PINDAH PELAYANAN BAPAK PENDETA “MENOLAK ANGGAPAN TIDAK SETIA”

0
353

Pindah pelayanan, mengundurkan diri dari penggembalaan, dan keputusan meninggalkan pelayanan yang lama bukanlah perkara mudah. Masing-masing pendeta mempunyai pergumulan sendiri. Banyak hal yang perlu dipergumulkan dengan Tuhan dan keluarga. Begitulah kesaksian beberapa pendeta yang berhasil diwawancarai tim Suara Baptis (SB).

Sejumlah pendeta mengungkapkan, banyak anggapan bahwa pendeta yang pindah pelayanan, tidak mengalami pergumulan. Bahkan banyak yang menyangkanya sebagai tidak setia atau tidak tekun dalam pelayanan. Penilaian seperti ini bukan hanya muncul dari
anggota jemaat, tetapi juga dari kalangan pendeta sendiri.

Namun , bagaimana sejatinya pergumulan yang dialami para pendeta saat terdorong untuk pindah pelayanan?

Pdt. Budi Kasmanto yang sekarang melayani di Gereja Baptis Anugerah Indonesia (GBAI) Jemaat Pemulihan Manokwari, Provinsi Papua Barat, mengakui, selama dua sampai tiga tahun selalu bergumul sebelum memutuskan pindah pelayanan. Sebelumnya, pria kelahiran Solo, Jawa Tengah 20 Oktober 1954 tersebut melayani sebagai Utusan Injil GBI Kalvari Denpasar di Badan Pembinaan Warga (BPW) Pancasari, Singaraja Bali.

“Istri saya seorang pekerja, penjahitlah, begitu. Penjahit yang cukup sibuk dan dia di Denpasar,” ungkap ayah dua anak ini.

Sempat terlintas dalam pikirannya, jika Tuhan memanggil ke Manokwari, dia tidak akan memaksa istri untuk ikut pindah. Pdt. Budi berharap, Tuhan sendiri yang akan menggerakan istrinya agar ikut pindah dengan kesadaran sendiri.

“Dan akhirnya kami bergumulkan dua-tiga tahunan, istri baru bisa bilang ‘oke’ begitu, siap sedia untuk pergi ke Manokwari,” ungkap Pdt. Budi Kasmanto.

Suami Ni Made Merti ini ingin menerapkan keyakinan dan pesan Baptis di jemaat yang baru. “Di sini saya terbeban agar umat Baptis yang tergabung dalam denominasi GBAI, diberkati dengan informasi yang dimuat dalam Suara Baptis. Sebaliknya, GBAI juga dapat dikenal oleh umat Baptis melalui beritaberita tentangnya yang dimuat di majalah ini.”

GBAI adalah salah satu denominasi Baptis yang tergabung dalam Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) termasuk Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI). GBAI dirintis Badan Zending Belanda, Doopqezind de Kerk. Gereja ini menyebar di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Sorong, Papua Barat.

“GBAI yang lebih muda akan memperoleh lebih banyak kesempatan
untuk belajar dari ‘sang kakak’ (GGBI, red.). Bukankah salah satu motto
Suara Baptis adalah ‘Merekatkan’? Tentu saja tidak hanya merekatkan
hubungan kekeluargaan antargereja Baptis yang tergabung dalam GGBI,
tetapi dengan umat Baptis lain yang ada di Indonesia,” lanjut pria
berpembawaan kalem ini.

Uniknya, satu lagi hamba Tuhan yang juga bernama “Budi” pun
pindah pelayanan dari denominasi GGBI ke GBAI. Mantan dosen Sekolah Tinggi Teologi Baptis Bandung (STTBB) Pdt. Aryanto  Budiono memenuhi panggilan sebagai Asisten Gembala Sidang GBAI Cabang Serui, Papua Barat Juli 2020 lalu.

Sebelum pindah ke Bandung, Pdt. Budi pernah 6 tahunan menggembalakan GBI Depok, Jawa Barat. Ia juga pernah melayani 11 tahun di GBI Kalibeji, Salatiga, Jawa Tengah.

Sejak setahun terakhir, Pdt. Budi dan keluarganya berdoa untuk sebuah panggilan pelayanan penggembalaan. Meski berkali-kali berkhotbah di sejumlah gereja Baptis yang tidak bergembala sidang, hingga setengah tahun kemudian, tidak ada gereja yang  memanggil Pdt. Budi.

