Liputan: Sekolah Kristen Baptis Bandung 47 Tahun “MENJADI RUMAH KEDUA BUAT MURID”

0
83

Ratusan murid Play Grup (PG), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen Baptis Bandung memenuhi ruang Balarea, Bandung Trade Center, Bandung Sabtu, 23 Februari 2019. Beberapa anak SD tampak berlarian.

Mereka sepertinya tidak terganggu dengan kostum yang mereka pakai. Sesekali anak-anak itu terlihat membetulkan baju yang merosot dan aksesoris yang hampir lepas dari kepala. Lucu sekali. Sementara anak-anak SMP duduk lebih tenang di bangku masing-masing sambil mengobrol dengan temannya. Tak ayal, ruangan itu menjadi sangat ramai dengan tawa dan teriakan anak-anak.


Kehadiran Suara Baptis pada acara perayaan ulang tahun ke-47 Sekolah Kristen Baptis Bandung disambut beberapa anak berpakaian tradisional yang berdiri di depan pintu masuk. Dengan ramah mereka mempersilakan para tamu untuk masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Tampak hadir pendiri sekolah Kristen Baptis The Houw Liong, Pembina Yayasan Sekolah Baptis David Eryawan Tandei dan Ketua Pengurus Yayasan Sekolah Baptis Pdt. Isriyanto.

Acara diawali dengan kirab pengurus, kemudian dilanjutkan ibadah syukur. Pembina yayasan Pdt. Ardy Wiryadinata menyampaikan Firman Tuhan. Sambil berinteraksi dengan para murid, Pdt. Ardi mengatakan, “Allah mempunyai tujuan ketika menciptakan manusia. Antara lain supaya manusia saling mengasihi sesama dan peduli satu dengan yang lain. Kita juga harus kreatif dalam memelihara alam sekitar,” ujarnya.


Dalam sambutannya, ketua panitia Ruth Endang Jasmani menyampaikan, “Sebagai ciptaan Allah, kita harus menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita. Oleh karena itu, kita juga harus berbagi kasih kepada sesama dan peduli terhadap lingkungan.”

Saatnya perayaan ulang tahun, murid-murid naik ke panggung menampilkan bakat seni mereka. Anak-anak itu tampak begitu bersemangat dalam kepolosannya.

Kerja sama ciamik ditunjukkan murid, guru, dan kepala sekolah dalam sebuah drama modern. Terlihat sekali keakraban dan kehangatan di antara mereka. Orang tua murid juga turut memeriahkan acara perayaan dalam gerak dan lagu.


Selain sudah terakreditasi A (untuk SD atau SMP), sekolah ini banyak meraih prestasi. Antara lain, mendapat penghargaan dua tahun berturut-turut sebagai sekolah dengan integritas tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sekolah Adi Wiyata (sekolah berwawasan lingkungan) dan sebagai sekolah yang konsisten menerapkan sikap mental dan moral yang baik.

Prestasi nonakademis pun sering diraih di tingkat kecamatan maupun kota. Di tingkat kecamatan, sekolah ini berhasil mendapat juara pertama Ilmu Pengetahuan Alam dan futsal, juara kedua lomba melukis, puisi dan atletik. Sementara untuk lomba mendongeng mendapat juara ketiga. Di tingkat kota, sekolah ini dua kali menjuarai lomba Paskibra, juara dua futsal, juara pertama atletik dan juara pertama cerdas cermat Matematika.
Prestasi yang dicapai tidak terlepas dari sejarah berdirinya sekolah di Jalan Wastukencana No. 40 Bandung tersebut. Sekolah ini bertujuan menjadi tempat pendidikan umum yang terbaik dan berjiwa Kristen.

orang tua mengisi acara HUT YPK Baptis Bandung

TK Kristen Baptis resmi dibuka 1 Februari 1972 dengan 20 murid. Kegiatan belajar-mengajar pun menggunakan fasilitas Sekolah Minggu Gereja Baptis (GB) Pertama Bandung. Setahun kemudian, berdirilah SD Kristen Baptis, dimulai dengan satu kelas.
Seiring perkembangan dan minat untuk belajar di Sekolah Baptis, tahun 1976 dilakukan pembangunan kelas-kelas baru secara bertahap. Pada tahun 1977 peminat semakin banyak sehingga SD Kristen Baptis memiliki kelas yang lengkap (kelas 1-6). Kemudian di tahun 1996 berdirilah SMP Kristen Baptis.

