Percik Iman – Sembuh dari Covid-19, TAK PERNAH SENDIRI MESKI DI RUANG ISOLASI

0
249

Awal Maret 2020, kasus Covid-19 baru mulai merebak di beberapa kota di Indonesia. Namun begitu, aktivitas masyarakat masih berjalan seperti biasa.

Selasa 10 Maret 2020, berdua dengan rekan kantor, saya melakukan perjalanan dinas ke Jawa Tengah dengan pesawat terbang. Semua berjalan seperti biasa. Pada malam harinya, Kamis 12 Maret, di Solo saya mulai merasa kurang enak badan.

Jumat pagi kami ke Yogyakarta dan saya mulai demam, nafsu makan berkurang dan badan
lemas. Malam harinya, kami kembali ke Jakarta. Saat itu saya demam tetapi belum ada pemeriksaan suhu tubuh di bandara. Itu sebabnya saya bisa pulang ke Jakarta.

Sesampainya di rumah sekitar pukul 9 malam, saya langsung istirahat dan tidur sendiri di kamar terpisah. Besoknya, Sabtu, saya ke rumah sakit dengan istri. Saya disarankan melakukan tes darah hari berikutnya. Pada hari Minggu, saya mencoba melakukan pemeriksaan di rumah sakit lainnya. Namun saat diperiksa suhu badan normal sehingga saya disuruh pulang. Padahal saat itu saya merasa lemas, suhu badan naik turun, kepala
dan badan mulai sakit.

Senin, saya kembali melakukan pemeriksaan melalui faskes (fasilitas kesehatan) 1, kemudian dilakukan pemeriksaan darah pada hari Selasa. Hasilnya, trombosit rendah. Namun untuk memastikan lagi, saya diminta kembali melakukan tes darah esok harinya. Dan ternyata hasilnya tetap sama, trombosit saya rendah. Itu sebabnya dokter mencurigai saya terkena demam berdarah atau typhus. Dokter pun memberikan rujukan ke Rumah sakit (RS) Yadika Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter penyakit dalam.

Kamis 19 Maret berbekal surat rujukan tersebut, dengan diantar istri, saya pergi ke RS Yadika. Keadaan saya saat itu sudah sangat lemas, kepala dan badan sakit sekali, batuk sedikit dan mulai sesak napas. Saat sedang antre dokter penyakit dalam itulah, perawat memperhatikan kondisi saya yang mulai sesak napas. Ia langsung memindahkan saya ke ruang instalasi gawat darurat (IGD).

Dokter yang berjaga di ruang IGD langsung melakukan tindakan rontgen toraks dan pemeriksaan darah lengkap. Dari sinilah kelihatan di paru-paru saya ada infeksi dan
sudah cukup parah. Dan dokter mencurigai ada kemungkinan saya terserang Covid-19, namun memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikannya.

Saat itu kedua dokter IGD langsung bertindak cepat. Mereka segera menutup ruang IGD, memindahkan semua pasien IGD ke ruang lainnya, serta memakai alat pelindung diri (APD) yang baru seadanya saat itu. Segera ruang IGD berubah menjadi ruang isolasi dan saya resmi menyandang status suspect covid-19 atau istilahnya pasien dalam
pengawasan (PDP). Pihak RS Yadika harus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta untuk pengambilan sampel PCR (swab) dan pencarian rumah sakit rujukan Covid-19. Tetapi saat itu semua ICU rumah sakit rujukan Covid-19 sudah penuh.  Walaupun demikian, RS Yadika tetap merawat saya semaksimal mungkin. Rumah sakit ini juga terus berusaha mencarikan rumah sakit rujukan Covid-19 yang dilengkapi dengan ICU untuk merawat saya yang dalam kondisi kritis saat itu.

Hari Jumat, petugas medis dari Puskesmas yang ditunjuk, datang mengambil sampel untuk PCR (swab). Namun belum ada kejelasan rumah sakit rujukan Covid-19 yang dapat menerima saya. Pihak keluarga juga berusaha mencari dengan berbagai cara. Sampai akhirnya hari Jumat malam, kakak ipar saya yang dibantu sepupu, mendapatkan ruang ICU di RS Siloam Kelapa Dua, Tangerang, yang baru saja diubah dari RS umum menjadi RS Khusus Covid-19.

RS Yadika terus menghubungi dinas kesehatan untuk mencarikan ambulans khusus bagi saya.

Akhirnya, Sabtu tengah malam, saya dipindahkan ke RS Siloam Kelapa Dua.
Sesampainya di Siloam, saya langsung masuk ke ruang ICU. Dokter yang

menerima saya mengatakan akan mengobservasi selama sekitar satu jam ke depan
untuk menentukan apakah perlu dipasang ventilator atau tidak. Ini karena saturasi
oksigen (persentase oksigen yang diikat hemoglobin dalam aliran darah) saya saat itu
di bawah batas normal (standarnya 95 – 100 persen). Padahal saya memakai masker
oksigen bertekanan.

