Liputan Munas V GGBI 2019: “DARI PENERTIBAN GEMBALA SIDANG WANITA SAMPAI PENJUALAN TANAH CISALAK”

0
192

Musyawarah Nasional Ke-5 Gabungan Gereja Baptis Indonesia (Munas GGBI) kembali dihelat di Wisma Baptis Bukit Soka, Salatiga 26 -28 Maret 2019. Seperti Munas sebelumnya, acara ini membahas laporan pertanggungjawaban dan rencana kerja seluruh organ GGBI, baik Badan Permusyawaratan Nasional (Bamusnas) GGBI, Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI, Yayasan Baptis Indonesia (YBI), serta Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI).

Munas digelar tepat pukul 09.00 didahului dengan kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Helly Heriyanto, Ketua Komisi 1. Sementara itu, ketukan palu Ketua Bamusnas, Pdt. Hana Aji resmi membuka munas tepat pukul 10.00, dilanjutkan dengan musyawarah pleno I.

Dalam pleno I, BPN GGBI mengusulkan penerimaan tiga anggota baru yakni Gereja Baptis Indonesia (GBI) Ebenhazer Patti, Pulau Moa, Maluku Barat Daya, GBI Kasih, Gunung Madu Lampung, dan GBI Bojong Menteng, Bekasi, Jawa Barat. Dengan mulus, ketiga gereja ini diterima sebagai anggota baru GGBI.

Munas dilanjutkan dengan sidang pleno II yang membahas laporan pertanggungjawaban serta rencana kerja dan anggaran Bamusnas GGBI, BPN GGBI, YRSBI dan YBI.

Pdt. Paul Kabarianto, Wakil Ketua Bamusnas mengawali dengan melaporkan kinerja Bamusnas tahun anggaran 2018-2019. Laporan dilanjutkan dengan memaparkan program dan anggaran tahun 2019-2020.

Setelah Bamusnas GGBI, BPN GGBI menyampaikan pertanggungjawaban yang disampaikan Ketua BPN GGBI Pdt. Yosia Wartono dan sekjen David Vidyatama.

Ketua Pembina YRSBI dan YBI Pdt. David Sumarto mengawali laporan kedua yayasan milik umat Baptis tersebut. Setelahnya, Pdt. Victor Rembeth menyampaikan laporan mewakili YRSBI dan Edi Khrisharyanto mewakili YBI.

Ada hal menarik dalam pleno dua ini, yakni kesaksian mantan pemilik Klinik Mitra Setia Ungaran, Jawa Tengah dr. Timotius. Klinik tersebut telah resmi berpindah tangan ke YRSBI tahun lalu. Dalam kesaksiannya, dr. Timotius menceritakan alasannya lebih memilih menjual rumah sakit yang didirikannya kepada YRSBI dibanding kepada peminat lain.
Selain pembahasan laporan dari ketiga organ GGBI, munas kali ini juga membahas sosialisasi materi Musyawarah Besar (Mubes) Ke-10 GGBI tahun depan.

Menurut Tatik Valentino bagian pendaftaran, Munas kali ini dihadiri 154 utusan gereja yang terbagi dalam empat komisi. Komisi I membahas organisasi, komisi II membahas laporan pertanggungjawaban Bamusnas GGBI dan BPN GGBI, Komisi III membahas laporan pertanggungjawaban YBI dan YRSBI, serta komisi IV (ad hoc) membahas Bakal Calon Pemimpin Organ (BCPO) GGBI.

Hari kedua terjadi pembahasan-pembahasan yang menarik di tiap musyawarah komisi. Komisi I yang diketuai Pdt. Helly Heriyanto membahas rancangan materi Mubes Ke-10 GGBI 2020. Musyawarah di komisi ini cukup hangat. Beberapa pertanyaan dan usulan disampaikan sejumlah anggota Komisi I.

Pdt. Paul Kristiyono membahas Visi GGBI 2040 yang diusulkan panitia pengarah. Menurut Gembala Sidang GBI Cilegon, Banten ini, visi menjadi keluarga besar umat Baptis Indonesia yang misioner, sehat dan relevan dirasa tidak “mendarat”. Terlalu tinggi, sulit dipahami gereja dan lembaga.

Lain dengan Pdt. Rudy Batlayar. Asisten Gembala Sidang GBI Babarsari Yogyakarta ini mempertanyakan struktur organisasi keluarga besar GGBI. Menurutnya, struktur itu seakan-akan membuat YBI berada di bawah koordinasi BPN GGBI.

Tidak kalah dengan Komisi I, pembahasan di Komisi II pun hangat. Komisi yang diketuai Pdt. Yusuf Triwidodo mengusulkan perubahan nama Departemen Kependetaan menjadi Departemen Kependetaan dan Pejabat Gereja. Selain itu, Komisi II merekomendasikan Departemen Kependetaan diberi wewenang untuk menertibkan praktik penggembalaan yang dilakukan hamba Tuhan wanita.

