Orang Awam pun Bantu Bandung Pecahkan Rekor MURI

0
56

Sejak pukul 06.00 WIB, saat kebanyakan orang melakukan berbagai aktivitas seperti berangkat sekolah, bekerja, dan kuliah, sejumlah warga di Kota Bandung, Jawa Barat berbaris untuk memasuki Stadion Siliwangi. Mereka hadir dari berbagai macam latar belakang, mulai siswa, mahasiswa, guru, sampai beragam komunitas. Namun mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menjadikan kota Bandung sebagai pemegang rekor pemain angklung terbanyak di tanah air, dalam salah satu rangkaian kegiatan dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 bertajuk “Harmony Angklung for the World”, pada Kamis, 23 April 2015.

Setiap warga yang hadir mendapatkan sebuah angklung, sebuah kaos, sekotak kue, sebungkus makanan ringan, dan sekotak minuman. Tiap angklung diberi tempelan nama berbagai pulau di Indonesia, tiga di antaranya Jawa, Maluku, dan Sumatera, yang dilengkapi gambar kecil berbentuk tangan. Salah satu konduktor  dari Saung Angklung Udjo (SAU), salah satu komunitas angklung di Kota Bandung mengatakan, nama angklung yang berbeda akan menghasilkan nada yang berbeda pula.

“Orang-orang yang belum pernah belajar memainkan angklung, tinggal ikuti gerakan tangan saya. Untuk pemegang angklung dengan keterangan ‘Jawa’, perhatikan tangan saya! Kalau tangan saya begini, ayo dibunyikan,” katanya sembari menggerakkan telapak tangannya, lalu diikuti gerakan tangan para pemain yang membunyikan angklung dengan keterangan ‘Jawa’. Dia pun melanjutkan penjelasannya untuk para pemegang angklung dengan keterangan nama yang lain. Para pemain angklung yang merupakan masyarakat awam serta sejumlah perwakilan dari negara-negara Asia dan Afrika dapat mengikuti instruksi dengan mudah, karena stadion dilengkapi empat layar besar yang menampilkan video konduktor memperagakan gerakan. Dua dari empat buah lagu yang dimainkan bersama, antara lagi berjudul “Halo-Halo Bandung” dan “We are the World”.

Nimeshika Rathnayake, salah satu perwakilan Srilanka yang menghadiri festival angklung mengaku, baru pertama kali memainkan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut.

“Ini apa namanya?” Nimeshika menanyakan dalam bahasa Inggris.

Nimeshika Rathnayake | Foto BrunoKegairahan gadis kelahiran kota Matale, 1 Desember 1996 ini terhadap angklung ditunjukkan dengan bertanya pada Suara Baptis (SB), tidak sekadar menanyakan namanya, tetapi juga tentang cara memainkan alat musik tradisional tersebut. Dengan senang hati, SB menjelaskannya kepada siswi kelas advanced di Sri Sangamita Girl’s School, Matale, Srilanka ini. Nimeshika yang tadinya hanya diam sewaktu festival berlangsung, sesudah mendapat penjelasan singkat tentang angklung, berusaha memainkannya sambil tersenyum.

Minat memainkan angklung tidak hanya ditunjukkan perwakilan negara-negara Asia dan Afrika, tetapi juga masyarakat lokal. Terbukti, para siswa SD terlihat sangat bersemangat memainkannya sambil sesekali meneriakkan yel-yel dari atas tribun di tengah cuaca kota Bandung yang sangat terik. Sejumlah orang tua yang hadir juga tidak segan-segan memainkannya. Sementara para anak muda juga dengan bangga menunjukkan keberadaan dan kepeduliannya dalam festival ini, dengan berfoto selfie (mengambil foto diri, red.) sambil membawa angklung.

Melihat tingginya minat warga Bandung dan sekitarnya pada event ini, Walikota Bandung Ridwan Kamil menilai, keberhasilan kota Bandung menjadi pemecah rekor versi Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan jumlah pemain angklung terbanyak di Indonesia adalah milik warga Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia.

“Yang kami kejar bukan masalah rekor, tetapi semangat gotong royong,” pungkasnya. (SB/ luana yunaneva).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here