Liputan Khusus I : “SALAH ASUH, ANAK BISA ALAMI GANGGUAN JIWA”

0
87

Sebut saja namanya Rio, murid Sekolah Minggu sebuah gereja Baptis di Jawa Barat. Umurnya sekitar 4 tahun. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari Rio. Layaknya seorang anak, dia senang bermain bersama teman-temannya.

Hingga suatu kali, Rio menyanyi sebuah lagu. Begitu fasih mulut kecil Rio bernyanyi. Namun, lagu yang dinyanyikannya tidak umum. Liriknya sedikit cabul.

Usut punya usut, ternyata setiap hari Rio bergaul dengan orang yang lebih dewasa di sekitar rumahnya. Dari merekalah Rio mendengar lagu itu. Karena sering mendengar, lama-lama Rio pun fasih menyanyikannya.

Apa yang dilakukan Rio mungkin tidak terlalu parah. Hanya menyanyi lagu dengan lirik dewasa. Di luar sana, banyak anak yang berperilaku tidak seperti anak-anak. Bahkan apa yang dilakukannya kadang-kadang membuat orang dewasa geleng-geleng kepala.

Seperti yang dilakukan anak usia 15 tahun di Cibinong, Jawa Barat yang membunuh anak tetangganya yang berusia 5. Penyebabnya? Hanya karena dendam kepada orang tua anak tersebut.

Atau kisah siswi kelas 5 SD di Tolitoli, Sulawesi Tengah yang diperkosa sembilan bocah laki-laki berusia 10-15 tahun. Lain lagi dengan anak umur 8 tahun di Tanjung Balai, Sumatera Utara yang menjadi korban perundungan (bullying) teman bermainnya yang berusia 10 tahun. Korban dipaksa minum air kencing lalu celananya disiram bensin dan dibakar.

Dari mana anak-anak itu belajar membunuh, memperkosa, dan membakar?
“Selalu ada the story behind that behavior (kisah di balik perilaku tersebut),” jawab Grace Amin, seorang psikolog menjawab pertanyaan Masdharma dari Suara Baptis (SB), Februari 2019 lalu.
Anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cikarang, Jawa Barat ini melanjutkan, “Manusia punya kecenderungan untuk meniru. Ketika seseorang sudah mengalami kekerasan (menjadi korban), ia pasti mendapatkan luka, baik fisik maupun psikis. Pe-nanganan pascakejadian menjadi hal yang sangat penting. Karena jika tidak, ada kemungkinan anak tersebut berusaha melampiaskan rasa sakitnya dengan berbagai jenis perilaku seperti menyakiti diri sendiri dan orang lain.”

Menurut pasal 1 ayat 15a Undang-Undang No.35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang disebut dengan kekerasan anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Ada lima tindakan yang termasuk dalam jenis kekerasan terhadap anak menurut Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yakni:
Pertama, kekerasan fisik. Meliputi dipukul, ditempeleng, ditendang, dijewer atau dicubit. Kedua, kekerasan seksual meliputi perlakuan tidak senonoh dari orang lain, kegiatan yang menjurus pada pornografi, perkataan-perkataan porno dan tindakan pelecehan organ seksual anak. Ketiga, kekerasan emosional yakni mengeluarkan kata-kata yang mengancam, menakut-nakuti dan berkata – kata kasar. Keempat, tindakan pengabaian dan penelantaran seperti pengabaian dan penelan-taran pada pendidikan anak dan penelantaran pada pemenuhan gizi. Yang terakhir kekerasan ekonomi, seperti menyuruh anak bekerja secara berlebihan dan menjerumuskan anak pada dunia prostitusi untuk kepentingan ekonomi.

gilangbiantara.com

Anak Sebagai Pelaku Kekerasan

Tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 1.434 pengaduan kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Kasus kejahatan seksual mendominasi pengaduan tersebut, dengan anak sebagai korban maupun pelaku.