Pembahasan pada musyawarah Komisi III yang diketuai Pdt.Thomas Suharjito pun terlihat panas. Permintaan supaya Rumah Sakit (RS) Baptis memberikan dana kepada BPN GGBI, disanggah Ketua Pengurus YRSBI Pdt. Victor Rembeth. Menurut anggota GBI Grogol Jakarta ini, yang bertanggung jawab atas pembiayaan BPN GGBI adalah anggotanya, yaitu gereja. YRSBI hanyalah organisasi pendukung yang tidak punya keharusan membiayai BPN GGBI.

Dkn. Yudi Sasmita, pensiunan karyawan RS Baptis Kediri mendukung Pdt Victor. Diungkapkannya keluhan karyawan RS Baptis Kediri bertahun-tahun lalu yang merasa menjadi sapi perah untuk memberikan keuntungan kepada lembaga-lembaga lain. Sementara pembahasan di Komisi IV soal BCPO dilakukan secara tertutup.

Dinginnya udara malam di Salatiga ternyata tidak menyurutkan semangat para utusan gereja untuk melihat secara kritis keputusan komisi-komisi dalam musyawarah pleno. Diskusi cukup hangat terjadi saat pembahasan hasil musyawarah Komisi IV. Komisi yang diketuai Pdt. Marthinus Sumendi ini mengajukan beberapa nama bakal calon pemimpin organ GGBI untuk disetujui peserta Munas, yakni:
BPN GGBI
Ketua : Pdt. Yosia Wartono
Wakil : Pdt. Daniel Royo Haryono
Sekjen : David Vidyatama
Bamusnas GGBI
Ketua : Pdt. Hana Adji Nugroho,
Wakil : Pdt. Paul Kabarianto
Sekretaris : Pdt. Frank Stevanus David Suitela
Pembina YBI & YRSBI
– Pdt. Timotius Kabul
– Yohanes Widoyoko Irawan
– Diakon (Dkn). Irwan Rares
– Pdt. Martinus Ursia
– Sukiyanto
– Miste Yuwono

Pembahasan diawali dengan penjelasan Sekretaris Bamusnas GGBI Pdt. Frank Suitela mengenai nama Dkn. Irwan Rares sebagai calon Pembina YBI dan YRSBI. Pdt. Kiki, nama akrab Gembala Sidang GBI Kalibeji Salatiga tersebut mengungkapkan, pada Kongres Ke-9 GGBI, Dkn. Irwan Rares terpilih menjadi salah satu anggota Pembina YBI. Namun setelah pelantikan, Dkn. Rares mengundurkan diri.

Pernyataan itu ditanggapi Pdt. Martinus Sumendi. Gembala sidang GBI Ngadinegaran Yogyakarta ini berkata, “Yang dijaring dalam BCPO sekarang ini adalah berdasarkan kongres ke-10. Sementara pengunduran diri Dkn. Irwan Rares terjadi pada hasil kongres ke-9.”


Pemimpin musyawarah, Pdt. Paul Kabarianto kemudian meminta pendapat pembina yayasan.

Widoyoko Irawan pun menjelaskan, “Benar Dkn. Irwan Rares mengundurkan diri dari pembina, tapi masuk dalam kepengurusan.”

Namun, Widoyoko tidak mengetahui persis alasan Dkn.Irwan Rares mengundurkan diri. Ia pun mengingatkan, “Dalam organisasi, mengundurkan diri adalah hak setiap pribadi. AD/ART (anggaran dasar & anggaran rumah tangga GGBI) pun tidak menyebutkan bahwa yang mengundurkan diri tidak boleh dipilih kembali.”

Pdt. Paul kemudian meminta pendapat mantan Ketua Komisi IV Munas GGBI Ke- 4 tahun lalu, dr. Arnold Seworwora. Menurut Arnold, dalam Munas GGBI Ke-1 pernah terjadi pengunduran diri dua anggota pembina YBI. Karena itu disepakati, orang yang sudah terpilih, dilantik namun kemudian mengundurkan diri, tidak boleh dipilih lagi menjadi pembina yayasan. Arnold mengakui, tidak ada aturan (dalam AD/ART GGBI) , namun Munas GGBI Ke-1 pernah menetapkan kesepakatan tersebut.

Tanggapan muncul dari peserta munas. Pdt. Suntoko Prasetyo dari GBI Sendangguwo Semarang berujar,“Seharusnya, kalau tahu yang bersangkutan pernah mengundurkan diri, seyogyanya tidak masuk daftar penjaringan dari awal. Bukan dipermasalahkan di akhir.”

