Profil Muda: ADY, Dosen Teknik Nuklir yang Doyan Main PS

0
516

Sangat jarang ada orang muda yang terjun dalam dunia nuklir. Yanuar Ady Setiawan adalah salah satu dari sedikit anak muda itu. Ady demikian ia disapa, begitu terpikat mempelajari inti atom yang menghasilkan berbagai temuan penting seperti reaksi nuklir, reaktor nuklir, energi nuklir, bahan bakar nulir dan berbagai hal berkaitan dengan nuklir.

Sampai usia Sekolah Menengah Atas (SMA), Ady sebenarnya lebih tertarik bidang penerbangan. Kala itu ia mendapat arahan dari ayahnya yang seorang pilot. Ady pun berangan-angan masuk jurusan Teknik Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB). Sempat terlintas dipikiran, kalau saja ia menjadi pilot, akan langsung bekerja dan dapat uang.

“Namun takdir berkata lain. Tepat kelas 3 SMA, aku ada study tour ke Bandung. Nah, kami pergi ke LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Di sana mempelajari luar angkasa dan matahari,” tukas Ady kepada Aris dan Tiara dari Suara Baptis (SB).

05; Ady (paling kanan) saat menjadi dosen baru UGM, Februari 2019

“Kelihatannya menarik, nih. Terus, aku buat tugas makalah tentang matahari. Dari sanalah timbul spekulasi, kenapa matahari itu nggak habis-habis? Setelah aku pelajari lagi, ternyata di dalam matahari ada reaksi nuklir,” lanjutnya.

Mulai tertarik dengan dunia nuklir, Ady lalu mendaftar kuliah jurusan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Uniknya, malam menjelag ujian, ia sama sekali tidak menyentuh buku pelajaran. Ady malah pergi bermain saat itu.

“Nah… saat ngerjain soal ujian, aku ngerjain yang mudah dulu. Pertama Bahasa Indonesia sampai kemudian aku ngerjain Matematika. Baru saja ngerjain dua soal, bel bunyi (tanda waktu ujian hampir berakhir). Saat itu aku langsung isi asal-asalan. Dengan kejadian itu aku berserah kepada Tuhan, soalnya nggak mungkin bakal lulus.”

Ketika itu Ady berdoa, jika memang Tuhan menghendaki ia belajar teknik nuklir, biarlah Tuhan menempatkannya di sana.

“Tapi yang membuat aku kaget tuh saat Tuhan menjawab bahwa aku masuk ke UGM Teknik Nuklir!” ucapnya.

Masa kuliah Ady berjalan seperti biasa. Namun karena ia sangat aktif dalam berbagai organisasi, masa kuliah Adi mundur menjadi lima tahun. Meski begitu, bungsu dari tiga bersaudara ini tidak lantas risau.

Tahun ketiga di bangku kuliah, Ady bertemu banyak orang yang bertanya tentang  teknik. Dengan sigap, Ady menjelaskan hal-hal rumit tentang nuklir menjadi lebih sederhana. Sadar punya bakat untuk mengajar, Ady lalu tertarik menjadi dosen.

“Waktu di kereta api aku ketemu orang banyak dan mereka bertanya, apa sih teknik nuklir itu? Nah, dari sana aku sadar, kayaknya aku punya bakat buat mengajarkan hal yang rumit ini menjadi simpel,” ucap anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Gloria Kayen, Yogyakarta ini.

Tahun keempat kuliah, dosen pembimbing menyuruhnya mengulang beberapa mata kuliah supaya lulus cumlaude. Dan memang, Ady akhirnya lulus dengan predikat cumlaude.

Ketika Departemen Teknik Nuklir & Teknik Fisika UGM menjalin kerja sama dengan sebuah lembaga pendidikan dari Amerika, Ady menjadi salah satu orang yang dilibatkan. Dalam proyek yang terbilang baru ini, Ady mendapatkan topik skripsi yang materinya tidak pernah dipelajari di bangku kuliah.

Lulus tahun 2015, Ady mendapat dorongan dosen-dosennya untuk melanjutkan studi. Setelah mendaftarkan diri, tahun 2016 ia berhasil meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di Texas A&M University (TAMU) College Station, Amerika Serikat.

Meski begitu, Ady tak meninggalkan kegemarannya menikmati alam terbuka. Di Amerika, ia juga sempat menjelajahi banyak tempat eksotis. Bahkan ternyata Ady juga punya hobi seperti para pemuda kebanyakan.

“Ady hobinya baca, main PS (Play Station), nonton film, ngerakit action figure. Dia juga koleksi komik. Dulu bela-belain uang jajan ditabung buat beli komik. Pilih jalan kaki daripada naik angkot, (ongkos angkotnya) buat nambahin beli komik,” ungkap Yulia Megasari, kakak Ady.

Yuli juga membongkar kebiasaan nyeleneh adiknya. “Unik nih. Dulu kalau belajar itung-itungan (matematika, red.), dia sambil dengerin musik pakai headset, tangannya sambil ngedrum di drum pad. Pusing nggak tuh, liatnya?”

Yuli tertawa waktu menceritakan, bagaimana Ady sangat imajinatif waktu kecil.

