Liputan Khusus III: “AWAS, BULLYING BISA BERUJUNG BUNUH DIRI”

0
36

Langkah Muhammad Farhan mendadak tertahan. Seorang teman kuliahnya tertawa-tawa seraya menarik ransel di punggung Farhan. Beberapa detik mahasiswa Universitas Gunadarma Depok, Jawa Barat ini terhenti meski berusaha keras terus berjalan.

Sementara itu dua mahasiswa lain di depannya meneriaki Farhan dan menertawakannya. Farhan gusar. Ia mengayunkan lengan kirinya ke belakang. Pemuda yang menarik ransel pun melepaskan Farhan dan berakting seolah terpukul keras. Farhan bergegas meninggalkan kelompok yang merundungnya dan melemparkan tempat sampah, ungkapan rasa marah dan terluka.

Cuplikan perundungan (bullying) yang terjadi Jumat 14 Juli 2017 itu masih tersimpan di YouTube. Meski para mahasiswa yang merundung Farhan telah menerima sanksi skorsing, luka hati pemuda itu tak mungkin pulih.

kidshelpline.com.au

Perundungan bisa terjadi di mana saja, di rumah, sekolah, media sosial bahkan di rumah ibadah sekalipun. Ucapan seperti, “Kamu jelek”, “nakal”, “dasar orang miskin”, sering terdengar sebagai bentuk perundungan yang umum.

Ucapan menyakitkan itu mungkin awalnya hanya untuk seru-seruan. Itulah yang juga terjadi ketika teman-teman kuliah Farhan mulai merundungnya. Namun jika dibiarkan terus-menerus, kata-kata itu berdampak serius terhadap korban. Pengaruh merusak itu bisa menyebabkan gangguan psikologis, trauma, takut bergaul sampai tindakan bunuh diri.
Dikutip dari Liputan6.com November 2015, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (ketika itu) menyebut, 40 persen anak-anak Indonesia korban perundungan melakukan bunuh diri.

libertyworks.org.au

Apa itu Bullying?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), perundungan atau bullying adalah perbuatan menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali.

Ada empat bentuk perundungan yang sering terjadi. Pertama perundungan fisik seperti memukul, mendorong atau menendang. Kedua perundungan verbal seperti menghina bentuk tubuh, suku, agama, ras, status ekonomi, hingga orientasi seksual. Misalnya cacian, “Dasar anak orang miskin! Beli sepatu juga nggak bisa!”

Ketiga, perundungan siber melalui media sosial atau internet. Misalnya, memberi komentar kasar, mengancam, atau menyinggung perasaan orang lain. Bentuk perundungan ini makin marak seiring kemajuan teknologi. Contohya komentar di media sosial, “Sudah gendut, jelek, narsis lagi. Jijik!”

Keempat, perundungan sosial melalui penyebaran desas-desus supaya orang lain memusuhi atau menjauhi seseorang.

Dalam Hari Anak Nasional (HAN) 2018, Komisaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan, 84 persen atau 8 dari 10 siswa pernah mengalami perundungan. Di antara mereka, 94 pesen mengalami perundungan verbal.

KPAI menyebut ada peran orang dewasa dalam munculnya perundungan di sekolah. Anak-anak di sekolah banyak yang menirukan perilaku kekerasan atau perundungan yang dilakukan orang dewasa. Mereka mencontohnya dari media sosial, tayangan televisi, dan sejenisnya.

Grace Amin

Sementara Grace Amin, psikolog anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Cikarang, Jawa Barat mengatakan, pelaku kekerasan dan rundungan biasanya merupakan korban kekerasan di masa lalu.

“Manusia mempunyai kecenderungan untuk meniru. Ketika seorang anak mengalami kekerasan, ia pasti merasa mendapat luka, baik fisik maupun psikis. Penanganan pasca kejadian menjadi hal yang sangat penting. Karena jika tidak ditangani secara baik, ada kemungkinan anak itu melampiaskan rasa sakitnya dengan berbagai perilaku seperti menyakiti diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya kepada Masdharma dari Suara Baptis.

Dyah Pipit P.

Sementara Diyah Pipit Puspitaningrum, psikolog anak anggota GBI Gisikdrono, Semarang mengatakan, peran orang tua dalam pola asuh sangat mempengaruhi perkembangan anak. Kurangnya perhatian orang tua membuat anak mencari perhatian di luar rumah.

Menurutnya, ada dua pola asuh orang tua yang cenderung membuat anak melakukan perundungan. Pertama, pola asuh otoriter. “Anak dikekang, harus mengikuti kata orang tua. Jika tidak (patuh), anak akan didisiplin. (Akibatnya), anak akan cenderung melakukan hal yang sama. Dia akan memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya,” ujar Pipit.

Kedua, pola asuh permisif (serba boleh). Orang tua cenderung mengikuti kemauan anak dan memberikan apa saja yang diminta. Maka, anak pun akan cenderung menggunakan segala cara supaya keinginannya diikuti orang lain.

Sekolah Belum Menjadi Tempat Aman
Banyak orang menganggap sekolah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Sebabnya, di sekolahlah anak-anak belajar ilmu pengetahuan maupun budi pekerti.

Kenyataannya, KPAI mencatat, sepanjang tahun 2018 kasus tindak kekerasan pada anak di sekolah menempati urutan ketiga. Urutan teratas adalah kasus anak berhadapan dengan hukum, disusul kasus kekerasan anak di rumah.

“Sekolah yang seharusnya memberikan perlindungan dan pengetahuan, berganti menjadi tempat yang menakutkan bagi anak,” ungkap Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Susanto.

