Peluncuran Ibadah Milenial GBP, “KOLAM” TEMPAT IKAN DAN PENJALA BERTEMU

0
148

Tahun 2020 menjadi tahun yang diabadikan banyak orang, salah satunya Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung. Minggu 2 Ferbruari 2020 menjadi momen peluncuran kebaktian untuk kaum milenial. Kebaktian ini juga menjadi tanda bertambahnya satu kegiatan kebaktian gereja Baptis di Jl. Wastukencana 40 Bandung ini.

Laksana sebuah konser musik, peluncuran kebaktian bertajuk iPraise menghentak aula lantai 3 GBP Bandung. Dentuman drum, bass, gitar serta keyboard mengiringi setiap pujian yang dipandu beberapa pemimpin pujian dengan tempo yang menghentak, menambah suasa ibadah semakin panas. Lampu panggung bagai tak mau kalah ikut membawa jemaat memuji Tuhan. Para penari pun muncul mengiringi lagu pujian yang dinyanyikan.

Tak hanya cara ibadah yang dikemas sedemikian rupa, ruang kebaktian pun direnovasi dengan nyaman. Dinding dan tempat duduk, lantai yang ditutupi karpet merah. Juga dalam ruangan dilengkapi TV layar lebar maupun alat-alat musik lainnya.

Ibadah bergaya anak muda ini dilaksanakan berbarengan dengan waktu ibadah bahasa Inggris (English Worship Service) pukul 10.30. Berbeda dengan keempat ibadah lainnya, Ibadah Milenial atau iPraise ini dilengkapi dengan tim penari. Untuk pertama kalinya, ibadah ini digabungkan dengan kebaktian bahasa Inggris atau kebaktian umum ketiga.

Karena itu yang hadir tak hanya anak-anak muda atau orang-orang Indonesia, namun juga orang dewasa dan orang-orang asing yang biasanya hadir pada kebaktian bahasa Inggris.
Gembala Sidang GBP Bandung Pdt. Ardi Wiriadinata mengungkapkan tanggapan jemaat setelah ibadah perdana dilaksanakan. “Mereka responsnya positif, bahkan beberapa (anggota) jemaat baru pertama kali naik ke lantai tiga, kaget. Dan itu menolong untuk membuka hati mereka.”

Sekadar tahu, iPraise merupakan salah satu bagian dari IDC (impact discipleship community), tiga kata yang mencakup visi dan misi GBP yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok pemuridan yang dikemas sesuai dengan tingkat usia untuk penjangkauan.

GBP memiliki visi dan misi “memancarkan kemuliaan Tuhan dengan menjadi murid yang taat untuk memuridkan segala bangsa”. Sebagai salah satu wujudnya, GBP membuka wadah untuk menjangkau kaum muda sehingga mereka tidak terhilang.

Senada dengan itu, Koordinator Bagian Sekolah Minggu Reach (Tunas Muda-Profesi) Steven Arely menambahkan, IDC merupakan pembaruan gerakan GBP untuk membawa orang masuk ibadah, Sekolah Minggu, dan kelompok pelayanan sehingga goal pelayanannya adalah memuridkan segala bangsa.

“Target yang ingin dicapai di IDC khususnya di iPraise adalah menjadikan iPraise sebagai ‘kolam ikan’ bagi anggota-anggota IDC, dalam hal ini kaum muda,” tutur Steven kepada Juniati dari Suara Baptis 30 Maret 2020.

Tak hanya dari segi musik yang bergaya anak muda banget, khotbah yang disampaikan pun tidak seperti seminar serah. Khotbah terkadang berupa talkshow, kesaksian, drama dan lain-lain.

Pdt. Ardi mengungkapkan alasan utama membentuk ibadah ini, yakni sekalipun ibadah umum terus diupayakan untuk bisa menjangkau semua usia, masih ada kelompok usia yang tidak bisa dijangkau secara umum. “Ada beberapa faktor yang menunjukkan ada suatu gaya atau rasa nyaman tertentu yang mereka inginkan (kaum millenial). Ada penelitian yang mengungkapkan kesimpulan yang sama waktu penelitian kepada anak muda kelompok milenial, yang mengatakan, ketika (kelompok milenial) masuk gereja konvensional, sebelum mendengarkan khotbah, musik, mereka berpikir gereja itu untuk orang tua mereka.”

Ia melanjutkan, “Dirange (rentang) usia inilah kami mau menghapuskan penghalang kelompok usia untuk datang beribadah kepada Tuhan. Intinya, (ibadah milenial) ini untuk penjangkauan. Beberapa penjangkauan mengalami kesulitan dan kami mencoba mengkaji dan mengobservasi gereja lain dan kami melihat bahwa sudah waktunya kita memiliki wadah khusus untuk menjangkau kelompok usia tertentu.”