“(Menurut) cerita Ibu, jaman TK atau SD, kalau pas di angkot, dia suka berimajinasi sendiri. Tahu-tahu ngomong sendiri, kayak lagi ngedongeng. Ibu diemin, liatin… Pas ditanya, ‘Emang nggak malu ngomong sendiri?’ ‘Enggak’, jawabnya.”

Soal kegemaran main PS ini, Ady mengakuinya. Namun belakangan ini sedang berhenti main. “Akhir-akhir ini udah nggak pernah sih, kaset game yang mau aku tamatin, ilang, hahaha….”

Lulus tahun 2018, Ady lantas mengajar di Fakultas Teknik UGM.

“Jadi dalam teknik nuklir, ada objeknya tapi tidak bisa dilihat, hanya bisa kita perhatikan dampak di sekitarnya. Melihatnya dari alat elektronik saja,” ungkapnya.

Ady, Ibu, dan Yuli

“Sewaktu masuk dalam bidang nuklir itu kan harus kuat dalam matematika. Di Indonesia sendiri pendidikannya lemah buat matematika, sedangkan aku, jaman SMA dulu lemah banget (di bidang matematika). Kebetulan guru yang nggak aku suka itu guru matematika! Nah, dari sana aku mulai ketinggalan. Sampai saat kuliah S1 dan S2, bahkan jadi dosen, aku mempelajari lagi matematika karena ada istilah-istilah yang aku nggak tahu,” sambungnya.

Tepat satu tahun masuk kuliah, sang ayah, Capt. Markus Suparno, berpulang. Banyak pengalaman yang diambil Ady dari kejadian itu.

“Papa itu tulang punggung keluarga. Kita ngerasain banget, kasih Tuhan waktu itu luar biasa. Momen yang selalu aku ingat itu saat papaku dimakamkan di Solo, banyak sekali orang yang datang dari berbagai kalangan. Ibuku juga nggak kerja. Sewaktu papaku dipanggil Tuhan, ibuku bingung mau ngapain,” ucap Ady.

Selesai upacara pemakaman ayahnya, belum ada batu nisan yang dipasang.

“Mbak Mega (Meganingrum, kakak sulung Ady, red.) ngomong kalau di nisan marmernya pengen dibuat ada bentuk gerejanya. Setelah dua-tiga hari setelahnya, keluargaku balik ke makamnya. Dan yang bikin kaget itu, ternyata sudah ada nisan yang ada bentuk gerejanya. Padahal waktu itu keluargaku nggak ada ngomong sama siapa pun. Itu yang membuat kita yakin, Tuhan tuh dengerin kita banget,” ungkap Ady.

Kasih Tuhan ternyata selalu menyertai mereka. Di saat sang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga dipanggil Tuhan, kebutuhan keluarga ini tetap Tuhan cukupkan. Mereka masih bisa bepergian dan membiayai kuliah Ady.

Masih teringat di benak pemuda yang doyan membaca ini, bagaimana ibunya, Endang Suwawi, memberi nasihat sebelum ayahnya meninggal dunia, “Kalau kamu selalu mengandalkan Tuhan, dan apa pun yang kamu kerjakan itu untuk Tuhan, materi atau yang lainnya itu Tuhan bakal kasih.”

Ady (belakang kanan) saat di Gunung Guadalupe, Texas

Ternyata nasihat itu memang terbukti.

“Akhir-akhir ini aku melakukan perpuluhan. Yang sebelumnya aku selalu merasakan kekurangan buat tabungan, buat kebutuhan lainnya, setelah melakukan perpuluhan, aku selalu tercukupi bahkan lebih banyak lagi berkat yang diberikan. Memang ya, Tuhan itu luar biasa. Dari sini kita tahu, Tuhan bekerja melalui tanda-tanda yang berada di sekitar kita dan itu luar biasa.” sambung Ady

Tahun lalu, Ady memilih hendak mengikuti sebuah konferensi di Austria daripada ikut acara Indonesia Baptist Youth Conference (IBYC) di Bandung. Tetapi Ady merasa, Tuhan berkehendak lain untuk sebuah tujuan.

“Saat IBYC kemarin aku mendapatkan teguran dari Tuhan. Awal mula ikut IBYC, aku nggak sadar akan temanya. Namun di hari kedua, aku sadar bahwa tema yang diambil kala itu merupakan ayat yang ada di kalungku, Filipi 1:21 (Karena bagiku hidup adalah Kristus   dan mati adalah keuntungan). Dan nggak hanya itu, sehari setelah IBYC kemarin, aku mulai baca renungan. Kubuka sembarangan dan yang kebuka itu ayat itu lagi. Nah, dari situ Tuhan itu seakan berbicara kepada aku bahwa dia sayang sama aku,” ucap Ady.

Ady berharap, kaum muda Baptis tidak malu-malu berekspresi.

“Jangan malu buat joget di depan. Pada akhirnya senior-senior bakal lulus. Kalau nggak ada yang berinisiasi buat seru-seruan kayak IBYC kemarin, kalau bukan kalian, ya… siapa lagi? Kalian sudah dapat referensi dari IBYC kemarin. Yang baik diambil, dan yang nggak baik nggak usah diikutin,” pesannya.

 

Penulis: Aris Santoso

Editor: prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here