LIPUTAN KHUSUS I: MENGAPA PERLU ADA MUBES?

0
400

Hajatan besar lima tahunan umat Baptis Indonesia tinggal selangkah lagi. Musyawarah Besar Gabungan Gereja Baptis Indonesia (Mubes GGBI) akan digelar 24 – 27 Maret 2020 nanti di Graha Kinasih, Caringin, Bogor, Jawa Barat.

Mengapa sih, perlu mubes?

Pdm. Sophian Immanuel

“O…. kalau itu utusan gereja, perlu untuk ikut mengawasi,” ungkap Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatinegara Jakarta, Pdm. Sophian Immanuel yang akrab dipanggil “Oki”, kepada Kikie dari Suara Baptis (SB).

Sampai lima tahun lalu, hajatan besar tersebut bernama “Kongres GGBI”. Pokok pembahasan kongres adalah menilai kinerja organ GGBI dari Badan Perwakilan Gereja atau BPG GGBI (kini Badan Permusyawaratan Nasional atau Bamusnas), Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI, Yayasan Baptis Indonesia (YBI), dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI). Selain itu, bagian paling menyita perhatian dalam kongres adalah pemilihan pimpinan BPG GGBI, Pimpinan BPN GGBI (ketua, wakil dan sekretaris jenderal), dan Pembina YBI & YRSBI (yang selanjutnya akan memilih Pengawas dan Pengurus kedua yayasan tersebut).

Sementara dalam mubes 24-27 Maret 2020 nanti, para pimpinan organ GGBI tersebut tinggal disahkan dan dilantik. Sebelumnya, gereja-gereja anggota GGBI telah memberikan suara untuk memilih calon-calon pimpinan Organ GGBI. Pilihan tersebut kemudian diranking dan ditetapkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) GGBI 2019 di Salatiga.

Memang, Mubes GGBI 2020 masihi tetap menghadirkan persidangan-persidangan panjang untuk membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) GGBI, pertanggungjawaban program dan anggaran organ GGBI, serta visi-misi GGBI 20 tahun ke depan. Namun suasana mubes nanti akan sangat berbeda. Takkan terjadi persidangan-persidangan hingga lewat tangah malam bahkan sampai subuh karena alotnya pemilihan pimpinan organ GGBI. Namun juga nuansa persekutuan dan pembelajaran akan muncul dengan digelarnya berbagai kelas lokakarya dan seminar. Kelas-kelas tersebut dapat diikuti anggota gereja Baptis, bukan hanya anggota gereja yang diutus resmi mengikuti mubes.

Soal model baru mubes tersebut, Pdm. Oki berkomentar, “(Model Mubes GGBI 2020 tersebut) mengadopsi Konferensi Baptis Asia atau dunia. Ya, mungkin bisa saja, tapi menurut saya orang Baptis belum siap untuk hal seperti itu.”

Lantas, seberapa pentingkah mengikuti mubes?

Tim SB sudah menghubungi Ketua BPN GGBI Pdt. Yosia Wartono melalui telepon maupun percakapan whatsapp (WA) tetapi tidak ada jawaban. Namun tim SB berhasil mewawancarai Wakil Ketua BPN GGBI Pdt. Daniel Royo Haryono.

Dijelaskannya, mubes adalah perangkat penting dalam GGBI untuk mengambil keputusan-keputusan tertinggi dan sarana menentukan arah pelayanan lima tahun berikutnya.

Pdt. Daniel Royo Haryono

“Kehadiran utusan gereja dalam mubes ini sangat penting. Pertama, untuk membuktikan komitmen dan tanggung jawabnya sebagai anggota GGBI. Kedua, terlibat langsung dalam memelihara dan menjaga keberlangsungan hidup GGBI,” demikian penjelasan Pdt. Royo.

Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Peniel Surabaya tersebut menambahkan, ketika hadir dalam mubes, gereja akan langsung mengevaluasi pelaksanaan program yang telah ditetapkan bersama dan dikerjakan gereja-gereja serta pengurus organisasi di lingkungan GGBI. Gereja juga terlibat langsung dalam menentukan arah pelayanan GGBI lima tahun ke depan dan menentukan pemimpin.

Gembala sidang GBI Peniel ini menegaskan, menjadi tanggung jawab gereja untuk mengirim utusan ke mubes. “Ini adalah kewajiban dan komitmen mutlak yang harus dilakukan gereja anggota GGBI.”

Dikatakannya, materi mubes sudah disampaikan melalui sosialisasi BPN GGBI dalam munas tahun lalu. Namun diakuinya, sosialisasi tidak dapat dilakukan di seluruh daerah.

Pdt. Stephen Theorupun

Tidak adanya sosialisasi materi mubes ini memang diungkapkan Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) GGBI Kawasan Timur Indonesia (KTI) Pdt. Stephen Theorupun, “Saya sedih sih, kami di KTI tidak mendengar detail keberadaan mubes nanti seperti apa. Tidak ada sosialisasi karena biaya dan jarak yang jauh.”

Pdt. Royo membenarkan, sosialisasi mubes tidak sampai menyentuh BPD GGBI KTI karena terkendala jarak dan biaya. Ia berharap, setidaknya gereja sudah menerima sosialisasi mubes dan materinya melalui munas 2019, juga melalui beberapa pertemuan khusus seperti di Persekutuan Wanita Baptis Indonesia Nasional di Bali tahun lalu.

