LIPUTAN | Retret PKMB BPD GGBI Banyumas

2
481

KEBANGKITAN KEMBALI KAUM MUDA BANYUMAS

Lega karena pertolongan Tuhan ketika situasi serasa di ujung tanduk, benar-benar dirasakan panitia Retret Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Banyumas  di Wisma Oblat Maria Imakulata Kaliori, Banyumas 1 – 2 Januari 2016 lalu. Pasalnya, tiga hari menjelang pelaksanaan retret, dana yang terkumpul hanya Rp 3 juta. Padahal anggaran perhelatan ini mencapai Rp 14 juta.

Sejak perencanaan awal, panitia tidak ingin membebankan anggaran retret ini kepada gereja-gereja Baptis di wilayah Banyumas. “Kami ingin membuktikan bahwa pemuda mampu (menyelenggarakan retret) sendiri,” tandas ketua panitia Tahan S. Siagian kepada Pemimpin Redaksi Suara Baptis Prisetyadi Teguh Wibowo Januari 2016 lalu.

Setiap peserta dikenakan biaya Rp 100 ribu, tetapi panitia mensubsidi 30 persen.  Jadi, peserta hanya perlu membayar Rp 70 ribu. Sisanya, menjadi tugas panitia, khususnya seksi dana dan usaha untuk mencari kekurangannya.

Bukan hanya soal dana. Berbagai kesulitan lain harus diselesaikan panitia penyelenggara. Mereka kebingungan memutuskan susunan acara. Selain itu, pertemuan antaranggota panitia sendiri juga sulit lantaran rumah masing-masing yang berjauhan. Akibatnya, komunikasi menjadi terhambat.

“Kami semua campur aduk. Ada yang was-was, bekerja keras, ada juga yang masih memikirkan acaranya nanti bagaimana, ini karena sebagian besar panitia masih amatiran,” ungkap Tahan.

Apalagi, sampai tiga hari menjelang pelaksanaan retret, dana yang dipegang panitia kurang dari seperempatnya.

Namun, bagai mendapat durian runtuh, pertolongan Tuhan memang tepat pada waktunya. Sehari menjelang hari H, panitia dikejutkan kedatangan Bayu, anggota panitia seksi dokumentasi, pendataan, surat-menyurat sekaligus pencari dana.

“Ketika H-1, Bayu datang membawa uang sekarung,” kenang pria kelahiran Pematang Siantar 5 Juli 1989 tersebut dengan gaya hiperbola. Tahan mencoba mengungkapkan kekagetan tersebut  ketika melihat Bayu datang dengan uang di dalam tas kresek besar. “(Saya) sampai nggak bisa ngitung. Saya hanya bisa bilang, ‘Wow!’ Susah mengungkapkannya.”

Bantuan dana kian berdatangan seperti air mengalir. Bukan hanya dari Banyumas, tetapi dari luar daerah juga.  Di sini, Tahan dan anggota panitia yang lain semakin melihat campur tangan Tuhan.

“Saya benar-benar mengalami pekerjaan itu bersama Tuhan,” paparnya.

Bahkan ketika retret sudah usai, masih ada dana yang masuk ke rekening panitia.

“Mungkin telat ngasihnya,  tetapi itu membuktikan masih ada yang peduli dengan acara ini. Saya rasa acara ini memberikan pembelajaran kepada panitia, di mana Tuhan selalu campur tangan. Ini kan acara Tuhan, bukan acara kita? Jadi, otomatis Tuhan yang campur tangan,” tutur pemuda lulusan Sekolah Tinggi Teologia Injili Indonesia (STTII) Purwokerto ini.

Ketua Seksi Kaum Muda BPD GGBI Banyumas Budi Priyanto pun mengaku sangat merasakan campur tangan Tuhan. Dari anggaran awal Rp 14 juta, saat pelaksanaan ternyata hanya membutuhkan sekitar Rp 10 juta. Dari dana yang sudah terpakai, masih ada saldo kurang lebih Rp 1,5 juta.

Tentu saja itu hal yang tidak dinyana, mengingat baru beberapa hari sebelumnya kecukupan itu seperti jauh dari mungkin.

Tahan dan Budi berharap, melalui retret ini pemuda Baptis Banyumas bisa lebih bersatu dan mampu menjadi generasi penerus yang membawa perubahan.

Dukungan Gereja untuk Kaum Muda

Retret kaum muda dibuka dengan kebaktian yang dipimpin Ketua BPD GGBI Banyumas Pdt. Timbul Srigati. Sesudah itu, selama dua jam Prisetyadi menyampaikan seminar tentang ledakan media sosial di depan 70-an peserta retret. Melalui berbagai klip video berisi tayangan musik, jebakan kencan online, stand up comedy hingga kasus-kasus pidana yang muncul karena kesembronoan menggunakan media sosial, Prisetyadi mengajak kaum muda melihat sisi negatif tetapi juga sisi positif perkembangan internet.

Terhadap beberapa peserta retret yang mengajukan pertanyaan, Prisetyadi menjelaskan beberapa gelagat kecanduan media sosial, mendorong memperbanyak aktivitas langsung bersama orang-orang di sekitar kaum muda untuk mengimbangi godaan internet, tetapi juga bagaimana mendapatkan manfaat-manfaat nyata dari kemajuan teknologi informasi itu. Misalnya, menggunakan aplikasi pengatur keuangan pribadi hingga kursus berbagai keterampilan secara gratis.

