Maydeline – TUHAN TIDAK MENCIPTAKAN PRODUK GAGAL!

0
479

— Perjuangan gadis remaja yang ditinggalkan kedua orang tua dan harus mengasuh adik-adiknya —

Menyaksikan orang tua bercerai di usia remaja selalu menjadi pengalaman yang meremukkan perasaan. Itulah kejadian getir yang mengguncang hidup Maydeline, anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Palembang, Sumatra Selatan awal 2018 lalu.

Meski Maydeline sudah merasakan hubungan orang tuanya rusak berat, ia tak menduga ayahnya ternyata menikah lagi dan akan menggugat cerai ibunya. Tragisnya, kepada Maydeline, sang ayah mengatakan langsung hal itu melalui saluran telepon.

“Aku ingat banget, waktu itu aku lagi di gereja, lagi fotokopi dan ada telepon masuk untuk aku dari Papah bawa kabar itu. Saat itu aku ngerasa, hidup aku runtuh banget dan aku makin bertanya sama Tuhan, ‘Kenapa, Tuhan?’,” ungkap Maydeline kepada wartawan Suara Baptis (SB), Ima Apriliyani Ahffani.

Maydeline memang tidak lahir dari keluarga yang harmonis. Sedari kecil, ia harus tinggal berpindah-pindah dan bingung. Ini karena sang ayah harus menghindari utang judi. Bahkan saat Maydeline masih belajar dan bermain di play group di Batam, ia harus berpindah ke Palembang. Maydeline harus menjalani masa sekolah dasar lebih cepat daripada umurnya. Pada saat itu Maydeline tumbuh dalam keluarga yang utuh walau berantakan.

Ayah Maydeline berasal dari keluarga Kristen, sedangkan ibunya dari keluarga Muslim. Karena hidup ayahnya tidak bisa dijadikan teladan, Maydeline sempat mendalami agama Islam mengikuti ibunya, mulai dari berdoa, salat, dan Alquran.

Kecanduan judi semakin menyulitkan kehidupan keluarganya. Sampai suatu ketika, ibu Maydeline mengajak suaminya ke gereja supaya mendapat pertolongan rohani dan terlepas dari judi. Demi mengubahkan hati suaminya, sang ibu juga mengajak anak-anaknya bergereja.

Ketika sulit membawa ayahnya untuk “kembali” kepada Tuhan, Dia justru mengubahkan hati ibunya supaya percaya kepada Tuhan Yesus. Maydeline sendiri belum menerima Tuhan Yesus ketika ibunya meminta ditemani untuk mengikuti kelas baptisan. Proses kelas pengajaran baptisanlah yang membawa gadis kelahiran 17 Mei 2000 itu mengenal Tuhan Yesus dan percaya kepada-Nya.

“Aku tuh sebenernya cuma ikut nemenin Mamah,” jelas Maydeline kepada SB.

Dalam usia remaja mendapati keadaan keluarganya yang membingungkan, tidaklah mudah. Dalam proses pengenalannya akan Tuhan Yesus, Maydeline jadi sering mempertanyakan, kenapa hal sederhana yang ia rindukan dalam keluarganya, yakni keharmonisan orang tuanya, tidak juga didapatkan?

Bahkan kemudian Ayah Maydeline pergi, meninggalkan keluarganya begitu saja. Karena lama sekali tidak ada kabar apa pun dari ayahnya, sang ibu pun memindahkan Maydeline dan adik-adiknya, Angeline dan Jimmyline, ke Palembang. Mereka tinggal bersama kakek dan nenek Maydeline dari pihak ibu.

Maydeline semakin gundah. Apakah Tuhan ternyata tidak mengasihinya? Atau apakah dirinya adalah sebuah produk yang gagal?

Akhirnya, perceraian kedua orang tuanya tak terhindarkan. Setelah lama berpisah dengan ayahnya, Maydeline harus mendapat kabar pahit itu melalui saluran telepon yang ditujukan ke nomor telepon sekretariat gereja. Ayahnya sudah menikah kembali dan akan menggugat cerai ibunya.

Sesudah perceraian itu, ibu Maydeline lalu menikah lagi dan harus berpindah kota. Terang saja, Maydeline dan adik-adiknya merasa semakin ditinggalkan.

