Liputan Khusus IV: “Buku Sekolah Minggu Baptis, SUDAHKAH MEMENUHI KEBUTUHAN MURID?”

0
45

Dalam sebuah rapat gereja, seorang guru mengusulkan agar tak lagi menggunakan buku Sekolah Minggu terbitan Lembaga Literatur Baptis (LLB). Selain tidak setuju soal pengajarannya, sang guru merasa tampilan buku tersebut tidak menarik bagi anak. Tidak ada warnanya.

Menanggapi usul tersebut, seseorang lainnya berkata, gereja sudah memakai buku-buku Sekolah Minggu terbitan LLB selama puluhan tahun. Menurutnya, buku terbitan LLB sudah teruji pengajarannya dan banyak orang telah percaya Tuhan Yesus dari buku-buku tersebut.

Sementara buku dari penerbit non-Baptis belum teruji. Apakah sesuai dengan doktrin Baptis? Apakah pengajaran di dalamnya benar? Siapa yang bisa memastikan bahwa buku baru ini sesuai dengan doktrin Baptis?

“LLB itu milik kita, umat Baptis. Sudah sewajarnya kita mendukung lembaga milik kita, terlepas dari segala kekurangannya. Beri masukan kepada LLB, bahan Sekolah Minggu seperti apa yang kita harapkan? Jangan sampai kita tidak pernah memberi masukan tetapi langsung memutuskan mengganti,” ujar seorang anggota jemaat.

Nana

Nana, Ketua Sekolah Minggu Gereja Baptis Indonesia (GBI) Candi Semarang, Jawa Tengah dalam wawancara dengan Suara Baptis mengatakan, “Kita patut berbangga karena gereja Baptis punya LLB yang sangat memperhatikan Sekolah Minggu anak hingga lansia (lanjut usia) dengan kurikulum yang disusun dengan baik.”

Senada dengan itu, Imelda Iriani, Ketua Sekolah Minggu GBI Getsemani Jakarta menilai, buku pelajaran Sekolah Minggu dibuat selalu berdasarkan Firman Tuhan. Namun Imelda pun memberi masukan, “Untuk kelas Asuhan sampai Madya sebaiknya dipilihkan nas atau cerita Alkitab yang perlu disesuaikan dengan pengertian anak-anak. Jangan sampai salah pengertian,” ujarnya.

Imelda mencontohkan, guru Pratama di gerejanya mengalami kesulitan menyampaikan kisah Yesus yang hilang di Bait Suci. Yesus seolah-olah melawan ibu-Nya.

Wulan Ari, Ketua Sekolah Minggu GBI Kebayoran Jakarta mengatakan, sejauh ini buku pelajaran Sekolah Minggu LLB sudah memenuhi kebutuhan murid Asuhan sampai Madya. Hanya kadang-kadang perlu ada tambahan dan disesuaikan dengan keadaan anak.

Dwi Miko

Sementara Dwi Miko, Ketua Sekolah Minggu GBI Grogol Jakarta berujar, “Menurut saya, secara umum materinya kurang luas mencakup keseluruhan Alkitab. Sering diulang-ulang pembahasannya. Terus, pembahasannya tergantung penulisnya. Kadang nggak nyambung sama judulnya.”

Dalam pertemuan antara LLB dan Panitia Sekolah Minggu GBI Baitlahim Bandung, Priska Permata, Ketua Bagian Kelas Pratama mengungkapkan hal yang sama. “Guru-guru kelas kecil kesulitan dalam menyampaikan materi pelajaran Sekolah Minggu. Bagaimana cara menjelaskan Yesus sebagai kurban kepada anak Asuhan sampai Pratama?”

Ketika diwawancarai Suara Baptis, Pemimpin Redaksi Sekolah Minggu LLB Elisa Dwi Prasetya mengakui, ada kekurangan dalam buku pelajaran Sekolah Minggu. “Dari segi tampilan (warna, desain) harus diakui bahwa dari dulu ya itu-itu saja. Lembaran murid kelas Asuhan sampai Madya tidak penuh warna. Hanya satu warna. Jika triwulan satu biru, maka triwulan berikutnya akan hijau dan seterusnya.”

Elisa Dwi Prasetya

Menanggapi adanya beberapa gereja Baptis yang mulai beralih menggunakan bahan Sekolah Minggu yang dinilai lebih baik secara tampilan (penuh warna dengan animasi gerak), pria yang sering dipanggil Ullis ini mengingatkan, harus berhati-hati dalam menerapkannya pada anak. Memang anak-anak akan berminat pada warna yang menarik atau tokoh-tokoh yang dibuat fantastis.

“Namun jangan sampai isi (pengajarannya) itu kabur, kalah karena tampilan yang fantastis,” ujarnya tegas.

Ulis mengakui, buku Sekolah Minggu terbitan LLB kalah dari sisi desain, warna bahkan gambar ilustrasinya. Namun ia berani menjamin, buku-buku ini kuat dalam pengajaran karena hampir semua penulisnya lulusan sekolah teologi Baptis.

Selain itu, yang duduk dalam Tim Pengembang Kurikulum Sekolah Minggu (TPK SM) adalah orang-orang mumpuni di bidangnya. Sekadar tahu, TPK beranggotakan para gembala sidang, dosen teologi, perwakilan dari Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI), Yayasan Baptis Indonesia (YBI), LLB, guru Sekolah Minggu hingga orang tua.

Ullis pun melanjutkan, tidak salah jika gereja-gereja Baptis meninggalkan buku-buku terbitan LLB. Namun sebelum melakukannya, gereja perlu memastikan memiliki tujuan.

“Apakah dengan memilih buku-buku Sekolah Minggu lain itu hanya untuk menyenangkan anak-anak? Apakah hanya untuk membuat anak tertarik? Apakah supaya guru-gurunya tidak bosan?” tanya ayah dua anak ini.

