Pelatihan Kepemimpinan Baptis | AGAR KAUM IMAM LEBIH MUMPUNI

0
60

Pujian terus-terang kepada para pendeta dan anggota gereja Baptis Indonesia peserta pelatihan kepemimpinan, beberapa kali diungkapkan sang pelatih, Jakoep Ezra. Pendiri Power Character, perusahaan konsultan dan pelatihan yang berfokus pada pembudayaan karakter unggul tersebut mengaku, kelas pelatihan satu ini paling dinamis dibanding kelas-kelas pelatihan yang diadakannya, baik di dalam maupun luar negeri.

“Luar biasa,” kata Jakoep tentang antusiasme peserta. “Yang menonjol di kelas Baptis adalah rasa haus dan laparnya. Sangat terlihat terekspresikan dengan banyaknya pertanyaan, argumentasi, interupsi, maupun pendapat-pendapat yang berbeda,” jelasnya. “Hampir separuh peserta aktif bertanya dibandingkan (kelas) pelatihan lain yang rata-rata dua-tiga orang (yang aktif). Membuat kami, para pembicara harus semakin siap. Dan senang karena (mereka) bisa memahami konsep berpikir imam-imam ini,“ ceritanya saat ditemui Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis, Senin 11 Mei 2015 seusai pelatihan.

Ketua Forum Pelatihan Kepemimpinan Baptis Pdt. Edwin Halim mengatakan, pelatihan kepemimpinan ini terbentuk dari kerinduan anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jakarta Baptist Community (JBC) Tjoa Yanni Widiastuti. Istri pimpinan Taman Safari Indonesia Tony Sumampouw ini ingin melihat munculnya pemimpin-pemimpin Baptis yang andal.

Ketika itu, Yani yang telah bekerja sama dengan Jakoep, menghubungkannya dengan Pdt. Edwin untuk bersama-sama membentuk forum pelatihan kepemimpinan Baptis. Menurut pengamatan orang luar, sambung Pdt. Edwin, umumnya pendeta Baptis dianggap kurang dalam kepemimpinan.

Peserta pelatihan datang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, bahkan juga Pemalang (Jawa Tengah). Kenyataan ini menambah semangat pihak penyelenggara yang mengaku sudah mendukung habis-habisan untuk program pelatihan ini.

Jakoep Ezra (kanan) bersama Tony Sumampouw (tengah) dan Tjoa Yanni Widiastuti (kiri).Dengan dasar, tempat yang tawar perlu garam dan tempat yang gelap perlu terang. Power Character bekerja sama dengan Forum Pelatihan Kepemimpinan Baptis menyelenggarakan pelatihan ini. “Saya terpanggil untuk membangun komunitas kaum imam yang belajar dan punya kehidupan seperti Ibrani 10:24-25,” kata Jakoep yang juga penatua Abbalove Ministries (Gereja Yesus Kristus Tuhan). Pria yang lahir baru dari Gereja Reformed pimpinan Pdt. Stephen Tong ini mengaku terbeban untuk melatih para pendeta Baptis setelah beberapa kali berkomunikasi dengan Pdt. Edwin.

Menurut Jakoep, tujuan utama pelatihan ini untuk memperlengkapi rumah Tuhan. Jakoep percaya, inilah penggenapan nubuatan Yesaya 2 bahwa di akhir zaman, rumah Tuhan akan mengalirkan pengajaran dan kuasa pemulihan. Di akhir zaman ini, ia percaya hanya gereja Tuhan yang dipakai untuk mengajar kebenaran dan memulihkan semua kekacauan dunia ini.

“Yesus ber-janji setiap lutut akan bertelut, dan setiap lidah akan mengaku bahwa Dia adalah Tuhan. Dan itu keluar dari tatanan agama, ras, maupun bang-sa,” tutur pria ke-lahiran Surabaya, 13 November 1961 ini.

