Muda – RISK TAKER, WHY NOT?

0
108

Hidup selalu ada tantangan. Dan setiap tantangan selalu ada risiko.
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan setiap pilihan selalu ada risiko.
Bahkan orang yang tidak berani mengambil risiko sekalipun, sebenarnya dia tetap dalam risiko juga.
Artikel kali ini akan mengajak kamu untuk berani menghadapi setiap risiko dari tantangan dan pilihan yang diambil.
Mungkin kamu mengambil keputusan tanpa terlalu berpikir panjang. Atau mungkin sebuah keputusan diambil setelah berpikir dan menimbang-nimbang. Atau bahkan kamu tidak berani mengambil keputusan. Terserah dengan teman atau orang tua saja. Apa pun itu, semua ada risikonya.

Lalu, bagaimana kamu bisa mengambil sebuah keputusan, menghadapi sebuah tantangan dengan risiko seminimal mungkin?
Setidaknya ada ilmu yang mengajarkan untuk menganalisis bahkan menekan semaksimal mungkin suatu risiko. Kamu nanti mungkin akan mempelajarinya, yakni manajemen risiko.

Artinya, kamu tidak bisa hidup lepas dari risiko. Suka atau tidak suka, apa pun yang kamu lakukan selalu ada risiko.
Kamu harus menjadi anak muda yang berani mengambil risiko. Berani itu bukan berarti asal-asalan dalam mengambil keputusan. Kamu harus pintar menganalisis, minimal tahu baik atau buruk dari keputusan yang kamu ambil. Apa risikonya dan berapa besar peluang terjadi hal-hal yang kurang baik. Bagaimana mencegah atau mengantisipasi risiko kecil hingga risiko besar.
Berikut adalah urutan analisis yang bisa kamu lakukan untuk berani mengambil risiko dengan lebih smart!

1. Berani keluar dari zona nyaman.
Miliki mental untuk berani ambil risiko! Kamu berani keluar dari zona nyaman yang ada. Kamu bangkit dan beranjak dari kenyamanan. Kamu keluar dan melangkah menuju suatu zona yang baru. Inilah mental yang akan membawa kamu untuk bertumbuh.
Jika hanya diam dalam zona nyaman seperti beruang hibernasi di musim dingin, kamu tidak akan bertumbuh. Kamu tidak akan mengalami hal-hal baru yang akan membawa kamu pada next level. Mental dan sikap hati untuk keluar dari zona nyaman itu mungkin keluar dari rutinitas yang selama ini mengikat kamu. Keluar dari kebiasaan buruk yang tidak sehat. Meninggalkan pergaulan yang negative. Berani dikucilkan dan bisa saja ditinggalkan oleh teman-teman yang membawa pengaruh kurang baik. Menolak untuk terlibat dalam kegiatan yang melanggar hukum dan etika.

2. Identifikasi.
Setelah kamu memiliki sikap mental berani keluar dari zona nyaman, maka kamu sudah siap menjadi smart risk taker. Hal berikutnya adalah, kamu belajar mengidentifikasi keputusan yang diambil.
Identifikasi berarti kamu mempelajari baik dan buruk dari keputusan tersebut. Peluang risiko terburuk itu apa dari keputusan yang diambil.
Pindah kerja, pindah sekolah, memutuskan hubungan pertemanan, keluar dari kebiasaan, menolak ajakan, dan masih banyak lagi keputusan yang akan kamu ambil. Indentifikasi semaksimal mungkin apa saja yang bisa terjadi pada keputusan tersebut. Satu keputusan, bisa memiliki banyak risiko. Kamu identifikasi risiko apa saja. Setelah itu, kamu lakukan asesmen (penilaian) risiko.

3. Asesmen.
Berikutnya dari setiap risiko yang mungkin terjadi, kamu buat daftar kira-kira apa faktor penyebab dan bagaimana dampak risiko tersebut. Semakin lengkap asesmen risiko yang dibuat, semakin lengkap apa-apa saja yang menjadi faktor penyebab dan apa saja dampak dari risiko tersebut. Ini akan membantu kamu dalam mengantisipasi apa yang mungkin terjadi di depan.
Jangan malas membuat asesmen. Cukup ambil satu lembar kertas. Tulis risiko apa saja, lalu tulis apa saja faktor yang memicu risiko tersebut. Lanjut dengan kira-kira apa dampaknya.

4. Lakukan! Action!
Setelah melakukan identifikasi, asesmen, maka kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih baik. Ambillah keputusan terbaik yang bisa kamu ambil. Risiko mungkin besar, tetapi sudah kamu buat identifikasi dan asesmen sehingga kamu bisa melakukan antisipasi. Bisa saja sebelum mengambil keputusan, kamu bisa membahasnya dengan teman dekat, pembimbing rohani atau guru dan ortu.
Menunda mengambil keputusan bukan berarti bebas risiko. Kamu harus identifikasi dan asesmen juga risiko yang terjadi jika kamu tidak mengambil keputusan tertentu.
Kesempatan dan moment terbaik bisa saja hilang karena ketakutan mengambil keputusan.

5. Monitoring.
Setelah keputusan diambil, kamu harus tetap melihat apakah risiko yang sudah kamu identifikasi, terjadi? Jika terjadi, apakah langkah-langkah antisipasi yang kamu lakukan bisa meminimalkan dampak risiko tersebut? Semua sudah terukur dan sudah bisa diantisipasi semaksimal mungkin.
Teruslah memantau dan melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari keputusan yang kamu ambil. Sebab setiap keputusan akan melahirkan keputusan baru. Jangan terlena dengan hasil yang mungkin memuasakan dari keputusan yang diambil.

6. What if?
Kalaupun salah mengambil keputusan, anggaplah itu sebagai suatu pelajaran yang berharga. Jangan menyerah! Walaupun dampaknya mungkin di luar prediksi yang seharusnya. Jangan juga menjadi hancur dari dampak risiko keputusan salah yang terjadi. Setidaknya kamu sudah berani mengambil suatu keputusan.

Akhirnya, hidup harus terus bergerak. Jangan berhenti di titik tertentu. Mungkin itu titik nyaman atau titik yang seolah-olah menghancurkan. Teruslah bergerak maju. Hidup ini penuh risiko. Dan hanya orang-orang berani yang tidak menyerah, yang bisa menjadi pemenang! Dan orang tersebut adalah kamu!

Selamat! Kamu sudah menjadi anak muda yang smart risk taker!
Keep Move On!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here