Dalam masa-masa sulit akibat hantaman kepedihan yang bertubi-tubi, Maydeline berjuang untuk tetap dapat melihat hal-hal baik yang Tuhan ingin tunjukkan kepadanya. Ia berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak mengeluh kepada Tuhan.

Sebaliknya, Maydeline mencoba mengimani bahwa Tuhan mampu mengobati hati yang patah. Dalam situasi kelam itu, Tuhan berbaik hati mengirimkan orang-orang yang menolong Maydeline untuk tetap mengarahkan hati kepada Tuhan.

Pengalaman hidup yang berat lalu bahkan kemudian memotivasi Maydeline untuk melayani Tuhan dalam persekutuan remaja di gereja. Sama seperti Tuhan yang menangkapnya dalam keterpurukannya, lalu menemukan Tuhan dan menjadi tegar, seperti itu juga Maydeline ingin para remaja bisa menemukan Tuhan dalam masa muda mereka.

“Kalau bukan karena Tuhan, mungkin aku gak akan sekuat sekarang. Dan aku juga rindu anak-anak remaja seusia aku pada waktu itu juga bisa kenal Tuhan dan mengalami kasih Tuhan yang luar biasa,” tutur Maydeline.

Selain menjadi koordinator acara remaja di GBI Palembang, ia melayani sebagai ketua persekutuan mereka. Ketika Maydeline “lulus” dari kelompok usia persekutuan remaja, ia tetap melayani orang-orang muda itu sebagai mentor.

Maydeline memusatkan perhatiannya untuk memantau pertumbuhan rohani para remaja dalam keluarga, lingkungan sosial dan sekolahnya. Sementara dalam pelayanan kebaktian, Maydeline menjadi penari tamborin, bagian multimedia dan desainer publikasi.

Dari seorang anak broken home, Maydeline tumbuh menjadi pelayan Tuhan yang gigih. Ia bahkan memperluas pelayanannya dengan mendirikan Rumah Pelangi, panti asuhan untuk melayani anak-anak yang terlantar di jalanan! Pelayanan ini sebenarnya telah ia cita-citakan sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP).

Melalui pengalaman hidup dan hubungan pribadinya dengan Tuhan, Maydeline menyadari, ada sesuatu yang Allah ingin kerjakan melalui dirinya, yaitu membawa perubahan bagi banyak orang.

Hubungan akrabnya dengan Tuhan juga membawanya pada pemulihan hati dan penerimaan diri. Dalam kesakitan hatinya, Maydeline belajar memaafkan ayah-ibunya.

“Aku belajar mengampuni bukan sekadar karena orang tuaku yang butuh pengampunan, tetapi lebih karena aku yang butuh damai sejahtera dengan mengampuni,” ucapnya.

Karena pertolongan Tuhan, Maydeline berhasil melakukannya dengan baik. Ia dengan sukacita mengurus kedua adiknya, rutin mengadakan persekutuan keluarga, berdoa dan sharing bersama mereka. Maydeline juga membangun kembali hubungannya dengan ibu dan ayahnya walau berpisah tempat.

Ketika melakukan kilas balik hidupnya, Maydeline sangat bersyukur bisa melalui masa-masa pahit itu dengan baik karena Tuhan Yesus, karena ia berada dalam komunitas yang mengasihi Tuhan, dan terlibat dalam pelayanan yang membangun pribadi dan kerohaniannya. Baginya, pelayanan gerejalah yang membantunya dapat melewati hari-hari berat itu, termasuk pengembangan keterampilan dan karakternya.

Sesudah mengambil jurusan kedokteran di Universitas Sriwijaya, Palembang, kini Maydeline siap menjalani masa magang di sebuah rumah sakit. Ia dinyatakan lulus dalam sidang skripsi Januari lalu.

Di umurnya yang belum genap 20 tahun, Maydeline bersyukur. Di masa-masa terpuruknya, ketika ia merasa sebagai pribadi yang gagal karena tumbuh dalam keluarga yang pecah, kini Maydeline menganggap hidupnya sebagai hadiah istimewa dari Tuhan. Allah mempercayakan pengalaman yang luar biasa untuk dia alami, termasuk pemeliharaan Tuhan bagi masa depannya.

Penulis: Ima Apriliyani Ahffani

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here