Pelatihan yang ditujukan terutama untuk para gembala sidang juga diikuti anggota gereja nonpendeta yang memiliki beban serupa tentang kepemimpinan. “Tujuan kami tidak hanya untuk hamba Tuhan. Nantinya, di masing-masing gereja, (hasil pelatihan ini) bisa diteruskan, dibagikan, ditularkan pada saudara-saudara kita. Tujuannya untuk pemimpin dulu, kemudian untuk yang dipimpin,” kata Pdt. Edwin.

“Sebetulnya para imam ini harus punya komunitas untuk bisa ditolong dan dipahami. Sama seperti kaum awam,” ujar Jakoep. “Imam itu bukan posisi tetapi fungsinya,” lanjutnya.

Jakoep sangat percaya bahwa Tuhan memakai kaum imam sebagai wakil Kristus di bumi. Karena itu, kaum imam harus hidup dalam kebenaran.

Jakub juga percaya bahwa kaum imam perlu belajar karakter Kristus yang tidak lepas dari kompetensi Kristus. Ia menambahkan bahwa dalam Lukas 2:52, Yesus bukan hanya ada di Bait Allah, tetapi di pasar, jalan, pelabuhan, di mana-mana. Itu menunjukkan bahwa Yesus punya kompetensi yang cukup untuk berhadapan dengan orang-orang awam.

“Imam tidak boleh eksklusif,” tekannya. “Ada satu titik di mana imam harus turun, bukan awam datang ke imam.”

Jakoep mengajak para imam dalam pelatihan ini supaya menjadi terang di tempat yang masih gelap.

Menanggapi banyaknya perpecahan di gereja, Jakoep yakin penyebab utamanya adalah pola pikir yang salah. Jakoep yang telah banyak menemukan dan menolong para imam yang sudah jatuh, menekankan bahwa pola pikir para imam seharusnya kembali pada panggilan gereja, yakni diakonia (menolong orang yang memerlukan), koinonia  (saling membangun, di mana para imam perlu persekutuan dengan sesama imam), dan marturia (penginjilan). Bila ketiga hal tersebut dilakukan dalam kehidupan sesama imam, akan menolong kehidupan mereka sendiri.

“Imam bukan Tuhan. Imam (adalah) hamba Tuhan,” tandas Jakub. “Imam harus dimanusiakan, jangan dikultusindividukan.”

Ia mengingatkan bahwa kultus individu adalah sebuah bentuk isolasi. Menganggap imam tidak butuh didengar, ditolong, bahkan tidak butuh makan dan uang adalah siasat Iblis supaya imam jatuh dan disyukuri dunia, katanya.

Para imam juga membutuhkan kaum awam. Tetapi kaum awam yang menolong para imam, tidak boleh sombong, ujar Jakoep. Menurutnya, para imam akan dapat merasakan bila kaum awam penolongnya mulai menjadi tinggi hati karena telah menjadi penolong para pendeta.

Kaum awam yang berpengetahuan dan profesional sangat dibutuhkan kaum imam. Misalnya, dokter, psikolog, psikiater, sosiolog, ahli ilmu perilaku, atau ahli lainnya. “Kerendahan hati awal dari kita bisa menolong yang lebih besar lagi,” pesannya.

Selain punya kompetensi, kaum awam dengan karakter yang bisa dipercaya diharapkan bisa menolong kaum imam. Misalnya, kaum imam memerlukan konselor ketika dilanda stres. Hal ini menurutnya sudah lazim di negara-negara maju seperti Amerika, Belanda, Australia, dan Inggris.

“Saya percaya yang membuat orang berubah bukanlah teknologi, tetapi ketulusan hati. Boleh saja teknologi canggih, tetapi justru manusia dijadikan mesin,” tambah Jakoep. Teknologi harus mendukung cara belajar. Dan dalam hidup orang Kristen, perubahan adalah alat ukur yang paling bisa dilihat orang. Ia menekankan bahwa tiap anak Tuhan seharusnya semakin menjadi terang dan menjadi garam, menjadi semakin serupa Kristus.