Dikatakannya, semua materi mubes yang disiapkan panitia pengarah melalui proses pembahasan dan penajaman. Materi tersebut diputuskan dengan penuh hikmat Tuhan demi memenuhi Amanat Agung Kristus. Dengan begitu, sambungnya, gereja dan umat Baptis berkomitmen bergerak bersama untuk memenangkan banyak jiwa, mendewasakan umat, mendorong gereja-gereja lokal bertumbuh dan berkembang menjadi besar.

Lantas, seseru apa perbincangan dalam mubes nanti?

“Ada hal-hal yang penting atau perlu diperhatikan, tetapi masih seolah-olah tertutupi dan sebagainya. Salah satunya laporan keuangan. Ketika membaca laporan tersebut dan ada yang kami pertanyakan, tetapi sayangnya jawaban yang diberikan tidak memuaskan,” ujar Pdm. Oki.

Arseindy Yushabana

Di tempat yang berbeda, Asisten Gembala Sidang GBI Batu Zaman Bandung Arseindy Yushabana  berpendapat, “(Pembahasan seru) masih tetap sepertinya anggaran dasar, yang kedua mungkin tata cara penjaringan (calon pipmpinan Organ GGBI) itu sendiri.”

 

Menanggapi masalah itu, Pdt. Royo menjelaskan, laporan keuangan BPN GGBI sudah beres dan sudah dilakukan audit eksternal sejak tiga tahun lalu.

“Perihal pemilihan pimpinan, GGBI tidak menyimpang dari asas kongregasional karena landasan hukumnya adalah AD/ART yang diputuskan umat melalui Kongres X (GGBI). Dan pelaksanaan melibatkan gereja anggota GGBI secara langsung dan terbuka. Hasilnya telah disampaikan dan ditetapkan oleh munas (2019),” tegasnya.

Ayah dua anak ini juga menjelaskan, sesungguhnya mubes nanti tidak berbeda dengan kongres. Keduanya adalah perangkat organisasi untuk mengambil keputusan untuk mencapai tujuan bersama umat Baptis Indonesia. Perbedaannya hanyalah soal penamaan. Sedangkan semangat yang diusung adalah semangat musyawarah dengan mengedepankan prinsip-prinsip kekeluargaan. Dengan mengusahakan permufakatan, diskusi-diskusi yang terjadi diharapkan lebih ramah.

Soal penjaringan calon-calon pimpinan organ GGBI yang masih dipertanyakan sebagian kalangan, Ketua bamusna GGBI Pdt. Hana Aji Nugroho mengatakan, sistem penjaringan tersebut memang sudah sesuai dengan AD/ART GGBI. Nama-nama calon pimpinan dibawa dari gereja-gereja anggota GGBI kemudian diusulkan dalam musyawarah daerah. Hasil musyawarah daerah tersebut lalu dibawa ke Munas GGBI 2019 yang kemudian menyepakati nama-nama calon pimpinan organ GGBI.

Sedangkan mengenai kaderisasi kepemimpinan, Gembala Sidang GBI Karangayu Semarang ini menjawab, “Ini tidak menutup kemungkinan untuk anak-anak muda (berkiprah), sehingga di mubes nanti ada pergerakan kaum muda. Dan kita mulai melibatkan anak-anak muda supaya aktif, supaya kelihatan pemimpin-pemimpin muda.”

Pdt. Hana Aji Nugroho

Pdt. Hana yakin, kaderisasi sedang terus berlangsung melalui gereja lokal, lembaga-lembaga di lingkungan GGBI hingga BPN GGBI yang melibatkan banyak anak muda.

Immanuel Wanda

 

 

Memang, BPN GGBI banyak melibatkan orang kaum muda dalam pelaksanaan mubes 2020. “Banyak nih, kaum muda yang yang ambil bagian. Di bagian acara sebagai pengisi dan Baptist Future Leader juga ada,” ujar Immanuel Wanda, anggota GBI Getsemani Jakarta.

David Vidyatama

Sementara itu Sekjen BPN GGBI David Vidyatama mengungkapkan perlunya kepengurusan baru nanti memperhatikan tenaga-tenaga muda. “Yang perlu jadi fokus memang harus SDM (sumber daya manusia)-nya. Mempersiapkan kader-kader yang lebih muda, lebih fresh (segar) ya, dengan cara terstruktur atau pun tidak. Harapannya, makin banyak kaum dewasa muda dan orang muda yang terlibat supaya tidak kekurangan SDM untuk pemimpin-pemimpin berikutnya.”

 

Rachmadi Johan Setiawan

Direktur Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Bengkulu, Rachmadi Johan Setiawan berharap, dengan diadakan mubes, para pemimpin Baptis yang baru nanti akan fokus pada pelayanan yang sesungguhnya.

“GGBI itu ada untuk tujuan Allah, bukan tujuan organisasi. Itu yang perlu jadi prioritas,” harapnya.

 

 

BACA JUGA LIPUTAN KHUSUS II : Warna Baru Mubes XI GGBI TAKKAN LAGI MENGURAS ENERGI?

BCA JUGA LIPUTAN KHUSUS III: Calon Pimpinan Organ GGBI “Itu Lagi, Itu Lagi” DAPATKAH MUBES MENGUBAHNYA? PART 

Penulis: Tiara Ajeng Sutadji & Kikie

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here