Pelayanan di Papua, BERGUMUL HADAPI PERNIKAHAN BAWAH UMUR

0
205

Sejak muda, saya berangan-angan melayani di Papua. Namun karena menikah dengan pendeta, saya berakhir dengan melayani di gereja setempat dan kemudian menjadi istri dosen. Bahkan saya sendiri juga terpancang menjadi dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis.

Karena anak sulung mendapat pekerjaan di Papua, saya sering berkesempatan ke sana dan melayani beberapa kali di berbagai daerah. Jalan Tuhan memenuhi kerinduan pelayanan saya.

Sejak 20 Januari hingga 20 Februari 2020, saya sekali lagi melayani di Papua. Selain tinggal bersama keluarga anak sulung, Arief, saya berkesempatan membagikan Firman Tuhan empat minggu berturut-turut di Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Elsyaddai, Timika, juga pelayanan komisi wanitanya.

Selain itu saya berkesempatan mengunjungi pelayanan yang dirintis Gereja Kristen Abdiel (GKA) Gloria Surabaya di Timika yang dilayani Pdt. Musa serta beberapa mahasiswa magang di “Rumah Sagu.” Nama pusat pelatihan dan asrama ini diambil dari istilah “Bethlehem” atau “Rumah Roti”. Karena makanan utama penduduk setempat ialah sagu, jadilah namanya “Rumah Sagu”, bukan “Rumah Roti”.


Ada sekitar 30 anak yang diambil dari keluarga-keluarga Asmat dan Kamoro dengan seizin orang tua untuk dididik dan diasramakan. Mereka belajar membaca, menulis dan matematika, juga bahasa Inggris dan pembangunan karakter. Dasar utamanya ialah Firman Tuhan. Beberapa personel PT Freeport menjadi relawan setiap akhir pekan.
Mereka memperkenalkan pelayanan di pesisir Timika, pada anak-anak suku Kamoro. Rumah-rumah panggung di pesisir ini didirikan di atas rawa-rawa, yang pada sore hari airnya sekitar 20 cm di bawah rumah. Ada bangunan gereja yang disebut Sinagoge sebagai gedung serba guna juga. Karena pada hari Minggu ada Sekolah Minggu dan ibadah, Senin hingga Jumat diselenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diikuti sekitar 45 anak.

Hari Jumat sore ada pelayanan penambahan gizi yang dihadiri sekitar 200 anak. Kadang-kadang ada juga kunjungan dari kelompok wanita gereja atau ibu-ibu pegawai Freeport yang ikut melayani melalui program tersebut.

Pada waktu kunjungan saya ke Sinagoge tersebut, ada 191 anak yang hadir. Hampir semuanya usia sekolah dasar (SD). Hanya beberapa anak usia sekolah menengah pertama (SMP). Mengapa? Karena anak-anak belasan tahun sudah mulai bekerja mencari kepiting dan sejenisnya. Hanya sekitar seperempat dari mereka yang mengikuti PAUD. Yang lain tidak berminat belajar, begitu menurut Yerem dan istrinya, Yanti yang sedang cuti kuliah dari STT di Tangerang, Banten.

Pelayanan menambah gizi biasanya terdiri dari bubur kacang hijau atau bubur beras dengan sup ayam dan sayur. Saya sendiri membawa sedikit tambahan gizi. Waktu kami berjalan masuk melalui jalan kumpulan kayu-kayu yang sudah berlubang-lubang, kelihatan hanya sedikit anak di sekeliling rumah-rumah panggung tersebut. Namun begitu kentongan bel dibunyikan, anak-anak yang entah dari mana, datang berduyun-duyun dan memenuhi Sinagoge tersebut.


Kesan saya, para pendidik sudah melatih mereka dengan sangat tertib. Sama sekali tidak ada ribut-ribut atau rebutan. Masing-masing duduk berbaris rapi sekali. Saya kagum dengan sikap mereka yang sopan dan teratur. Mereka juga bernyanyi dengan bersemangat dan mendengarkan secara aktif.

Selain “Rumah Sagu”, ada lagi pelayanan “Rumah Singkong” untuk anak-anak SMP. Kesulitannya, waktu mereka pulang liburan, sebagian tidak akan kembali karena dinikahkan, atau akibat hubungan di luar nikah yang membuahkan kehamilan di bawah umur. Maka, diliburkan salah, tidak ada libur pun salah.

Selain mendidik anak-anak, Pdt. Musa menyiapkan kaum muda yang siap terjun dalam pelayanan. Mereka digembleng dan dididik di “Rumah Sagu” sebelum dikirim ke STT-STT di Jawa.

Ada lagi yangn disebut “Rumah Emas”, asrama yang didirikan PT Freeport untuk pendidikan sekitar 1.000 anak di Timika. Mereka datang dari suku Asmat di pegunungan dan suku Kamoro di pesisir. Suku gunung lebih disiplin. Ini karena ada aturan, laki-laki yang menghamili perempuan di luar nikah harus membayar denda adat puluhan ekor babi. Menurut Pak Henrik, mantan guru yang sekarang menjadi penarik ojek online, suku Kamoro tidak punya aturan tersebut.

Banyak orang yang dibutuhkan dalam pelayanan tersebut. Jika ada yang tertarik, dapat mempersiapkan diri.

Penulis: Susan S. Wiriadinata
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here