Karena lama tidak ada panggilan pelayanan, Pdt. Budi berdoa, ia akan melayani gereja yang pertama kali mengirim surat panggilan kepadanya. Entah itu gereja besar atau kecil, entah di kota atau desa.

“Nah seiring perjalanan waktu, kami diundang untuk menengok pelayanan perintisan di Papua, yang baru setahun dirintis. Sebelum kami ke sini, saya tidak mau untuk hanya survei. Saya bilang, kalau saya ke sana, saya harus pasti ke sana. (Maka), kami harus  berdoa dulu supaya kami bukan sekadar jalan-jalan, karena ke Papua butuh biaya besar,” ungkap Pdt. Budi.

Bersama istrinya yang juga diundang menemani dalam kunjungan pertama ke Serui, Pdt. Budi mendoakan pelayanan tersebut. Kedua siap pindah ke Papua bila nanti GBAI  mengirimkan surat resmi.

“Ketika sudah pelayanan ke Papua sini, hati kami terpincut dengan situasi Papua dan sebagainya,” ucap Pdt. Budi.

Namun begitu, berbulan-bulan kemudian, belum datang juga surat resmi pemanggilannya. Sampai kemudian datang pandemi Covid-19.

Juni 2020, datanglah surat pemanggilan tersebut. Sesudah anakanak menyatakan  kesiapannya untuk pindah, Pdt. Budi menjawab permintaan pelayanan penggembalaan tersebut.

Sementara Pdt. Noto Sumarto yang pindah dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sahabat, Kediri Jawa Timur ke GBI Cisauk, Tangerang sejak Februari 2020 mengakui, dirinya  memiliki tiga pergumulan dengan pergumulan keluarga sebagai masalah utama.

“Kalau Tuhan mau, Tuhan satukan kami di satu tempat, satu wilayah agar bisa terjangkau,” kata Pdt. Noto mengulang pokok doanya sebelum pindah ke Cisauk. “Nah, yang terjawab dulu itu (pergumulan pertama, red.), anak saya yang (kuliah) di UPH (Universitas Pelita Harapan, Tangerang).”

Soal pergumulan kedua, anak sulungnya kala itu melamar pekerjaan di Yogyakarta. Namun Tuhan punya rencana lain, ujian ternyata dilaksanakan di Jakarta. Dan saat ini ia sudah bekerja di Jakarta.

Pergumulan ketiga, dengan anakanak yang sudah tinggal di Jakarta, Pdt. Noto merasa khawatir karena panggilan untuk menggembalakan GBI Cisauk baru sebatas panggilan lisan. “Sampai akhirnya ketika kami berdoa, kami tunggu-tunggu, jemaat di Cisauk kok  belum panggil resmi?” ungkapnya.

Akhirnya, ketiga pokok pergumulan Pdt. Noto pun digenapi begitu datang panggilan resmi untuk melayani di Cisauk.

Dikatakannya, selain dari keluarga, dorongan untuk pindah pelayanan adalah visi misi yang selama ini dijalankan di GBI Sahabat, sudah komplet dan tergenapi. Hal ini menyakinkan Pdt. Noto untuk melayani di tempat yang baru.

Asisten Gembala, Orang Kedua di Gereja
Keputusan melayani di gereja baru juga diambil Pdm. Febbi Timotius Hutabarat. Sejak10 Juni 2020 lalu, mantan Gembala Sidang GBI Kartasura, Jawa Tengah ini melayani sebagai Asisten Gembala Sidang GBI Grogol Jakarta. Dikatakannya, setiap panggilan memiliki pergumulan pribadi dengan Tuhan.

“Kita tidak bisa menilai bahwa orang yang pindah tempat pelayanan di tempat kecil, itu baru panggilan atau juga bisa keluar dari zona nyaman. Tetapi kebalikannya, ketika orang pindah dari desa ke kota (dianggap bukan panggilan). Bagi saya, terlalu terburu-buru untuk memberikan penilaian (seperti) itu. Sama seperti (anggapan), kalau orang makin susah, itu makin beriman, kan enggak juga?” ungkap ayah seorang anak ini.

Dilanjutkannya, dorongan pindah pelayanan ke Jakarta itu didapat berdasarkan banyak konfirmasi dari hal-hal kecil. Keputusan pindah pelayanan tersebut ditegaskan lebih dulu dengan Tuhan melalui Alkitab, buku, pendapat beberapa orang, hingga akhirnya mengambil keputusan.