Peserta lain pun tidak mempermasalahkan status tersebut. Maka, nama calon-calon pemimpin organ GGBI periode 2020-2025 tersebut akan disahkan dan dilantik pada Mubes GGBI ke-11 tahun 2020. Pleno juga memperpanjang tugas komisi penjaringan BCPO hingga dilantiknya para pemimpin organ GGBI periode 2020-2025 tahun depan.

Penertiban Gembala Wanita

Musyawah pleno kembali menghangat saat Komisi II merekomendasikan Departemen Kependetaan BPN GGBI untuk melakukan penertiban terhadap praktik penggembalaan yang dilakukan hamba Tuhan wanita.

Rekomendasi tersebut ditanggapi Theresia Hadianto, utusan GBI Duta Ilahi Tulungagung, Jawa Timur. Menurutnya, penggunaan kata ‘menertibkan’ terkesan negatif, seperti menertibkan pedagang kaki lima (PKL).

“Kata-katanya perlu dihaluskan,” desaknya.

Theresia kemudian mempertanyakan bentuk penertiban dan pembinaan tersebut. “Apakah nanti memberi keleluasaan dalam arti dilegalkannya pendeta wanita Baptis? Atau malah ditekan supaya tidak ‘merajalela’ karena dianggap mengambil lahan kaum bapak? Karena selama ini di Baptis, pendeta itu laki-laki.”

Istri Gembala Sidang GBI Duta Illahi tersebut menambahkan dirinya mendapat kesempatan untuk berkotbah sekali setiap Minggu di gereja tersebut.
“Apakah saya juga perlu ditertibkan?” tanyanya.

Reaksi cukup keras disampaikan Penjabat Gembala Sidang GBI Ngemplak Simongan, Umami Thomas. Hamba Tuhan wanita ini mengingatkan Departemen Kependetaan BPN GGBI apabila akan mengirim surat kepada gereja agar tidak membuat gaduh.

“Suami saya sudah dipanggil Tuhan. Sudah 13 tahun (saya) menggembalakan GBI Ngemplak Simongan. Dan saya menjadi pjs (pejabat sementara) gembala sidang sudah 11 tahun. Dan saya melakukan pelayanan sama seperti gembala sidang pria,” ujarnya.

Ia mempersilakan jika BPN GGBI hendak menertibkan gembala sidang wanita, namun ada konsekuensi yang muncul. “Hidup mati saya tergantung gereja. Apakah BPN GGBI siap mengambil alih tanggung jawab hidup saya? Jangan mengambil keputusan lalu membuat masalah di gereja, menyurati tanpa solusi,” tegasnya.

Ketua Departemen Kependetaan BPN GGBI Pdt. Stefanus Ngatimin menjawab, “Mengacu tata laksana pejabat gereja, sudah menjadi kesepakatan umat Baptis Indonesia dari kongres ke kongres bahwa gembala sidang adalah pria. Dan (kesepakatan tersebut) belum diubah.”

Secara teknis, lanjutnya, BPN GGBI tidak akan langsung menyurati gereja namun akan berbicara secara langsung kepada gembala sidang bersangkutan. Setelah itu barulah Departemen Kependetaan akan menyurati gereja.

“Tentu tidak serta merta memberitahu gereja untuk dieksekusi, tapi akan ada diskusi untuk memikirkan hidup ke depannya,” jelas Gembala Sidang GBI Cengkareng Indah ini.
Sekadar tahu, meski GGBI tidak mengakui pendeta wanita, namun beberapa gereja Baptis sampai saat ini digembalakan hamba Tuhan wanita.

Penjualan Tanah

Suasana kembali memanas saat Pdt. Helly Harianto, utusan GBI Blok Kupat Bandung mempertanyakan penjualan tanah di Cisalak, Jawa Barat oleh BPN GGBI.

BPN GGBI membenarkan ada uang yang masuk sebagai tanda jadi, namun bukan berarti tanah itu sudah dijual. Andaikan tanah itu jadi dijual, hasil penjualannya akan digunakan untuk membangun perumahan bagi para pendeta yang sudah pensiun dan janda pendeta. Perumahan tersebut akan dibangun di tanah milik YBI di sekitar Wisma Baptis Bukit Soka Salatiga.

Munas memutuskan merekomendasikan BPN GGBI untuk membentuk tim pengalihan aset tanah di Cisalak. Tim pelepasan aset akan memberikan laporannya pada mubes tahun depan.

Sementara itu pembahasan hasil Komisi III tidak berlangsung secara memadai. Mungkin ini karena peserta munas sudah kelelahan setelah pembahasan yang lumayan alot di komisi II dan IV. Padahal banyak hal yang menarik yang masuk dalam pembahasan di komisi ini, misalnya tentang keberadaan empat sekolah tinggi teologi Baptis.

Akhirnya Munas V GGBI menerima seluruh pertanggungjawaban serta menyetujui program dan anggaran BPN GGBI, YBI dan YRSBI.

Penulis: Masdharma
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here