POJOK SM – OMA YANG JATUH CINTA DENGAN SEKOLAH MINGGU….

0
92

Dikenal dengan nama Oma Melli, ia lahir Dpada 10 Desember 1935. Jadi, usianya sekarang 85 tahun.

Waktu anak-anak Oma Melli masih kecil,mereka diajak sepupu-sepupunya ikut Sekolah Minggu di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran, Jakarta. Oma Melli sudah mengenal gereja ini melalui anak-anak mereka. Beberapa kali bahkan ia dan suaminya menghadiri kebaktian di sini.

Ketika suaminya meninggal, Pdt. Julianus Tarapa (sekarang mantan Gembala Sidang GBI
Kebayoran, red.) melayani keluarga ini. Pdt. Julianus memimpin upacara penguburan. Setiap
Natal, suami Oma Melli akan memfoto anakanaknya sebelum mereka berangkat ke gereja.

Oma Melli adalah seorang wanita yang giat bekerja. Tak pernah bisa diam. Selalu ada yang
dikerjakannya. Ia menjahit sendiri baju anakanaknya. Ia juga mengerjakan pekerjaan rumah
sendiri.

Rumah Oma Melli berlantai tiga. Dengan cekatan, walau ketika itu usianya sudah 84, ia
bisa naik dari lantai satu ke lantai tiga. Cuci baju di lantai dua, jemur baju di lantai tiga, memasak di lantai satu. Semua dikerjakannya sendiri.

Setelah suaminya meninggal, dan disusul anjing kesayangan mereka, Oma Melli kesepian.
Anak dan tetangga mereka menyarankan Oma Melli ke gereja saja. Maka pada suatu Minggu
sore di bulan Agustus, Oma Melli ke gereja diantar sopir.

Untuk menemani Oma Melli, Acen, anaknya yang bungsu, membelikan seekor anjing jenis
Shitzu yang dinamainya Max. Oma Melli sangat sayang kepada Max, dan sebaliknya. Max selalu ingin dekat dengan Oma Melli, apalagi jika hujan karena ia takut bunyi petir.

Pada suatu hari, Ibu Henny Theorupun dan Ibu Hetty, dua guru Sekolah Minggu Dewasa,
mengunjungi Oma Melli dan mengundangnya ikut Sekolah Minggu. Oma Melli menyambut
undangan kedua ibu itu. Oma Melli hadir di Sekolah Minggu dan sejak itu, ia menjadi pengunjung yang setia.

Tak lama kemudian, Oma Melli maju di tengah kebaktian, menyatakan imannya kepada
Tuhan Yesus. Ia mengikuti kelas persiapan baptisan yang diajar Ibu Julia Tarapa dan
dibaptiskan pada 21 Mei 1998.

Guru kelasnya waktu itu Ibu Henny Theorupun. Oma Melli sangat mengidolakan Ibu
Henny. Demikian juga dengan Ibu Julia Tarapa sebagai ibu gembala sidangnya waktu itu.

Ibu Lily Rustandi dan Ibu Yuli Purwanti adalah guru-guru Sekolah Minggunya sekarang. Ia
sering menceritakan pengajaran mereka kepada A Chin, anak perempuannya yang sering
menemani Oma Melli di rumah.

Selain sakit, Oma Melli tak pernah absen dari Sekolah Minggu. Walau bahasa Indonesianya
terbatas (sejak kecil ia berbahasa Tionghoa), Oma Melli berusaha membaca Alkitab dalam
bahasa Indonesia.

Di rumah pun ia membaca Alkitab. Ia berdoa dengan bersuara dan percaya bahwa Tuhan
mendengar doanya. Ia senang berada di kelas dengan ibu-ibu seusianya.

Oma Melli adalah wanita yang ramah kepada setiap orang yang hadir dan ditemuinya di gereja. Ia juga murah hati. Setiap Natal, Oma Melli akan menyiapkan hadiah untuk para karyawan gereja dan teman-temannya di kelas

Menjelang Natal, ia mengajak A Chin ke pusat perbelanjaan untuk membeli kemeja. Hari
itu ia membeli sebanyak dua kantong besar. Jadi, A Chinlah yang menenteng dua kantong itu. Dan karena itu ia tak bisa menggandeng ibunya.

Waktu harus menaiki anak tangga di pusat perbelanjaan itu, Oma Melli terjatuh. Untung ia tidak cedera.

A Chin berkata, ia melihat ibunya seperti kapas melayang dan tergeletak di bawah. Hatinya
pun serasa ikut melayang.

Oma Melli berkali-kali jatuh. Walaupun demikian, ia tetap aktif. Ia seseorang yang tidak bisa diam. Apa saja dikerjakannya.

Walaupun tidak ada mobil lagi untuk mengantarnya ke gereja, tidak menghalangi Oma Melli tetap hadir di Sekolah Minggu dan ibadah. Dan tepat waktu pula. Biasanya, ialah yang
pertama hadir di kelas. Ia naik bajaj. Hampir selalu sendiri. Terkadang anaknya menjemput.
Tetapi biasanya ia datang sendiri dan pulang sendiri. Kalau melihat kartu presensinya, tak ada
kolom yang kosong.