Adapun faktor-faktor yang mendorong anak melakukan kejahatan, didominasi oleh pengaruh pergaulan dan kebebasan yang berlebihan. Pengaruh pornografi juga mendorong pencabulan dan pemerkosaan, selain akibat kurangnya dasar agama.

Dari penelitian KPAI di 15 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) anak di Indonesia, selain kejahatan seksual, perbuatan melanggar hukum yang banyak dilakukan anak-anak adalah mencuri, kekerasan fisik, penganiayaan, tawuran, hingga berkembang menjadi pembacokan.


Menurut KPAI, pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya kekerasan pada anak.

Setuju dengan KPAI, psikolog anak Diyah Pipit Puspitaningrum mengatakan, masalah yang paling sering dijumpai pada anak-anak adalah soal pengasuhan dan emosi. Dalam wawancara dengan Masdharma dari SB Februari 2019 lalu, Direktur Klinik Psikologi Taman Bintang Indonesia Semarang ini mengatakan, “Anak itu berawal dari apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan. Dari sanalah anak-anak akan meniru dan melakukan, dan akhirnya akan membentuk pribadi anak. Kalau tidak mau melihat anak melakukan kekerasan, ya jangan melakukan kekerasan kepada anak.”

pikiranmerdeka.com

Anak yang dibesarkan dengan kekerasan berpotensi melakukan hal yang sama di kemudian hari. Pipit mengatakan, rata-rata pelaku pembunuhan, kekerasan, pembunuhan berantai, mereka semua dari keluarga yang hampir sama polanya yakni keluarga yang menerapkan kekerasan dalam pengasuhannya.

“Tindakan kekerasan pada anak itu akan merusak lapisan otak paling depan. Di lapisan itulah kemampuan anak dalam menimbang, logika, kepekaan perasaan. Jika setiap hari anak-anak menerima kekerasan, lapisan depan itu rusak. Anak akan menganggap kekerasan itu hal biasa dan pada akhirnya mereka akan melakukannya kepada orang lain,” ujar Pipit.


Ia juga menyesalkan sebagian orang tua yang cenderung ambil jalan pintas mendidik anak. Contohnya, sebagian orang tua memberikan gawai kepada anak supaya tenang dalam beribadah di gereja. Padahal bermain gawai terus-menerus akan merusak otak lapisan depan dan membuat mereka tidak berlatih mengontrol diri.

“Kenapa orang tua nggak mau repot bawain alat tulis, alat gambar, cemilan? Memang itu repot, tapi itu mengajari anak untuk berproses,” jelasnya.

Wanita kelahiran Semarang ini melanjutkan, tindakan orang tua yang tidak mau berproses akan menjadi contoh bagi anak untuk melakukan tindakan yang sama. Contohnya, jika suatu saat anak menghadapi masalah yang sulit, ia tidak mau menghadapi, lalu menangis, marah dan berharap dibantu orang lain. Maka, anak tidak akan memiliki daya juang.
“Jika pola pengasuhan anak tidak pernah dikondisikan dengan daya juang, kemandirian dan tanggung jawab, 20 tahun ke depan anak akan menjadi mudah stres, tidak bisa menerima kenyataan, frustrasi, depresi, dan mengalami gangguan jiwa. Masa kecil sangat mempengaruhi masa depan,” tandas Pipit.

ilustrasi kekerasan pada anak: hukumonline.com

Sebaliknya, mendorong orang tua membiasakan diri berkomunikasi dengan anak sejak dalam kandungan. “Ajaklah anak bicara, ‘Dik, kita mau ke gereja ya? Kita mau beribadah, Adik tenang ya’,” Pipit mencontohkan.

Berbagai penelitian membuktikan, dukungan keluarga mempunyai peran sangat penting untuk memperbaiki kerusakan pada anak. Para ahli perkembangan anak pun sudah sering menasihati supaya orang tua menerima anak sebagaimana adanya. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Tidaklah bijaksana membandingkan seorang anak dengan anak yang lain.

Nasihat Dorothy Law, penulis dan penasihat keluarga, dalam bukunya Children Learn What They Live, menarik untuk direnungkan:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Penulis: Masdharma
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here