Pelatihan yang membangun kompetensi dan karakter Kristus ini telah dilangsungkan di  sejumlah bank nasional seperti BNI, BCA, PERMATA, Standard Chartered, serta perusahaan-perusahaan besar seperti Garuda Indonesia, Bursa Efek Jakarta, dan P&G.

Tanpa perlu menyebutkan sumbernya, nilai-nilai misalnya “kesetiaan dalam perkara kecil seperti ketika diminta dalam perkara besar” dan “keterbukaan adalah awal pemulihan” diajarkan di sini.

Ketika ditanya kemungkinan ada benturan nilai dengan peserta non-Kristen, Jakoep mengungkapkan, “Justru mereka merasa suara kami adalah suara yang lurus. Mungkin perusahaan pelatihan lain berkompromi, tetapi kami tidak. Kami memberatkan kebenaran. Kalau mereka tidak melakukan kebenaran, mereka akan tahu risikonya.”

Risiko memberitakan kebenaran tersebut menyebabkan tim Jakoep tidak diminta lagi melatih.

“It’s okay (tidak menjadi masalah),” katanya. “Walaupun ada satu dua yang menolak, mayoritas mau menerima bahkan minta pelatihan lagi. Justru yang menolak itu karena di dalamnya ada orang yang merasa sudah terang padahal masih gelap. Orang-orang yang sudah merasa tahu,” ungkapnya.

Selama ini, Power Character telah memberikan sertifikat kelulusan kepada enam ribu dari belasan ribu peserta pelatihan. Untuk umat Baptis, pertemuan dalam pelatihan ini telah dua kali digelar yakni April dan Mei  6 April 2015 di Gedung Baptis, Jl. R.P. Soeroso 5, Jakarta. Akomodasi dan konsumsi disediakan Forum Pelatihan Kepemimpinan Baptis sedangkan perlengkapan dan materi pelatihan merupakan sumbangan Power Character. Dalam pelatihan yang akan berakhir Juni 2016 ini, sertifikat kelulusan hanya diberikan kepada peserta yang minimal mengikuti 80 persen pertemuan.

Empat topik telah dibahas dalam pertemuan pertama, yaitu keterampilan membuat rencana, berpikir secara konseptual, manajemen waktu  dan manajemen dasar. Sedangkan pertemuan kedua membahas keterampilan berpikir kreatif, mengorganisasi orang, pengawasan dan koordinasi. Program bertajuk Life and City Transformation ini bertujuan supaya mereka yang sudah diubahkan akan dimampukan untuk mengubahkan orang lain.

“Aplikasi itu penting. Jangan sampai pengetahuan diaplikasikan nanti (lain waktu, red.). Misalnya, hari ini belajar mengenai kreativitas, harusnya langsung diaplikasikan. Itulah sebabnya di setiap akhir modul kami selalu memberikan tips dalam case study (studi kasus) dan aplikasi tentang apa yang harus dilakukan,” tutur ayah dari Glorious Ezra (27), Harmony Ezra (24), dan Melody Ezra (23) ini.

“Kita ingin lebih diperlengkapi sehingga umat Baptis menjadi lebih maju dan diberkati, seperti dalam Pengabaran Injil, manajemen gereja dan yayasan-yayasan, juga BPD Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia/BPD GGBI) dan BPN  (Badan Pengurus Nasional GGBI),” tutur Pdt. Edwin.

Sesuai dengan tujuan pelatihan ini, diharapkan kualitas kepemimpinan dapat ditingkatkan.”Ini tidak hanya memberi pengaruh positif untuk kita sendiri sebagai seorang pemimpin, namun juga gereja atau jemaat yang kita layani,” tulis Pdt. Edwin dalam buku pengantar program.

Menanggapi saran Jakoep  agar peserta pelatihan membentuk tim belajar supaya materi yang dipelajari tidak menguap dan berkomunikasi melalui internet, Pdt. Edwin menyambut hangat. “Siapa tahu bisa share (berbagi) tentang program, visi misi gereja tanpa kita harus mendiskreditkan orang, tetapi saling memulihkan,” katanya.

                                 SB/lya/pris

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here