Bagaimana dengan sekolah-sekolah Kristen?
Kebanyakan orang tua memilih menyekolahkan anak ke sekolah Kristen. Salah satu pertimbangannya, sekolah Kristen dianggap lebih baik karena menerapkan ajaran kekristenan yang berlandaskan kasih.

Salah satu sekolah dasar (SD) yang masih dipercaya para orang tua adalah SD Kristen Baptis Palembang. Sekolah ini menjadi satu kompleks dengan GBI Palembang, Sumatera Selatan. Selama bertahun-tahun, SD Kristen Baptis Palembang terkenal dengan capaian berbagai prestasi mulai dari tingkat daerah, nasional bahkan internasional. Selain itu, tak pernah terdengar kasus kekerasan di sini. Itu sebabnya banyak orang tua memasukkan anak-anaknya ke sekolah ini. Jumlah muridnya pun fantastis, 1.400 anak!

Ilustrasi perundungan di sekolah/irishtime.com

Selain SD, sekolah ini juga memiliki Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sementara di Cengkareng, Jakarta Barat terdapat Sekolah Kristen Baptis. Sekolah ini bersatu dengan lokasi GBI Cengkareng Indah.

 

Ketua Pembina Yayasan Sekolah Baptis Palembang Pdt. Imanuel Rajiono maupun Ketua Pembina Yayasan Sekolah Baptis Cengkareng Pdt. Stefanus Ngatimin menentang tindak kekerasan pada anak. Dalam wawancara Rabu 27 Februari 2019, Pdt. Imanuel Rajiono mengatakan, Sekolah Baptis Palembang sangat menekankan pendidikan karakter Kristus.

Ketua Dewan Penasihat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Sumatera Selatan ini mengatakan, “Kepandaian tanpa karakter itu berbahaya. Contohnya, koruptor. Mereka itu bukan orang bodoh. Mereka orang pintar namun karakternya buruk.”
Untuk mencegah perilaku kekerasan, Sekolah Baptis Palembang melibatkan orang tua dan gereja.

“Pendidikan anak mencakup tiga visi, visi orang tua, visi sekolah dan visi gereja. Ketiganya harus kompromi, harus bekerja sama dan saling berkomunikasi” ujar Pdt. Imanuel.

Gembala Sidang GBI Palembang tersebut melanjutkan, pihaknya berusaha menyadarkan orang tua bahwa pendidikan anak itu bukan hanya tugas sekolah, namun tugas orang tua juga. “Orang tua jangan cuma ngasih duit banyak, terus anak dilepas. Nggak bisa!” tegasnya.

Menurutnya, Sekolah Baptis Palembang menekankan para guru untuk memberikan teladan hidup. Mereka selalu didorong tidak hanya mengajar teori namun mempraktikannya.

“Guru-guru sangat intens dalam memantau dan mendampingi anak-anak,” papar Pdt. Imanuel. “Selain itu sekolah dilengkapi dengan kamera pengawas di setiap ruangan dan kelas. Apa yang terjadi di lingkungan sekolah selalu terpantau.”

Juga gereja memandang anak-anak sebagai aset masa depan. Merekalah yang kelak menjadi pemimpin gereja maupun masyarakat. “Mendidik anak dengan benar, sesuai Firman Tuhan akan menjadikan anak-anak itu luar biasa,” kata Pdt. Imanuel.

Sementara Sekolah Baptis Cengkareng berdekatan dengan sebuah sekolah yang terkenal muridnya doyan tawuran. “Namun puji Tuhan, sekolah kami tidak pernah ikut tawuran,” ujar Pdt. Stefanus Ngatimin kepada Suara Baptis, Selasa 26 Februari 2019.

“Memang ada siswa yang bermasalah, tetapi kami segera menyelesaikannya. Kami selidiki penyebabnya, lalu kami adakah pendekatan. Ternyata penyebabnya masalah keluarga. Kami terus adakan pendampingan bagi anak-anak seperti itu,” tutur Gembala Sidang GBI Cengkareng Indah itu.

Sekolah yang mempunyai 450 murid TK, SD, SMP, dan SMA ini juga menerapkan pembinaan karakter Kristen bagi siswa. Sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar, setiap siswa mengikuti renungan pagi selama tujuh menit. Seminggu sekali diadakan kebaktian untuk murid, guru dan karyawan.

“Yang membedakan sekolah kami dengan sekolah lain adalah kepedulian,” ujar Pdt. Stefanus. Suami Sri Haryani ini menyambung, “Kami sangat mempedulikan siswa kami. Jika ada anak yang bermasalah dengan orang tuanya, atau ada keluarganya yang sakit, pihak sekolah akan mengunjungi dan mendoakan.”

Salah satu faktor yang paling berpengaruh pada tumbuh kembang anak adalah keluarga. Kedua pendeta ini sepakat bahwa kebanyakan masalah pada anak disebabkan dari keluarga. Misalnya, anak-anak tidak diperhatikan orang tua yang sibuk bekerja. Di rumah pun, orang tua sibuk dengan gawainya.

Pdt. Stefanus pun setuju, diperlukan kerja sama antara orang tua, sekolah dan gereja dalam perkembangan anak.

“Gereja tidak boleh diam saja, harus memperhatikan perkembangan anak dengan sungguh-sungguh. Kalau gereja lengah, dunia akan mengambil mereka. Kita akan menangis karena kehilangan anak-anak kita” pungkasnya.

Penulis: Masdharma
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here