Tanggal 22 Januari 2019 adalah hari yang tak akan dilupakan Oma Melli. Ia jatuh dan kali ini
parah akibatnya. Awalnya, Oma Melli mendapat kalender baru yang ingin dipasangnya di lantai
dua. Sebenarnya siang itu ia sudah letih tetapi tidak dihiraukannya. Yang penting kalender harus dipasang dulu baru ia akan tidur.

Ketika sudah menggantungkan kalender itu, Oma Melli melangkah ke belakang dan mengenai Max, yang sedang ketakutan karena hujan hampir turun. Oma Melli hendak menghindar agar tidak menginjak Max, tetapi ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

A Chin yang berada di lantai bawah mendengar bunyi gedebuk. Ia lari ke atas dan mendapati ibunya sudah tergeletak, tak mampu bergerak. Tulang pahanya patah.

Oma Melli harus dioperasi, dipasang pen di tulang pahanya. Maka, ia harus berbaring di rumah sakit selama 26 hari. Ia harus menjalani terapi yang amat menyakitkan.

Ia sedih sekali. Bukan hanya karena merasa  kesakitan, tetapi terlebih karena tak bisa ke Sekolah Minggu dan kebaktian.

Walaupun teman-teman dan guru-guru Sekolah Minggunya sering menjenguk, baik di rumah sakit maupun di rumah, Oma Melli tetap merasa kehilangan. Ia merindukan persekutuan
ber sama teman-temannya seus ia dan mendengar pengajaran Firman Allah.

Di rumah sakit, Oma Melli memakai syal yang diberikan Ibu Lily sebagai tanda penghargaan atas kesetiaannya hadir di Sekolah Minggu. Setiap orang yang mengunjungi akan mendengar keluhannya karena tidak bisa ke Sekolah Minggu. Kadang-kadang kesal dan berkata siap mati. Ia tidak takut mati. Ia sudah percaya Yesus. Ia pasti masuk surga.

Keluar dari rumah sakit, Oma Melli belum boleh berjalan dan belum bisa berjalan. Ia tidak bisa kembali ke rumah sendirian karena tinggal di lantai dua. Karena itu Oma Melli tinggal di rumah Asan, puteranya.

Ini adalah hari-hari yang menyiksa Oma Melli sebab ia belum boleh berjalan. Ia tidak bisa melakukan kegiatan apa pun. Ia sudah tidak sabar ingin kembali ke rumah.

Setelah tiga bulan tinggal di rumah Asan, Oma Melli kembali ke rumahnya. Ia juga belum boleh menapakkan telapak kakinya. Karena itu Oma Melli harus memakai kursi roda atau walker.

Oma Melli makin tidak sabar. Ia mau ke gereja. Tetapi ada masalah baginya untuk turun
dari lantai dua ke lantai satu. Ia perlu digendong. Kalau tidak, bagaimana ia menuruni anak tangga itu? Tentunya A Chin sendiri tidak kuat menggendong mamanya

Dan Oma Melli menjadi frustrasi. Di rumah dengan kursi roda ia sudah bisa melakukan kegiatannya sehari-hari. Tetapi untuk ke Sekolah Minggu?

Berulang-ulangia minta anaknya membawanya ke gereja. Tetapi anak-anaknya menolak karena kaki Oma Melli belum pulih benar. Ini juga membuat anak-anaknya jengkel karena mereka mengkhawatirkan kakinya, tetapi juga membuat Oma Melli kesal.

Natal sudah mendekat. Kaum ibu kelompok Naomi (janda-janda) mengunjungi Oma Melli dan
mengundangnya hadir di Natal Naomi yang jatuh pada 6 Desember. Dan Oma Melli menandai
tanggal itu di kalendernya. Ia sudah menetapkan hati untuk hadir. Dalam hatinya is berkata, ”Saya bisa, saya bisa!”

Pak Danu, fisioterapisnya mengajarkan Oma Melli bagaimana turun dan naik tangga. Pak Danu
dengan hati-hati memberi kebebasan bergerak setahap demi setahap kepada Oma Melli, yang
maunya berlari saja.

Minggu 1 Desember 2019 adalah hari ketika Oma Melli menunjukkan tekadnya untuk bisa
berjalan dan hadir dalam ibadah. Asan mengantar mamanya. Ia tidak mau ditemani pembantu. Di gereja ada banyak teman yang akan menolongnya, kata Oma Melli.

Kehadiran Oma Melli mengejutkan kami, terutama teman-teman sekelasnya. Ia disambut
dengan penuh sukacita. Banyak kecupan baginya. Betapa bahagianya Oma Melli berkumpul kembali dengan teman-temannya. Wajahnya begitu gembira. Dan ia menjelaskan bagaimana menuruni anak tangga di rumah tanpa harus digendong.

Selanjutnya setiap hari Minggu, Oma Melli hadir di Sekolah Minggu dan kebaktian. Gerakannya melambat tetapi kehadirannya tidak terlambat. Ia hanya menyiapkan diri lebih awal daripada sebelum sakit.

Natal Naomi 6 Desember 2019 seakan bertambah lengkap dengan kehadiran Oma Melli. Masih tetap bersemangat dengan wajahnya yang ceria, ia mengikuti acaranya dari awal hingga akhir.

Dan sesudah itu setiap hari Minggu, Oma Melli pasti ada di kelas Sekolah Minggu dan kebaktian. Itulah yang menjadi kecintaannya.

*)Penulis adalah pemerhati Sekolah Minggu,
anggota GBI Kebayoran, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here