Yang menarik, sekolah ini tidak sekadar menjadi tempat belajar-mengajar tetapi juga menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Mereka betah menghabiskan waktu di sekolah sambil menunggu jemputan orang tua. Biasanya mereka membuat pekerjaan rumah atau bermain bersama teman-teman ketika menunggu orang tua datang.

Sekolah ini juga peduli dalam perkembangan mental anak dengan mengadakan pembangunan karakter. Setiap hari mereka diajar bersikap dan berperilaku berdasarkan Alkitab, menghormati orang tua dan guru, menghargai teman dan menjaga lingkungan sekitar.

Bekerja sama dengan orang tua murid, setiap bulan sekolah mengusung tema untuk pembinaan karakter, misalnya ketekunan, kejujuran, dan sebagainya. Sekolah juga berkomunikasi dengan orang tua murid melalui pertemuan awal tahun dan akhir semester serta berbagai seminar. Sekolah Baptis tidak hanya menjadikan murid pandai secara intelektual tetapi juga berkarakter serupa dengan Kristus.

Pdm. Bachtiar Ari Wicaksono dan istri

Pdm. Bachtiar Ari Wicaksono, guru agama yang merangkap guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan), sekolah ramah anak itu peduli terhadap pembentukan kesehatan mental anak. “Sekolah bukan sekadar proses belajar-mengajar antara guru dan murid, tetapi guru bisa menjadi sayang mendampingi mereka.”

Menanggapi pernyataan komisioner bidang pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa kekerasan kepada anak di dunia pendidikan cukup tinggi, kepala sekolah Lydia Martini menegaskan, hal tesebut tidak pernah terjadi di lembaga pendidikan yang dia pimpin. “Sekolah kami sangat memperhatikan keamanan anak-anak. Dari sarana pendukung, proses belajar-mengajar semua aman, tidak membahayakan anak. Contohnya, karpet yang digunakan anak-anak PG/TK, terbuat dari karet. Semua peralatan penunjang pendidikan tidak berpotensi membahayakan dan melukai anak.”

Lydia Martini

Wanita yang sudah 20 tahun lebih menjabat sebagai kepala sekolah di beberapa sekolah ini melanjutkan, semua guru sudah dipesannya supaya bersikap tegas namun lembut dalam mengajar anak-anak. Ia melarang guru menggunakan kekerasan fisik.

Kenakalan anak di sekolahnya pun masih wajar. “Kalau dorong-dorongan sih ada, tapi masih wajar, kenakalan anak-anak. Tidak sampai menjurus ke kekerasan,” ujarnya.

Giarti Nugraeni

Menurut Giarti Nugraeni, salah seorang orang tua murid, pengawasan kepada anak-anak di sekolah ini cukup baik. Giarti pun bercerita, pernah ada anak yang kedapatan belum pulang, padahal kegiatan belajar mengajar sudah selesai. Pihak sekolah kemudian menelepon orang tua anak tersebut.

Ternyata orang tuanya lupa menjemput anak tersebut.

“Orang tua tidak perlu khawatir, di sini aman,” ujarnya.

Kepala Sekolah SMP Kristen Baptis, Heru Agus Broto Suryanto pun membenarkan hal tersebut. “Kalau di sini muridnya tidak telalu banyak. Jadi, semua murid terpantau baik secara akademik maupun secara mental.”

Ketika ditanya mengenai kekerasan yang sering terjadi di dunia pendidikan, Heru mengatakan, hal tersebut tidak terjadi di sekolah yang dipimpinnya.

Pria yang sudah 15 tahun menjabat sebagai kepala sekolah ini melanjutkan, “Gereja Baptis Pertama pun cukup peduli terhadap tumbuh-kembang anak secara rohani. Salah satunya dengan mengadakan Pendalaman Alkitab (PA) untuk semua murid seminggu sekali setiap Senin.”

Agar tidak terjadi lagi kekerasan di dunia pendidikan, Pdt. Bachtiar mengatakan bahwa diperlukan komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua. Terutama dalam pembentukan mental dan emosi anak.

“Menurut saya, orang tua harus terlibat, lingkungan, lalu sekolah,” ujar Gembala Sidang GBI Batu Zaman Cabang Ciparay ini.

Penulis: Kiki
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here