LIPUTAN KHUSUS III : Calon Pimpinan Organ GGBI “Itu Lagi, Itu Lagi” DAPATKAH MUBES MENGUBAHNYA? PART 1

0
430

Jangan berharap ada kejutan dengan munculnya nama-nama baru sebagai pemimpin di Organ Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) 2020-2025. Perlu tahu, Organ GGBI sendiri meliputi Badan Permusyawaratan Nasional  (Bamusnas), Badan Pengurus Nasional (BPN), Yayasan Baptis Indonesia (YBI), dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI).

Musyawarah Nasional (Munas) GGBI di Salatiga tahun 2019 sudah menetapkan calon-calon pemimpin GGBI lima tahun ke depan. Nama-nama yang sesungguhnya orang-orang lama dalam Organ GGBI ini tinggal disahkan dan dilantik dalam Musyawarah Besar (Mubes) GGBI 24-27 Maret 2020 nanti.

Bamusnas GGBI akan kembali dipimpin Pdt. Hana Adji (ketua), Pdt. Paul Kabarianto (wakil ketua) dan Pdt. Frank Suitella (sekretaris). Komposisi pimpinan BPN GGBI pun tidak berubah, yakni Pdt. Yosia Wartono (ketua), Pdt. Daniel Royo Haryono (wakil ketua) dan David Vidyatama (sekretaris jenderal). Sedangkan posisi Pembina YBI & YRSBI diisi Yohanes Widoyoko Irawan, Pdt. Timotius Kabul, Gatot Gunarso, Sukiyanto, Pdt. Martinus Ursia, Miste Yuono, Dkn. Irwan Revianto Rares, dan dua pimpinan BPN GGBI yang akan diputuskan kemudian.

Widoyoko, Pdt. Timotius Kabul, Gatot Gunarso, Sukiyanto adalah Pembina YBI & YRSBI 2015 – 2020 bersama Pdt. David Sumarto dan Pdt. Yosia Wartono. Sedangkan Pdt. Martinus Ursia adalah Ketua Pengawas YRSBI 2015 -2020. Sementara Miste Yuono dan Dkn. Irwan Rares sendiri pernah menjadi Ketua Pengurus YBI.

Menanggapi komposisi calon-calon pimpinan Organ GGBI tersebut, diskusi dalam grup Facebook Komunitas Baptis Indonesia Jilid 2 berlangsung hangat. Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cilegon, Banten Pdt. Paul Kristiyono memulai diskusi dengan menyodorkan konsep lama penjaringan calon pimpinan Organ GGBI. Dalam konsep yang lama, ada 37-40 calon pimpinan yang dibawa ke mubes untuk dipilih.

Pdt. Paul

Pdt. Paul sendiri mengakui, penetapan calon-calon pimpinan organ GGBI dalam munas 2019 dan tinggal disahkan dalam mubes 2020 sudah sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) GGBI. Namun menurutnya, cara pemilihan pimpinan organ GGBI seperti ini menumpulkan kaderisasi, pimpinan yang terpilih itu-itu saja, orang-orang berpotensi lainnya akan tenggelam, memunculkan monopoli kepemimpinan, dan akibat-akibat lain yang tidak menguntungkan.

 

Pdt. Marthinus Sumendi

“Coba lihat pimpinan nasional di BPN (GGBI), Bamusnas, Pembina Yayasan, Pengurus YBI, Pengurus YRSBI. GGBI itu dari Sabang sampai Merauke, dari 19 BPD (Badan Pengurus Daerah GGBI), tapi pemimpin nasional kok itu-itu saja?” tulis Pdt. Paul.

Beberapa orang lain ikut berkomentar mengenai cara pemilihan calon-calon pemimpin GGBI tersebut. Salah satunya Gembala Sidang GBI Ngadinegaran Yogyakarta, Pdt. Marthinus Sumendi, “Saya pikir semua materi sudah disosialisasikan di setiap BPD untuk disikapi jika ada kekurangan atau kelebihan. Oleh karena itu sebagai umat yang baik, berikan sumbang saran, bagaimana sebaiknya ke depan.”

Ayah tiga anak ini mengatakan, tidak ada sebuah organisasi yang selalu berjalan mulus. Tentu ada program organisasi tersebut yang berhasil, namun ada juga yang gagal. Yang penting evaluasi disampaikan dengan jujur dan masing-masing tidak ngotot merasa benar.

“Kalau soal kepengurusan kok itu-itu saja, karena dalam penjaringan melalui BCPO (Bakal Calon Pimpinan Organ GGBI) sendiri umat memilih (cara seperti) itu. Sekarang, jika sistem BCPO itu dirasa tidak efektif atau kurang baik, ya tinggal di mubes direvisi. Tentunya dengan alasan-alasan yang tidak meniadakan sifat kongregasional. Jadikanlah mubes kali ini ajang musyawarah mencari solusi, bukan menyesali sebagai anggota GGBI,” kata Pdt. Sumendi.

Sementara itu Gembala Sidang GBI Banaran BPW Randusari, Boyolali, Jawa Tengah Catur Wisuda mengungkapkan, jemaat seringkali tidak mengenal satu per satu bakal calon pemimpin GGBI. Itu sebabnya ia merasa miris ketika hendak memimpin doa syafaat bagi calon-calon pimpinan GGBI saat kebaktian Minggu, ternyata jemaat tidak mengenal nama-nama tersebut.

Catur Wisuda

“Ketika saya tanya, ‘Bapak (maksudnya jemaat, red.) tahu dan kenal (atau) tidak, siapa mereka-mereka ini yang Bapak mau doakan?’ Jawab mereka, ’Tidak tahu.’ Jadi, aneh kalau jemaat suruh bulatkan pilihan tetapi tidak kenal dengan siapa yang mereka pilih. Ini fakta yang terjadi di tempat saya melayani, tidak tahu bagaimana dengan yang lain,” ujarnya.

Minimnya pengenalan para bakal calon pimpinan Baptis tersebut menyebabkan gereja tidak memiliki kesempatan untuk mencari nama-nama yang kurang populer meski memiliki kemampuan yang cukup.

Rachmadi Johan Setiawan

“Kalau yang dicalonkan kembali di GGBI itu orang-orang lama, kalau pemimpinnya sama, ya… polanya akan sama saja,” tukas Direktur Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Bengkulu Rachmadi Johan Setiawan ketika dihubungi Aris Santoso dari Suara Baptis (SB).

 

 

Baca Selanjutnya Part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here