Opini: “MINIMNYA KANAL KEPEMIMPINAN GGBI” by: Catur Nugroho

0
75

Dari Kongres ke Kongres, kemudian bermutasi menjadi Musyawarah, hal yang menjemukan tiap akhir periode, salah satunya adalah masalah keberlanjutan Pemimpin. Ini bukan masalah kepemimpinan, tetapi ketersediaan pemimpin di lingkungan Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI). Proses penjaringan dengan sistem Bakal Calon Pimpinan Organ (BCPO) sudah lama diterapkan untuk menentukan pemimpin GGBI lima tahunan. Namun toh demikian, selalu ada ‘suara sumbang’, bahwa pemimpinnya nanti, ya, itu-itu saja.

Bahkan ketika saya menjadi salah satu anggota Steering Committee (SC) untuk visi misi GGBI 20 tahun ke depan, ada juga pembahasan tentang minimnya jangkauan gereja terhadap calon pemimpin mereka. Sempat terpapar, bagaimana kala kita bukan saja memilih nama, tetapi juga kompetensi dan dedikasi seseorang sebelum ia ditetapkan menjadi seorang pemimpin.

Ada beberapa kelemahan –memang- dengan sistem seperti itu. Paling tidak, umat tidak bisa mendapat akses dan suguhan profil pemimpin alternatif. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena yang keliling Indonesia ke gereja-gereja adalah pemimpin yang sedang menjabat. Yang tampil di berbagai ajang, adalah yang sedang menjabat. Yang diundang acara-acara penting adalah yang sedang menjabat.

Apakah ini kesalahan pemimpin yang sedang menjabat ? BUKAN!
Lalu, apakah ada yang salah dengan pola penjaringan pemimpin kita?
Menurut saya bukan itu masalahnya. Umatlah yang menentukan semua sistem musyawarah kita. Pemimpin hanyalah menjalankan mandat musyawarah.
Jadi, salahkah umat?

Sedikit salah….Karena tidak kritis pada dirinya sendiri dan tidak kreatif menggali metode, kelemahan dan peluang. Padahal potensi pemimpin kita sangat besar.
Dalam analisa saya, ada beberapa hal yang menjadi masalah mengapa gereja-gereja kesulitan menemukan, menentukan, memilah dan kemudian memilih pemimpin.

Minim Kanal
Apa maksudnya?
Kanal adalah saluran. Yaitu saluran yang memungkin sesorang “menyeruduk” untuk tampil sebagai pemimpin. Harus diakui, bahwa kanal kepemimpinan kita sangat terbatas. Kita hanya punya beberapa kanal yang dikenal umat dan cukup efektif untuk menjaring pemimpin. Sebut saja :
1. Badan Pengurus Nasional (BPN). Dalam BPN umat lebih mengenal Ketua, Wakil, Sekretaris Jendral (Sekjen), sedangkan ketua Departemen dan Badan Perwakilan daerah (BPD) kurang terekspos.
2. Badan Permusyawaratan Nasional (BAMUSNAS). Kanal ini makin sempit lagi karena hanya menampilkan tiga orang terus menerus selama lima tahun. Tampil tiap tahun. Berkeliling ke gereja-gereja tiap bulan.
3. Yayasan Baptis Indonesia (YBI). Ini agak eksklusif. Karena: pertama, secara yuridis telah terbentang jarak; kedua, tidak banyak bersentuhan dengan gereja dan umat, kecuali musyawarah tahunan, itu pun hanya ketua pembina dan pengurus.
4. Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI). Ini juga sama dengan YBI -kurang lebih.

Maka, ini yang seharusnya mendorong kita berpikir untuk membuat kanal-kanal baru, atau mengoptimalkan kanal yang sudah ada, sehingga memunculkan sosok pemimpin yang bisa menjadi alternatif. Sebut saja :
1.Rebana. Merupakan salah satu kanal alternatif yang bisa memunculkan pemimpin dengan kualifikasi handal, dan berskala internasional. Contoh salah satunya, adalah Doni Wijaya, yang sekarang menjabat Ketua Departemen Sosial GGBI.
2. Direktur PI. Ini juga merupakan kanal yang harus makin dioptimalkan
dan diefektifkan untuk memunculkan pemimpin alternatif.
3. Asosiasi profesi kesehatan, yang belum begitu optimal dan terdengar.
4. Ketua-ketua lembaga. Ini juga kanal yang belum tersentuh secara optimal.

***

Sebenarnya sangat banyak kemungkinan kita untuk membuat kanal kepemimpinan, yang bisa membuka mata dan telinga gereja untuk merekam calon pemimpinnya dalam periode-periode ke depan.

Jika kita mau sedikit keluar pakem tanpa harus keluar ideologi.

