(Opini) MENAKAR MINAT MENJADI PENDETA (BAPTIS) Part 2

0
110

Gereja

Ada beberapa gereja yang berhasil mengirimkan anak mudanya masuk STT. Misalnya Gereja Baptis Indonesia (GBI) Colomadu Surakarta, GBI Anugerah Gunung Bang Yogyakarta, GBI Getsemani Kediri (selebihnya penulis tidak tahu). Namun berapa banyak anak muda yang dikirim ke STT Baptis dari gereja yang lain?

Penulis pernah menggembalakan dua gereja Baptis. Tetapi tidak pernah dalam masa penggembalaan selama 18 tahun, ada anak muda yang mau masuk Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI). Apakah ada yang salah? Tentu saja tidak, karena sekali lagi menjadi pendeta adalah panggilan. Namun sudahkah gereja menciptakan kondisi dengan memberikan pengajaran, “Ladang sudah menguning dan siap dituai… mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian untuk mengirimkan pekerja-pekerja.”

Salah satu tugas gereja adalah memuridkan supaya ada pekerja untuk tuaian. Fungsi ini sudah banyak dilakukan namun sebatas untuk melayani di gerejanya. Beberapa gereja, harus kita akui, takut kehilangan orang-orang yang berpotensi kalau mereka studi di STT dan melayani di gereja lain. Namun jika fungsi pemuridan dalam sebuah gereja berjalan dengan baik, akan ada anggota jemaat yang terpanggil melayani sepenuh waktu (Roma 10:14-15).

Gereja dan gembala sidang memiliki peran strategis untuk mengkondisikan anak-anak muda terlibat dalam pelayanan sepenuh waktu dan diperlengkapi di STT. Gembala sidang sebagai pemimpin utama gereja, harus mulai mendoakan dan menyiapkan orang yang diutus untuk melayani sepenuh waktu, termasuk membiayai mereka selama empat tahun studi.

Mari menghitung, berapa orang dalam lima tahun terakhir gereja Anda mengutus anggota masuk STBI atau STT Baptis lainnya? Atau selama gereja berdiri, berapa orang yang menjadi pendeta atau istri pendeta? Jika tidak ada, mulailah mendoakan anak-anak Saudara dan anak-anak di gereja Saudara. Persiapkan mereka sebaik mungkin untuk terjun dalam pelayanan sebagai pendeta. Ciptakan peluang dan kondisikan anak-anak muda di gereja mengerti agenda dan tujuan Allah dalam kehidupan mereka.

STT Baptis

Salah satu keberhasilan sebuah produk bisa diterima dengan baik oleh publik adalah gencarnya promosi melalui teknologi informasi dan media sosial. Aturan-aturan pemerintah terhadap semua sekolah tinggi untuk memiliki informasi berbasis teknologi seharusnya disambut dengan antusias. Dengan begitu, semua promosi dan informasi keberadaan STT Baptis bisa diakses publik kapan pun dan di mana pun.

Ilustrasi pemuda-pemudi gereja Bapis | dok.IBYC

GGBI memiliki empat STT (di Semarang, Jakarta, Medan, dan Bandung) yang dalam melakukan promosi seringkali tumpang tindih tanpa ada koordinasi yang baik, setidaknya untuk tiga STTB di Jawa. Akibatnya, dalam promosi ke gereja-gereja seolah saling berebut. Tentu ini tidak sehat apalagi masing-masing STT tidak memiliki kekhasan sehingga “layak dijual dan menarik minat”.

Secara administrasi pastilah STBI sebagai “anak tertua” jauh lebih mapan dan sudah memiliki sistem yang berjalan dengan baik. Maka, STBI akan lebih mudah untuk merekrut minat anak-anak muda belajar di sana. Sementara STT Baptis di Jakarta dan Bandung harus berjuang keras untuk bisa lebih diterima gereja.

Misalnya, untuk tahun ajaran 2019/2020, STT Baptis Jakarta menerima 18 mahasiswa teologi dengan hanya 7 orang yang berasal dari gereja Baptis. Sementara STT Baptis Bandung menerima 10 mahasiswa dan tak satu pun yang berasal dari gereja Baptis. Maka, mereka harus “membaptiskan” mahasiswanya. Sementara itu STT Baptis Medan lebih terfokus untuk penyediaan tenaga pelayan di Sumatra.

Terlepas dari itu semua, STT Baptis sebagai lembaga yang mendidik para “calon pendeta” harus mengakar di gereja. Dengan begitu, mereka bisa memberi dukungan finansial penuh kepada anggotanya yang belajar di STT. Para pimpinan STT Baptis harus memiliki hubungan yang erat dengan gereja dan gembala sidang yang melayani. Sebab, sesungguhnya gerejalah yang akan memakai lulusan STT. Di samping itu para mahasiswa STT Baptis akan banyak “nyantrik” atau belajar di gereja-gereja selama masa weekend atau liburan pelayanan.

GGBI

Umat Baptis telah menyepakati sistem kegerejaannya dengan istilah Keluarga Besar. Salah satu indikator keluarga adalah kepedulian antaranggota dengan saling dukung. Tetapi perlu diingat, GGBI juga harus membuat program yang mampu menjawab kebutuhan umat serta membangkitkan minat pemuda Baptis untuk menjadi pendeta.

Salah satu program yang penulis amati adalah Pendidikan dan pelatihan (diklat) kepemimpinan Baptis. Jika tidak salah, program ini bertujuan menciptakan pemimpinpemimpin baru di lingkungan Baptis Indonesia. Namun apakah memang diklat ini, yang materinya hampir sama dengan sekolah teologi, bisa menarik minat para pemuda untuk mengikutinya sehingga mereka terbeban untuk masuk ke STBI?

Program lain yang cukup berpengaruh untuk menarik pemuda masuk sekolah teologi adalah Persekutuan Pemuda dan Mahasiswa Baptis Indonesia (PPMBI), Persekutuan Mahasiswa Baptis dan Latihan Kepemimpinan Kaum Muda. Walaupun program-program ini berubah nama, seharusnya esensi dan isinya tidak boleh berubah. Pada PPMBI 1996 sampai 2002 banyak pemuda mengambil keputusan masuk STBI. Bukankah program ini efektif? Jika keluarga sudah menopang, gereja memfasilitasi, Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI membuat program yang mendarat maka akan ada orang-orang muda yang tergerak menjadi pendeta atau istri pendeta.

Kembali kepada judul opini ini, “Menakar Minat Menjadi Pendeta” jika dijawab jujur, minatnya sangat kecil. Bahkan beberapa lulusan STT Baptis (khususnya yang laki-laki) memilih untuk tidak menjadi pendeta. Karena itu mari ciptakan kondisi bahwa pekerjaan Tuhan membutuhkan pekerja untuk tuaian. Siapakah pekerja itu? Bisa jadi Anda, anak Anda atau murid Sekolah Minggu Anda.

Baca part 1 nya link di bawah ini :

MENAKAR MINAT MENJADI PENDETA (BAPTIS) Part 1

*)Pdt. Aryanto Budiono

adalah mantan

gembala sidang,

tinggal di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here