(Opini) MENAKAR MINAT MENJADI PENDETA (BAPTIS) Part 1

0
265

Ada joke lama: yang masuk Sekolah Tinggi Teologi (STT) adalah pemuda-pemudi yang tidak diterima di perguruan tinggi negeri karena kurang pintar. Lantaran untuk masuk perguruan tinggi swasta tidak mampu bayar, masuklah ke STT yang biaya kuliahnya murah bahkan mendapat beasiswa penuh.

Tidak perlu tersinggung dengan joke ini. Sekalipun tidak 100 persen benar, data menunjukkan, jarang orang tua yang memiliki anak-anak pintar mendorong mereka masuk STT. Bahkan beberapa orang tua tidak mampu atau tidak mau membiayai anaknya kuliah di STT.

Memang ada pengecualian.

Lalu, menjadi pendeta itu pilihan dan panggilan ? Pertanyan ini sulit dijawab karena bersifat personal dalam hubungannya dengan Tuhan. Seseorang bisa saja baru terpanggil menjadi pendeta ketika sudah beberapa semester belajar di STT. Namun ternyata ada juga seseorang yang setelah lulus STT tidak mau menjadi pendeta karena merasa itu bukan panggilannya.

Minat seseorang tentu tidak serta merta muncul mendadak. Pasti ada promosi, pengkondisian, lingkungan yang mendukung maupun keyakinan bahwa yang diminati akan
membawa keuntungan atau kehidupan yang lebih baik. Menakar minat menjadi pendeta (Baptis) bukan perkara mudah karena menjadi pendeta adalah panggilan khusus yang diyakini berbeda dengan “profesi” lain.

Kenyataannya, menjadi pendeta (Baptis) bukan menjadi cita-cita pemuda masa kini. Bahkan sebagian tidak mau menjadi pendeta (Baptis) karena terlalu berat tuntutannya. Sebelum menyimpulkan minat para pemuda untuk menjadi pendeta (Baptis), ada beberapa pihak yang seharusnya ikut andil dalam menumbuhkembangkan minat untuk menjadi pendeta Baptis.

Keluarga

Keluarga berperanan sangat penting untuk mendidik anak dan memberikan wawasan yang benar tentang kehidupan. Patut diakui, tidak semua orang tua rela anaknya kuliah di STT dan menjadi pendeta. Bahkan mereka yang sangat menghargai serta mendukung pendeta sekalipun tidak secara spesifik mendoakan anaknya menjadi pendeta. Bahkan seorang pendeta Baptis yang penulis kenal tidak menginginkan anak-anak lelakinya menjadi pendeta.

Mengapa? Karena menjadi pendeta Baptis itu berat dan sulit bahkan menderita. Bukankah ini kontradiktif?

Maka, jika memang ingin meningkatkan minat anak-anak muda menjadi pendeta (Baptis),
pola pikir orang tua juga harus diubah. Orang tua Kristen (Baptis) harus memiliki persepsi yang baik tentang pendeta sebagai “profesi” yang mulia karena menjadi pekerja Tuhan (Lukas 10:2) dan pekerjaan yang indah (1 Timotius 3:2).

Jika berbicara mengenai beratnya menanggung beban, semua profesi memiliki tantangan tersendiri. Hampir semua gereja Baptis memiliki anak muda yang bertalenta di bidang musik, pelayanan Sekolah Minggu dan lainnya, sangat menyukai gereja dan memperhatikan kehidupan bergereja.

Namun ketika ditantang menjadi pendeta, mereka mengatakan itu bukan panggilannya. Beberapa mengatakan, “Kalau semua anak muda menjadi pendeta, lalu siapa yang menjadi jemaatnya?” Sementara ketika ditantang mengambil pelayanan sepenuh waktu, dengan nada bercanda mengatakan, “Ini aku Tuhan, tapi utuslah dia,” (sambil menunjuk teman lainnya).

Memang “profesi” seorang pendeta sangat berat dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi sesuai Firman Tuhan dan persayaratan GGBI (1 Timotius 3:1-7). Namun orang tua juga harus membawa anak-anak kepada satu pengertian bahwa “profesi” ini akan memberi dampak dalam mempengaruhi banyak orang. Samuel mendapatkan panggilan sebagai nabi karena Hana menyerahkan Samuel yang masih kecil kepada Tuhan untuk dididik Imam Eli.

Menciptakan peluang atau pengkondisian bisa dilakukan dimulai dari keluarga Kristen. Mungkinkah itu anak Saudara?

Baca part 2 nya link di bawah ini :

MENAKAR MINAT MENJADI PENDETA (BAPTIS) Part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here