Acara dilanjutkan dengan kebaktian kebangunan rohani dipimpin dosen STTII Purwokerto Pdt. Antipas Rudianto. Malam harinya, persekutuan diadakan di luar ruangan. Pagi di hari kedua, peserta retret mengikuti outbound dan kebaktian penutupan.

Sejumlah peserta mengaku senang mengikuti retret ini karena mendapat teman-teman baru, terkesan dengan acaranya, hingga ada yang meminta panitia mengajar cara memanikan alat musik.

Budi mengatakan, bertolak dari acara ini diharapkan akan ada pergerakan yang bermakna. “Ya bisa dikatakan Banyumas itu kan kota pinggiran dan minoritas. Di sinilah kami ingin mendorong para pemuda agar bisa mengeluarkan potensinya, menggali talenta mereka sehingga bisa melayani di gereja masing-masing.”

Pria asli Cilacap ini rindu agar persekutuan pemuda berikutnya bisa didukung gereja-gereja di seluruh Banyumas. “Jadi kalau di BPD nanti ada rapat, kita mencoba untuk mengakomodasi apa yang mereka harapkan, supaya mereka bisa mendukung,” ucapnya.

Terlepas dari berbagai kesulitan, faktanya acara ini dapat berjalan lancar dan mengesankan. Memang, selain untuk tujuan keakraban, acara ini dibuat agar pemuda Baptis Banyumas cakap berorganisasi. Tak hanya itu, mereka juga dapat belajar dan merasakan dampak yang baik dari komunikasi tatap muka, bukan hanya online. Hal itu dimaksudkan agar pemuda tidak apatis akan dunia sekitarnya.

Ketua BPD GGBI Banyumas Pdt. Timbul Srigati pun terkesan dengan acara tersebut. “Saya rasa (retret) ini baik sekali. Ini benar-benar menjadi perhatian saya soal pelayanan,” ungkapnya.

Pdt. Timbul mengungkapkan, “Terus terang, kita (BPD GGBI Banyumas) seperti kehilangan generasi. Lima tahun yang lalu kita punya generasi emas, dan orang-orangnya masih melayani hingga sekarang. Setelah itu BPD GGBI (Banyumas) seperti kehilangan pemimpin-pemimpin muda.”

Retret ini seolah menjadi gebrakan awal kebangkitan kaum muda Baptis Banyumas. Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pengharapan, Nusawungu, Cilacap ini menjelaskan, seluruh anggota panitia retret sedang belajar untuk lebih kompak dan rapi dalam menjalankan tugasnya. Jika biasanya kepanitian acara mengandalkan dua-tiga orang saja, kali ini kaum muda yang terlibat dalam kepanitiaan harus belajar bertanggung jawab pada tugas masing-masing di samping harus tetap bekerja sama.

“Acara ini secara khusus bertujuan agar anak-anak muda bukan hanya mengikuti persekutuan biasa, tetapi juga ada waktu sharing (berbagi pengalaman) dan menjalin keakraban dari hati ke hati,” sambungnya.

Menurut Pdt. Timbul, awalnya acara ini hanya akan diadakan sebagai persekutuan perayaan Natal dan diperkirakan hanya akan berlangsung beberapa jam saja.  Namun seiring pembicaraan panitia, acara berkembang menjadi retret dua hari satu malam.

Melihat semangat yang muncul dari acara ini, Pdt. Timbul menargetkan, dalam lima tahun ini ada lima hingga enam pemuda Baptis Banyumas memutuskan menjadi hamba Tuhan. “Nggak usah banyak-banyak,” terangnya, “kalau ada pemuda yang mengambil keputusan seperti itu, tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri.”

Pdt. Timbul meminta gereja-gereja Baptis di Banyumas memberi dukungan lebih besar pada acara-acara persekutuan kaum muda. “Kalau gereja atau para orang tua tidak suka dengan pergaulan pemuda di luar Kristen, dan tidak mau anaknya bergaul atau berpacaran dengan orang di luar Kristen, seharusnya gereja memfasiitasi acara-acara di mana kaum muda berada dalam komunitas Kristennya. Kalau kita hanya melarang tetapi tidak mendukung proyek-proyek semacam ini, ya sama saja.”

Ia juga menegaskan, pergaulan pemuda zaman sekarang sangat memerlukan perhatian khusus mengingat persoalan pemuda di Banyumas cukup serius. Alih-alih terlibat aktif pelayanan di gereja, sebagian pemuda malah tergaet pacar non-Kristen  lalu mundur dari persekutuan. Bagi Pdt. Timbul, kasus demikian tidak boleh didiamkan.

Itu sebabnya ia sangat menganjurkan, Pengurus PKMB BPD GGBI Banyumas sungguh-sungguh menindaklanjuti perkembangan pelayanan kaum muda.

Tahun ini, Seksi Pemuda BPD GGBI Banyumas sudah menyiapkan program persekutuan rutin. Di antaranya olimpiade pemuda yang ditujukan sebagai pembangunan karakter. Para pengurus kaum muda daerah juga berharap, kelak ada persekutuan-persekutuan bertajuk misi yang menantang kesiapan pemuda dalam menerima panggilannya.

Penulis : Andry W.P

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here