Misalnya, ketika menerima permintaan melayani sebagai asisten gembala sidang di  Gorogol, Jakarta, Pdm. Febbi lantas mengajak istrinya bicara. “Saya bilang, selama ini di
Kartasura, saya pengambil keputusan pertama dan utama dalam semua hal di dalam gereja. Tapi nanti ketika kita datang di Grogol, posisi itu tidak lagi, karena saya perlu menyelaraskan dengan panggilan yang saya terima sebagai asisten gembala sidang.”

Tanpa diduga, sesudah itu Pdm. Febbi mendapati sebuah kalimat unik dalam buku Sang Pebuat Murid karangan Bill Hull tentang posisi “orang kedua” dalam gereja. Bill Hull menulis, posisi kedua adalah instrumen yang sulit untuk dimainkan, tetapi ini adalah musik yang indah bagi telinga Allah ketika dimainkan dengan dedikasi dan kerendahan hati.

Seketika, kalimat tersebut menyentakkan hati Pdm. Febbi. “Nah, saya langsung (tersentak), padahal saya lagi ngobrol sama istri saya soal itu! Lalu, saya (lanjutkan) baca buku itu (lalu menyimpulkan berkaitan dengan panggilan pelayanan di Jakarta), ‘Oh, oke, ini maksudnya’.”

Di GBI Grogol Jakarta, Pdm. Febbi tergerak untuk melayani kaum muda yang menurutnya, sedang terhilang di banyak gereja. Pindah penggembalaan juga diputuskan Pdm. Bachtiar AriWicaksono Agustus 2020 lalu. Pdm. Bachtiar yang sudah lebih dari lima tahun menggembalakan GBI Batu Zaman Cabang Ciparay, Jawa Barat,  diundang GBI Bukit Penghrapan Kediri, Jawa Timur untuk berkhotbah dalam perayaan Natal tahun lalu. Sudah bertahun-tahun gereja ini tidak memiliki gembala sidang.

Dua minggu kemudian, Pdm. Bachtiar menerima surat permintaan menggembalakan GBI Bukit Pengharapan. Isi surat ini juga ia doakan bersama beberapa hamba Tuhan senior termasuk gembala sidang gereja induk, Pdt. Raymond Lattupeirissa.

“Saya juga berdoa secara sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang memang saya doakan. Misalkan Tuhan izinkan saya berangkat untuk melayani di gereja yang telah memanggil saya, berarti Tuhan akan menyediakan caranya. Saya juga bicara, Tuhan juga akan menunjukkan perkara-perkara yang akhirnya memang meneguhkan hati saya, seandainya saya benar-benar terpanggil untuk hadir atau menyambut pelayanan di Gereja Bukit Pengharapan,” kata Pdm. Bachtiar kepada Yohanes Aris Santoso dari Suara Baptis.

Pria asal Tulungagung, Jawa Timur tersebut merasa , masa pelayanannya di Ciparay sudah cukup.

“Sejak awal ketika datang, sesuai dengan doa saya, saya akan lima tahun di Ciparay. Bahkan ternyata Tuhan kasih lebih, 5 tahun lebih 9 bulan, jadi sudah mau 6 tahun, kan? Jadi, memang sesuai dengan doa saya ketika datang di Ciparay,” ungkapnya. “Memang,  sesulitsulitnya pelayanan, lebih sulit meninggalkan pelayanan. Tidak mudah meninggalkan sebuah pelayanan ini.”

Lalu, mengapa seorang hamba Tuhan pindah pelayanan?

Terhadap pertanyaan ini, Pdt. Aryanto Budiono mengatakan, masing-masing pendeta memiliki pergumulan sendiri. “Mengapa dia memutuskan untuk berhenti? Itu tidak bisa kita judgement (menilai) bahwa dia tidak setia, bahwa dia tidak tekun dalam pelayanan, karena
pergumulannya kita tidak tahu, kan? (Pergumulan doa) di ruang-ruang tertutup di keluarga, itu kan tidak ada yang tahu?”

Pdm. Febbi juga mengatakan, tidak bisa menilai seseorang pindah pelayanan hanya dari ukuran loyalitas. “Pendeta Baptis adalah pendetanya orang-orang Baptis, denominasi Baptis khusus GGBI. Jadi, saya adalah milik umat. Pendeta Baptis itu milik umat. Ketika Allah menempatkan saya di tempat tertentu, di gereja Baptis yang lain, itu tetap bagian dari umat Tuhan,” ujar Pdm. Febbi mengakhiri percakapan.

Penulis: Yohanes Aris Santoso
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here