Lanjutnya, “Yang terpenting seharusnya adalah, bagaimana anak-anak bisa mendapatkan pengajaran yang murni dan benar. Dan bagaimana menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus.”

trabasack.com

Ulis mengingatkan betapa pentingnya gereja menjaga pengajaran-pengajaran yang masuk melalui Sekolah Minggu. Buku Sekolah Minggu adalah salah satu penjaga pengajaran. Mengajari anak-anak sedari dini dengan bahan pengajaran yang benar sangatlah penting. Karena itulah modal dasar gereja untuk berkembang dengan sehat.

Diyah Pipit Puspitaningrum

Psikolog anak dari GBI Gisikdrono, Semarang Jawa Tengah Diyah Pipit Puspitaningrum mengatakan, buku Sekolah Minggu harus memperhatikan pola tumbuh-kembang berdasarkan usia anak.

Menanggapi hal itu, Ullis mengatakan, setiap buku Sekolah Minggu Baptis sudah memperhatikan aspek tumbuh-kembang anak. Menurutnya, tumbuh- kembang adalah proses berkesinambungan sejak konsepsi (pembuahan) sampai dewasa yang dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan. Umumnya pengaruh tersebut menyangkut tiga aspek yakni, tumbuh kembang fisik, intelektual, dan emosional.

“Tidak hanya anak (Asuhan-Madya) saja. Lebih jauh, semua kelas terdapat tiga aspek tumbuh-kembang itu. Masalahnya, apakah materi (isi, warna, metode) yang tertuang dalam buku Sekolah Minggu sudah menyediakan bahan yang membantu pola tumbuh-kembang tersebut?” tanyanya.

Ullis mengakui, dari sisi kesadaran tentang pola tumbuh-kembang yang seharusnya sejalan dengan buku yang disediakan, memang sudah ada. Hanya, apakah para pelaku yang menyiapkan buku-buku tersebut (TPK, penulis, redaktur hingga ilustrator) sudah mumpuni?

Ada faktor lain yang mempengaruhi tumbuh-kembang anak. Tidak hanya pada buku tetapi juga pada guru-guru Sekolah Minggunya. “Buku yang sempurna sekalipun, jika guru-gurunya tidak bisa melakukan pengajaran yang baik, hasilnya juga akan mengkhawatirkan,” papar Ullis.

Menanggapi pendapat beberapa ketua Sekolah Minggu mengenai beberapa kekurangan dalam buku Sekolah Minggu Baptis, pria kalem ini mengakui, hampir semua penulis buku Sekolah Minggu sibuk dengan pekerjaan dan pelayanan masing-masing di luar tugas menulis buku. Selain itu masih terdapat kekurangan tenaga yang cakap seperti psikolog anak, pendidik, dan redaktur buku Sekolah Minggu.

“Kami (bagian Sekolah Minggu LLB) sangat terbuka untuk berdiskusi. Bahkan kami membuka pintu bagi para pengguna, pemerhati, orang tua, orang-orang yang kompeten di bidang tumbuh-kembang anak bila ingin menyampaikan ide, usulan, masukan mengenai buku Sekolah Minggu,” ajak Ullis.

Diyah Puspitaningrum menanggapi tawaran itu, “Ada banyak psikolog anak di gereja Baptis. Saya pribadi bersedia jika diajak.”

id.lovepik.com

Bisakah Kita?

Bisakah kita menerbitkan buku Sekolah Minggu yang bagus secara isi dan tampilan? Tentu saja kita harus yakin bahwa kita bisa melakukannya. Bukankah umat Baptis sudah sangat berpengalaman dalam menghasilkan buku Sekolah Minggu?

Sekadar tahu, bahan Sekolah Minggu sudah dicetak dan diedarkan ke gereja-gereja Baptis sejak tahun 1954. Sementara buku Sekolah Injil Liburan dibuat tahun 1959. Darlyne Sears, istri Stockwell Sears, salah satu perintis Baptis awal, tercatat sebagai pelopor pembuatan buku Sekolah Minggu berbahasa Indonesia. Selanjutnya, pembuatan bahan Sekolah Minggu dilakukan LLB.

Selain itu, umat Baptis memiliki empat sekolah tinggi teologi yang seharusnya bisa menghasilkan teolog dan sarjana pendidikan Kristen untuk membantu dalam pengajaran dan penulisan. Untuk desain dan tampilan, bukankah kita juga memilki Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI)?

Sedangkan tenaga lainnya seperti psikolog anak, ilustrator, komikus, fotografer, desainer, ahli teknologi informatika pun banyak di gereja Baptis.

Pertanyaannya adalah, maukah kita?

Memang untuk mewujudkan hal itu perlu kerja sama antara lembaga Baptis dan gereja. Ulis mengatakan, LLB dengan gereja-gereja harus bersinergi. LLB sebagai penerbit yang didirikan untuk menjaga pengajaran gereja-gereja Baptis melalui Sekolah Minggu, harus mendapat dukungan gereja.

Dalam ha ini, LLB akan konsisten menyediakan bahan pelajaran bermutu dan peningkatan kualitas produk. Di pihak lain, gereja harus mau mengeluarkan uang lebih untuk membeli buku Sekolah Minggu.

“LLB milik umat Baptis. Dipercaya dan ditugasi menjadi tempat menjaga pengajaran tetap benar dan bermutu melalui buku-buku Sekolah Minggu, sekaligus yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sudah sewajarnya jika gereja-gereja Baptis mendukung, membeli dan memakai produk-produk LLB. Investasi bagi perkembangan rohani anak-anak, sebesar apa pun tidaklah percuma!” tutupnya.

Berani?

Penulis: Masdharma

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here