(Pojok Sekolah Minggu) TELADAN GURU DIMULAI DARI RUMAH Part 1

0
436

Tanggal 6 September 1969 atau 50 tahun silam, Pdt. Julianus Evert Tarapa mempersunting Julia Kurniadi. Eveline Kurniadi, adik Julia memberi kesaksian bagaimana Pdt. Julianus Tarapa berkenalan dengan keluarga mereka. Saat itu Julianus yang belum ditahbiskan sebagai pendeta, berkunjung ke tetangga keluarga Kurniadi yang sudah Kristen.

Julianus ketika itu melayani Gereja Baptis (GB) Baitlahim Cabang Tegallega (sekarang Gereja Baptis Indonesia/GBI Efrata) Bandung. Julianus diterima baik oleh keluarga Kurniadi. Julia sendiri sudah menghadiri Sekolah Minggu di GB Baitlahim Cabang Tegallega. Di kemudian hari seluruh anggota keluarga Kurniadi menjadi anggota gereja itu.

Julianus kemudian ditahbiskan sebagai pendeta di GB Efrata Bandung 1 September 1968 bersamaan dengan pemandirian gereja tersebut. Dari kedekatan dengan keluarga Kurniadi dan pelayanan bersama, terjalinlah tali kasih antara Pdt. Julianus dengan Julia. Demi menjaga agar hubungan mereka tidak menjadi batu sandungan bagi anggota-anggota gereja, mereka lalu menjalin hubungan jarak jauh. Julia lantas belajar pelayanan ke Rumah Sakit Baptis Kediri. Empat bulan kemudian, keduanya merasa, akan lebih menolong bagi kehidupan pernikahan mereka kelak bila Julia masuk Seminari Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Maka, Julia pun masuk STBI meski hanya 2 semester.

 

Awal Maret 1969 Pdt. Julianus mulai menggembalakan GB Kebayoran Jakarta. Julia kembali ke Bandung dan pada 2 Juli 1969 mereka bertunangan. Tanggal 6 September 1969 mereka mengucapkan janji pernikahan di GB Efrata dalam ibadah yang dipimpin Pdt. Frank Lewis, utusan Injil Konvensi Baptis Selatan. Enam hari kemudian, Pdt. Julianus memboyong Julia ke GB Kebayoran.

Pertama-tama Julia mengikuti Sekolah Minggu di Kebayoran. Ada guru-guru yang mengajar dari bagian Indria sampai Pemuda. Berbekal pengalaman mengajar di GB Efrata, mereka membuka kelas orang dewasa dengan Pdt. Julianus sebagai guru.

Setelah kelas itu berkembang, dibagilah kelas itu menjadi kelas Dewasa Pria dan Dewasa Wanita. Dua kelas itu juga diberkati sehingga menjadi beberapa kelas. Belakangan, kelas dewasa dibagi pula menjadi Dewasa II, yaitu mereka yang sudah menikah hingga berusia 50 tahun. Sementara yang berusia di atas 50 tahun belajar di bagian Dewasa I yang terdiri dari 5 kelas pria, 7 kelas wanita dan 1 kelas berbahasa Inggris. Selain itu ada juga kelas-kelas untuk Indria, Pratama, Madya, Tunas Muda, Muda Remaja, dan Pemuda. Hadir rata-rata Sekolah Minggu adalah 360 orang.

Pdt. Julianus sangat menganggap penting Sekolah Minggu dan terlibat dalam usaha mengembangkannya. Ia yakin, dengan berkembangnya Sekolah Minggu, gereja juga akan berkembang. Kehadiran ibadah akan meningkat. Seringkali guru-guru Sekolah Minggu dari gereja-gereja lain mengadakan studi banding ke GBI Kebayoran.

Mungkin GBI Kebayoran adalah gereja Baptis yang pertama-tama membuka kelas untuk bayi yang baru lahir hingga usia 3 tahun. Kelas ini disebut Kelas Asuhan. Saat ini ada rata-rata 20 anak asuhan setiap Minggu. Setiap golongan usia mendapat perhatian dalam Sekolah Minggu.

Julia Tarapa adalah guru Sekolah Minggu yang pandai mengajar, begitu kesaksian anggota gereja, Henny Theorupun. Henny mula-mula belajar di kelas Julia namun kemudian diminta mengajar sebuah kelas dewasa. Henny agak enggan. Bukan karena tak mau melayani, tetapi ia tidak ingin meninggalkan kelas Julia untuk mendengar pengajarannya.

Saat ini pun Julia masih mengajar satu kelas Dewasa Wanita dan Pdt. Julianus memegang satu kelas Dewasa Pria. Ia pernah menjadi ketua umum Sekolah Minggu dan ketua Bagian Dewasa I. Julia juga suka melayani kelas anak-anak.

Keluarga Tarapa adalah keluarga yang melayani di Sekolah Minggu. Daniel, salah satu anak Pdt. Julianus, adalah guru kelas Kaum Muda. Demikian pula istrinya, Dahlia yang juga pernah menjadi ketua umum Sekolah Minggu selama dua tahun. Pdt. Julianus juga memprakarsai adanya pelajaran Alkitab awal tahun untuk jemaat dan khususnya guru-guru Sekolah Minggu. Tujuannya, agar mereka bisa mendalami satu buku dari Firman Tuhan selama tiga hari.

Sebagai guru Sekolah Minggu, terlebih lagi sebagai istri pendeta, Julia berketetapan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik. Rumah tangga yang baik ialah rumah tangga yang keadaan ekonominya diatur dengan baik. Sebagai istri dan pengelola rumah tangga, ia harus menjaga agar pengeluaran tidak lebih besar pasak daripada tiang. Jadi, berapa pun pendapatannya, itu harus dicukupkan untuk membiayai semua keperluan pokok rumah tangga.

Nomor satu adalah persepuluhan. Itu harus diutamakan. Karena begitulah firman Tuhan. Yang 90 persen lagi diatur dengan bijaksana. Jadi harus berhemat. Untuk itu Julia menjahit sendiri baju untuk dirinya dan anak-anak. Ia menggunting rambut mereka dan memasak untuk keluarga (Julia pandai memasak). Ia berusaha menyisihkan sejumlah uang untuk keperluan mendadak atau untuk membantu orang yang memerlukan.

Baca part 2nya Link Di bawah ini:

(Pojok Sekolah Minggu) TELADAN GURU DIMULAI DARI RUMAH Part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here