Liputan: Pekan Musik Ibadah dan Musik Nasional 2019 “MENCARI PEMAHAMAN IBADAH YANG BERHASIL”

0
96

Bagaimanakah relevansi lagu-lagu himne dalam buku Nyanyian Pujian yang berusia cukup tua terhadap perkembangan gereja modern saat ini? Ketika banyak musik rohani kontemporer bertumbuh dan berkembang di kalangan orang Kristen, di manakah posisi Nyanyian Pujian bagi orang Baptis?

Mungkin ini adalah pertanyaan yang beberapa tahun terakhir muncul di benak pemuda dan panitia acara kebaktian di kalangan gereja Baptis. Menimbang antara memegang kebiasaan lama ataukah harus mengikuti arus perubahan dunia supaya tidak tertinggal, memperhadapkan panitia acara kebaktian yang tua maupun muda pada pilihan yang sulit dalam merancang liturgi yang pas bagi gereja Baptis modern saat ini.

Pekan Ibadah dan Musik Nasional (PIMN) di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kebayoran, Jakarta Selatan 6-8 Maret 2019 hadir untuk memberikan jawaban bagi isu atau hal-hal yang terjadi berkaitan dengan liturgi di gereja Baptis. Tahun ini, PIMN membawa tema “Nyanyian Pujian dalam Ibadah Masa Kini” untuk mencerahkan permasalahan dilematis yang terjadi. Berangkat dari permasalahan umum yang sama, PIMN mengajak gereja melihat keberadaan Nyanyian Pujian dengan kaca mata yang tepat dalam peribadahan gereja Baptis.

 

Memahami dengan baik apa esensi dan fungsi liturgi dalam peribadahan memang diperlukan. Dengan begitu, gereja akan memahami bagaimana membawa ibadah dalam rangka penyembahan dan membawa jiwa untuk siap mendengarkan Firman Tuhan.

PIMN menghadirkan pembicara yang memiliki latar belakang teologi peribadahan dalam Alkitab dan juga praktisi musik peribadahan yang memiliki kerinduan dalam mengembangkan lagu himne dalam kombinasi kontemporer yang tepat. PIMN terbagi menjadi beberapa sesi pleno dan sesi kelas kapita selekta.

Pada sesi pleno, peserta mendapat materi untuk menyamakan persepsi terhadap liturgi gereja. Para pembicara menekankan pandangan yang tepat pada budaya ibadah dan musik gereja serta mengajak gereja melihat sejarah perkembangan musik dan model ibadah dari berbagai zaman perkembangan Kristen.

Setelah memiliki persamaan persepsi, peserta memilih kelas kapita selekta sesuai dengan minat dan fokus pelayanan. Kelas kapita selekta terbagi menjadi beberapa kelas seperti kelas band, piano, ensambel (kelompok pemain musik dan penyanyi yang bermain bersama), paduan suara hingga kelas pemandu pujian. Setiap kelas kapita selekta membahas satu tema yang sama namun dalam penerapan yang berbeda, sesuai fokus masing-masing kelas.

Setelah menerima materi di sesi pleno dan menerapkannya sesuai fokus kelas kapita selekta, setiap peserta PIMN mengisi acara ibadah syukur yang diadakan Kamis malam, 7 Maret 2018. Persembahan kelas paduan suara maupun kelas ensambel turut terlibat dalam mempersembahkan hasil materi yang dipelajari di kelas kapita selekta.

Dalam ibadah syukur, Firman Tuhan yang dibawakan Pdt. Victor Rembeth mengajak jemaat kembali melihat panggilan Yesaya dan suasana penyembahan di sana. Anggota Gereja Baptis (GBI) Grogol Jakarta ini menekankan, tujuan utama liturgi dan penyembahan adalah untuk menyiapkan orang mendengarkan suara Tuhan. Dan ketika Tuhan memanggil untuk diutus, semua orang menanggapi dan siap menyambutnya. Sebuah ibadah dikatakan berhasil ketika bisa membawa jiwa-jiwa untuk mendengarkan kehendak Allah dalam kehidupannya dan menjawabnya dengan kesediaan untuk menghidupi panggilan hidup itu.

Sebelum PIMN berakhir, diadakan sesi diskusi panel. Dalam diskusi panel ini keresahan-keresahan yang dirasakan peserta dalam pelayanannya turut disampaikan supaya dijawab para pembicara. Keresahan yang umum terjadi di antaranya bagaimana standar pelayan ibadah dan musik yang baik, cara mengatasi kekurangan sumber daya pemain musik gereja, dan yang terpenting adalah bagaimana menanggapi lagu-lagu rohani masa kini.

Sesi diskusi panel ditutup Ketua Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) Pdt. Yosia Wartono, dengan kesimpulan bahwa ide utama lagu dan musik dalam penyembahan haruslah berpusat pada Tuhan. Fokus pada Tuhan ini tentu akan membawa standar pada pemain musik atau pelayan ibadah. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengiringi umat untuk bernyanyi tetapi mengiring umat untuk siap menghadap Tuhan.

Fokus ini juga harus turut mempengaruhi standar pelayan ibadah untuk membawa dirinya tertuju kepada Tuhan. Fokus yang sama ini juga membuat jemaat dan pelayan ibadah untuk jeli memilih dan memilah lagu kontemporer. Sebab banyak lagu yang bernuansa duniawi namun dikemas dalam suasana rohani. Kebanyakan, fokus lagu rohani kontemporer seperti ini bukan kepada penyembahan dan pemuliaan Tuhan namun pada diri-sendiri dan kemanusiaan. Dengan fokus yang mengarah pada Tuhan, menempatkan kita pada kaca mata yang tepat dalam melihat Nyanyian Pujian sebagai kumpulan lagu yang fokus utamanya adalah Tuhan, serta relevansinya pada dunia masa kini.

Pada akhirnya, PIMN ditutup dengan ibadah yang menantang setiap peserta untuk benar-benar memahami esensi ibadah dan pelayanan yang sesuai Alkitab, dan dengan sepenuh hati boleh menerapkannya di tempat pelayanan masing-masing.

Penulis: Immanuel Wanda

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here