Meski nama, gaya dan bentuk ibadahnya berbeda dengan ibadah lainnya, bukan berarti ibadah milenial ini tidak mengikuti visi, misi, tujuan, program ataupun gerakan gereja. Ibadah milenial ini tetap berjalan dalam intisari GBP yaitu ibadah, pemuridan dan penginjilan. Intisari tersebut dilangsungkan melalui ibadah Minggu, Sekolah Minggu dan kelompok-kelompok pelayanan.

Pdt. Ardi juga yakin, penambahan kegiatan ibadah ini tidak akan mempengaruhi tujuan gereja. “Kalau tujuan dan program, nggak berubah. Paling-paling akan mempengaruhi petugas pelayanan, pengaturan latihan. Namun bersyukur karena Tuhan sediakan tempat yang baru sehingga bisa berjalan bersamaan, baik pada saat latihan maupun ibadah dan memang akan lebih banyak yang terlibat.”

Sebagai salah satu gereja Baptis dalam naungan Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI), GBP menyadari bahwa gerakan yang dilakukan merupakan wujud dari visi misi GGBI. Meski GGBI tidak terlibat secara langsung, gerakan besar GGBI untuk memuridkan dan menjangkau sebanyak jiwa yang Tuhan percayakan, menjadikan GBP turut serta sebagai gereja lokal untuk mewujudkan gerakan besar tersebut.

Munculnya sesuatu yang baru dalam umat Baptis yang cenderung konvensional, tentu akan menarik perhatian banyak pihak. Maka, dukungan ataupun penolakan adalah sesuatu yang biasa. Begitu pula yang dihadapi GBP ketika akan membuat sesuatu yang baru, sebagian pihak di kalangan BaptisJawa Barat tidak memberikan dukungan. Meski begitu, Pdt. Ardi tetap bersyukur karena tetap ada banyak orang yang mendukung dan mendoakan upaya penjangkauan yang dilakukan GBP melalui ibadah milenial ini.

“Sudah sejak satu tahun yang lalu kami mempersiapkan hal ini (ibadah milenial), baik fasilitas dan tempatnya maupun sumber daya manusianya. Untuk tempat sendiri sebenarnya sudah siap sejak setahun lalu namun baru terealisasi sekitar September-Oktober 2019. Dan puji Tuhan, bisa selesai sekitar 90 persen,” tutur Pdt. Ardi kepada Tiara dan Aris Santoso dari Suara Baptis.

Pdt. Ardi melanjutkan, “Namun yang lebih penting adalah SDM (sumber daya manusia)-nya yang dipersiapkan. Baik persiapan para pemimpin, koordinator ibadah, koordinator pemuridan maupun koordinator pelayanan dengan menyamakan visi. (Ini) karena dimulai dengan kaum milenial dari Tunas Muda sampai kaum Profesi dalam penyamaan visinya, baru kemudian setelah menangkap visinya kita belajar teknisnya.”

Sedangkan Steven menambahkan, “Kurang lebih setahun, kami, gembala kelas (Sekolah Minggu Tunas Muda-Profesi) diberikan filosofi dasar untuk penjangkauan kaum muda milenial. Dan kebaktian milenial ini sebagai hasil produk pemrosesan selama kurang lebih setahun ini. Jadi kebaktian millenial ini nggak serta merta muncul.”

Sesudah berjalan sekitar dua bulan, kegiatan iPraise harus terhenti sementara karena kasus pandemi Covid 19. Sebagai gantinya, ibadah dilakukan secara online. Meski begitu, Steven melihat bagaimana Tuhan mempersiapkan para pengerja muda untuk menjalankan kebaktian online.

“Karena persiapan iPraise lebih banyak menggunakan media komputer grafis, teknologi-teknologi dan sebagainya sehingga ketika ibadah di-online-kan, kita nggak terlalu gaptek (gagap teknologi). Meski masih banyak penyesuaian, kita belajar cukup cepat,” ujar ayah tiga anak ini.

Karena kegiatan ibadah kaum muda ini hal yang baru, Steven merasa perlu terus mempelajari, memperhatikan serta mengarahkannya. Dengan demikian, iPraise akan terus berjalan sesuai dengan desain awal yaitu menjadi “kolam” di mana ikan dan penjala bertemu.

Kemunculan perubahan atau sesuatu yang baru pasti akan menghadapi tantangan, demikian Pdt. Ardi mengungkapkan. Namun dengan menyamakan visi, akan meminimalkan tantangannya. Meski demikian, dalam menyatukan visi itu sendiri cukup sulit karena masing-masing orang punya pemikiran sendiri, katanya lebih lanjut.

Setelah diluncurkan, tantangan yang dihadapi iPreaise adalah bagaimana ibadah ini dapat terus berkesinambungan.
“Meski prosesnya tidak mudah dan cepat, namun kami mau belajar tetap beriman,” tandas Pdt. Ardi.

Penulis: Juniati
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here