Ilustrasi: kornferry.com

Minimal, kita membuka diri terhadap kelompok-kelompok atau organisasi “sayap” yang tetap berafiliasi dengan GGBI. Mereka adalah organsiasi yang memiliki AD/ART sendiri dan mendanai dirinya sendiri. Misal, kita bisa membuat sayap organisasi yang berbasis pemuda.

Gerakan Pemuda Baptis Pengawal Kebhinekaan, misalnya. Dengan berbasis anak-anak muda yang punya gairah politik dan terwadahi secara profesioanl dan proporsional.
Atau mungkin, Asosiasi Pengusaha Muda Baptis Indonesia yang berbasis pemuda atau profesional dengan arah gerakan lebih kepada pemberdayaan ekonomi dan bisnis. Atau bisa juga untuk mewadahi para pemikir yang kritis dan haus ilmu pengetahuan. Kita buka kanal, Ikatan Pemikir Muda Baptis Indonesia. Ini akan memberi kontribusi kepada isu-isu hangat dalam semua bidang. Juga, misalnya membuat kanal mahasiswa, Gerakan Mahasiswa Baru Untuk Indonesia.

Semua kanal itu jangan ditempatkan di bawah Departemen. Tetapi dibiarkan dan diberi ruang seluas mungkin untuk bersinergi dengan GGBI.
Satu lagi, kanal besar tapi tidak terarah dengan baik: IKA STBI. Kanal ini cukup masif dan berpotensi melahirkan pemimpin nasional. Punya banyak massa yang tersebar di seluruh Indonesia dan sudah menduduki posisi strategis di GGBI, tapi sampai sekarang belum secara optimal dan masif memberi dampak pada gereja, dan tidak begitu dikenal oleh gereja.

Jadi sangat disayangkan, begitu banyak potensi yang tidak diasah. Kanal merupakan solusi ideal dan proporsional agar GGBI tidak sepi pemimpin. Cadangan pemimpin akan diuji dalam tiap kanal dengan memberi keleluasaan dan kemandirian dalam mengembangkan diri, termasuk menggalang dana dan membuat aturan rumah tangga masing-masing. Calon pemimpin Nasional dilatih di sana untuk suatu tujuan GGBI Raya, hingga 20 tahun ke depan.

Minim event
Ada masalah krusial lagi yang menurut saya, menjadi masalah seolah hanya sedikit pemimpin yang bisa dikenal gereja, selain masalah minimnya kanal tadi, yakni minimnya event.

Hampir tidak ada event besar dan berlangsung secara simultan, tiap tahun, yang diselenggarakan oleh masing-masing kanal. Ini akan mempersempit seseorang yang mempunyai potensi menjadi pemimpin.

Mungkin ada orang yang hebat, tetapi tidak sempat tampil dan diuji publik. Dan akhirnya, hanya menjadi cerita belaka.

Jadi saran saya, selain membuka sebanyak mungkin kanal kepemimpinan, harus ditopang dengan sebanyak mungkin kegiatan yang memungkinkan seseorang bisa bersentuhan langsung dengan gereja dan berinteraksi, bertukar gagasan langsung.

Semakin banyak kegiatan, akan memungkinkan seseorang –secara tidak langsung– masuk dalam proses uji kepemim-pinan, sebuah fit and proper test yang natural, bukan legal formal semata.

Beberapan kanal yang saya sebutkan di atas, misalnya bisa menyelenggarakan seminar, lokakarya, persekutuan atau apapun yang bisa langsung menyentuh gereja. Juga pada setiap kesempatan pertemuan nasional dan daerah diberi ruang untuk presentasi hasil kerja, sebagai indikator kinerjanya.

Inkonsistensi

Ilustrasi: keepthinkingbig.com

Masalah terakhir yang sesungguhnya menjadi momok bagi saya adalah, konsistensi. Kita punya masalah dengan mental konsisten. Banyaknya kanal menjadi mati dan tersumbat karena masalah konsisten. Kita begitu sukar untuk konsisten menjaga marwah kepemimpinan.

Jadi tiga hal tersebut, menurut saya bisa menolong gereje-gereja untuk memiliki pemimpin alternatif. Saya tahu ini berat. Tetapi kalau semangat kita adalah semangat membangun 20 tahun ke depan. Menurut saya, tidak bisa tidak. Kita harus membuka sebanyak mungkin kanal kepemimpinan, mengawalnya dengan sebanyak mungkin kegiatan dan mengikatnya dengan konsistensi. Dengan begitu, seberapa pun biaya yang dibutuhkan, usaha yang dibutuhkan, dengan kemurahan tangan Tuhan, kita pasti bisa membangun!

Gusti Yesus paring berkah, amin.

*)Penulis adalah Gembala Sidang GBI Wonomukti Semarang, sekaligus Anggota Pengawas YBI
Editor: Andry Waper

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here