Setelah sekitar satu jam, puji Tuhan, angka saturasi oksigen saya mulai naik
mendekati batas bawah. Maka, dokter memutuskan, saya tidak perlu dibantu
ventilator, cukup dengan masker oksigen bertekanan saja.

Selama di ICU saya tetap sadar. Walaupun badan dan kepala saya masih terasa
sakit, lemas, sesak, perut mual dan tidak ada nafsu makan, tetapi mulai stabil. Karena
kondisi saya, awalnya hanya bisa berkomunikasi melalui WhatsApp, itupun berat untuk
pegang handphone dan mengetik. Setelah beberapa hari di ICU, barulah saya
sanggup melakukan video call. Saat itu selain memikirkan kondisi saya, juga terpikir
anak-anak dan istri, apakah mereka juga tertular?

Bersamaan dengan saya dirawat di rumah sakit, anak-anak dan istri menjalani
karantina mandiri. Puji Tuhan, mereka dinyatakan negatif Covid-19 setelah dua kali
dilakukan rapid test oleh pihak Puskesmas.

Setelah dua hari di ICU, barulah keluar hasil tes swab yang menyatakan saya
positif Covid-19. Keluarga saya sudah menduga hasil positif tersebut dari hasil CT scan
sebelumnya, saat baru tiba di RS Siloam. Sedangkan keluarga besar dan temanteman
saya cukup kaget. Tetapi semua mendukung memberikan doa dan semangat
kepada saya dan keluarga. Termasuk para dokter dan tenaga medis yang merawat
saya.

Ada tiga orang bruder (yang juga perawat di RS Siloam) yang selalu memberi
saya semangat, “Saya berdoa untuk Bapak. Bapak juga berdoa dan tetap semangat
ya?”

Saya tidak merasa sendiri walaupun terisolasi dalam ruang ICU dengan segala
alat penunjang yang terpasang di seluruh tubuh. Saya sungguh bersyukur dan
dikuatkan karena mendapatkan banyak doa dan dukungan baik melalui WhatsApp,
telepon, maupun video call dari keluarga besar, teman-teman dan dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatinegara Jakarta.

Termasuk juga dukungan bagi keluarga saya di rumah selama menjalani karantina
mandiri: kakak ipar bantu belanja, jemaat GBI Jatinegara beberapa kali mengirimkan makanan. Ada pula teman dan saudara yang mengirimkan makanan, masker, sanitizer dan vitamin selain dukungan semangat serta doa.

Setelah 10 hari di ICU, keadaaan saya membaik dan tidak memerlukan masker oksigen lagi, cukup dengan selang oksigen. Maka, saya dipindahkan ke ruang isolasi biasa. Tiga hari kemudian, 3 April 2020, saya diperbolehkan pulang walaupun hasil swab tiga hari sebelumnya masih positif.

Isolasi mandiri dilanjutkan di rumah dengan pengawasan dari Puskesmas yang ditunjuk dinas kesehatan. Setelah melakukan isolasi mandiri di rumah selama kurang lebih 14 hari, saya dites swab lagi. Seminggu kemudian hasilnya negatif. Diperlukan dua kali hasil negatif berturut-turut, barulah bisa dinyatakan sembuh. Saat ini saya masih menunggu hasil tes swab yang terakhir.

Orang yang tertular virus Covid-19 tidak ingin dirinya tertular. Mereka (dan keluarganya juga) perlu dukungan doa, cinta, perhatian dan bantuan dari semua pihak, bukan dijadikan bahan gunjingan atau malah dikucilkan. Kunci kesembuhan dari Covid-19 selain
perawatan medis adalah berserah, juga dukungan doa dan semangat dari keluarga,
teman dan kerabat. Selama dua minggu di rumah sakit, sungguh saya dan keluarga merasakan kasih dan jamahan kuasa Tuhan Yesus yang luar biasa.

Ucapan terima kasih saya sampaikan
kepada:
– Keluarga besar Subakri dan Suwadi
– Gembala sidang, para diakon, jemaat dan simpatisan GBI Jatinegara
– Direktur, para dokter, tim medis dan staf : RS Yadika Pondok Bambu, RS Siloam Kelapa Dua Tangerang, Puskesmas Kecamatan Duren Sawit.
– Teman-teman alumni: SD-SMP PPSP IKIP Surabaya, SMAN 16 Surabaya angkatan 90,
Kimia ITS Surabaya, SD Angkasa Halim Jakarta, SMP St. Antonius Jakarta, SMA St. Ursula Jakarta angkatan 94, Aksek/LPK Tarakanita Jakarta.
– Rekan-rekan sekerja

Penulis: Arie Budi Prasetya dan Krisfiarti Dwiwastiti (Ebeth)
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here