PELITA JIWA – MENGAPA YESUS HARUS DIKURBANKAN?

0
669

Ada yang pernah bertanya kepada saya, “Jika Allah mahakuasa untuk mengampuni dosa, mengapa harus ada pengorbanan Yesus Kristus? Mengapa Allah tidak berkata saja, ‘Dosa mu sudah diampuni,’ atau ‘Karena engkau telah baik, maka dosamu akan diampuni’?”

Ini adalah hal yang alamiah pada manusia berdosa. Manusia memiliki pemikiran sendiri. Ia dirancang untuk dapat memecahkan masalahnya. Namun seringkali langkah yang diambil tidak sempurna karena dosa yang telah hadir dalam kehidupan manusia.

Hikmat manusia yang telah cemar oleh dosa, tidak akan mampu secara sempurna memikirkan perkara-perkara sorgawi. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”

Dan selanjutnya Paulus berkata, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani,” (1Kor 1: 18; 2:14).

Pemberitaan salib adalah kebodohan bagi yang akan binasa. Tetapi bagi yang diselamatkan, pemberitaan itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Lantas apa alasan Allah mengorbankan Yesus untuk pengampunan dosa?

Karena Allah berkehendak dengan cara pengurbanan.

Ketika manusia pertama kali jatuh dalam dosa, Allah menyatakan sebuah kabar baik yang disebut dengan “Protoevangelium“. Artinya, Injil yang pertama atau Kabar Baik yang pertama. Ini berbicara tentang pernyataan Allah mengenai rencana keselamatan. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya,” (Kejadian 3:15). “Diremukan” artinya akan ada hal yang dikurbankan.

Rancangan keselamatan ini senada dengan nubuatan dalam Kitab Yesaya, “Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya,” (Yesaya 53:10).

Ini berbicara tentang keselamatan, yang hanya datang dari Allah dan melalui pelayanan Sang Hamba Tuhan. Keselamatan mencakup pembebasan dari hukuman dosa. Ini berbicara tentang Sang Domba Allah yaitu Yesus Kristus yang akan menjadi korban penghapusan dosa.

Surat Roma 3:25 berkata, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya.” Selanjutnya Roma 8:32 berkata, “Ia, yang tak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua….”

Hal ini semua juga untuk menggenapi apa yang dikatakan di dalam hukum Taurat (Ibrani 9:22-28).

Pengurbanan Yesus Kristus adalah Kehendak Allah, yang tidak bisa dipahami manusia. Dan rancangan-Nya adalah rancangan yang penuh damai sejahtera. Karena itu Alkitab katakan, “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu,” (Kisah Para Rasul 4:27-28).

Karena keseriusan upah dari dosa.

Dosa bukanlah perkara kecil. Dosa adalah pembrontakan kepada Sang Penguasa alam semesta ini. Dosa adalah tindakan yang menginjak-nginjak kemulian Allah. Dosa membuat manusia mengalami penderitaan terbesar, yaitu keterpisahan dirinya dan Allah. Dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah dan dibawah murka Allah.

Karena itu Alkitab dengan tegas katakan, upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Dosa mendatangkan murka Allah, “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman,” (Roma 1:18).

Murka dan keadilan Allah tampak pada pengurbanan Sang Anak, Domba Paskah itu. Salib memperlihatkan betapa mengerikannya upah dosa. Melalui pengurbanan Kristuslah, keadilan Allah nyata.

Kristus sungguh-sungguh menanggung kutuk, kesengsaraan dan murka karena pemberontakan kita. Karena itu, ketika Yesus menjadi manusia, Ia memiliki jabatan sebagai pengantara.

Pengurbanan Yesus adalah sebuah proklamasi keseriusan dari upah dosa. Maut yang dialami Yesus adalah bukti bahwa penghukuman dan murka Allah itu nyata. Keadilan-Nya tak pernah berkompromi dengan dosa.

 

Untuk memproklamasikan bukti kasih Allah yang besar.

Salib Kristus bukan saja memperlihatkan seriusnya upah dosa, tetapi juga menunjukkan besarnya kasih Allah bagi orang berdosa. Kasih Allah bukan sekadar teori atau ajaran agama. Kasih Allah adalah nyata dan terbukti dalam sejarah. Jadi, pengurbanan Kristus adalah pernyataan tertinggi dari kasih Allah.

Tanpa salib Kristus, tidak ada bukti yang nyata tentang pengampunan dosa. Kasih-Nya telah menggantikan posisi kita, mendamaikan hidup kita, mengampuni hidup kita dan melimpah anugerah yang besar. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa,” (Roma 5:8).

Penderitaan dan kematian Kristus adalah bukti bahwa Allah sungguh-sungguh hadir dalam ketidakberdayaan manusia. Penyaliban dan kematian Kristus adalah peristiwa yang sangat mengerikan, namun memberi dampak kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Salib mengartikan tempat ketidakberdayaan manusia untuk menanggung kelemahannya sendiri. Karena itulah Yesus yang harus pergi ke sana dan menanggung seluruh kelemahan hidup Anda di atas kayu salib. Tanpa salib Kristus, kasih Allah hanyalah semu. Dan di balik penderitaan Kristus, ada tujuan yang indah bagi manusia berdosa, yaitu memperdamaikan manusia berdosa dengan Allah.

Ravi Zakharias dalam The Grand Weaver menuliskan, “Kita harus melihat dunia penuh derita ini melalui mata Yesus, yang tidak hanya mengerti penderitaan tetapi juga merasakan kehancuran keterpisahan.”

Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menanggung penderitaan kita. Sebab di dalam penderitaan-Nya, Yesus memberikan jaminan bahwa Ia sanggup menolong mereka yang dicobai. “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai,” (Ibrani 2:18).

Inilah kasih Kristus, kasih yang terbukti dan pengampunan yang sungguh-sungguh nyata bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Alkitab katakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya,” (Kisah Para Rasul 10:43). Inilah penggenapan dari apa yang dikatakan Perjanjian Lama, “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri,” (Yesaya 43:25).

Maka, pengurbanan Kristus berbicara tentang kehendak-Nya yang tak bisa diganggu- gugat. Pengurbanan Yesus membuktikan keseriusan Allah dalam mengasihi manusia. Pengurbanan Yesus untuk memperlihatkan betapa mengerikannya dampak dosa. Dan pengurbanan Yesus adalah bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya di tengah penderitaan. Ia selalu berkarya di tengah kesulitan agar segala sesuatunya mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya.

 

Penulis: Pdm. Rendi Cristiawan adalah Gembala Sidang Gereja Baptis Sumbertirtayasa Solo, Pos PI Pacitan

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here