartu Indonesia Pintar (KlP) dari pemerintah. Ia lalu mendiskusikannya bersama orang tua. Amos merasa, lebih baik KIP tersebut disalurkan lagi kepada siswa yang tidak mampu.

“Itu kan subsidi pemerintah ya? Dan sasaran subsidinya buat orang-orang yang nggak mampu atau mereka yang nggak bisa melanjutkan pendidikan. Sementara saya berkecukupan, istilahnya Mama-Papa masih sanggup bayar SPP per bulan, masih bisa beli sepatu, seragam, buku,terus saya pikir kenapa saya harus terima itu? Itu bukan hak saya,” jelasnya.

Di akhir perbincangan, Amos mendorong kaum muda untuk menciptai apa yang mereka kerjakabn dengan sepenuh hati. “Yang pasti, lakuin apa yang kamu sukai. Kalau kita cinta ke sesuatu, pasti kita nggak akan setengah-setengah, baik itu hobi, pelayanan, atau apa pun. Intinya ya harus cinta sama bidang itu. Kalau kepaksa atau didesak atau terdesak, ya itu percuma, proses dan hasilnya kelihatan.”

Penulis : Juniati

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowopasti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here