Liputan Khusus II: Jangan Masuk Ruang Kebaktian, NANTI KOTOR!”

0
119
Depressed Kid

Lima anak umur 7 hingga 10 tahun berdiri di depan pintu sebuah gereja Baptis saat Natal beberapa tahun lalu. Badan mereka basah kuyup. Beberapa dari mereka menangis sambil menggigil kedinginan. Kebetulan hujan turun begitu deras siang itu.

Seorang guru Sekolah Minggu yang melihat mereka lalu menghampiri dan bertanya, “Kenapa menangis? Kenapa tidak masuk ke ruang kebaktian?”

Sambil menahan tangis, anak yang lebih besar menjawab, “Kami tidak boleh masuk, Ko (panggilan mereka kepada guru Sekolah Minggu laki-laki). Katanya, nanti ruang kebaktiannya jadi kotor.”

Mendengar jawaban itu beberapa guru Sekolah Minggu mengajak mereka mengeringkan badan, mengganti pakaian dan membawa kelimanya masuk ruang kebaktian.
Ternyata anak-anak itu ketinggalan mobil jemputan yang hendak membawa mereka ke gereja. Karena ingin mengikuti Natal Sekolah Minggu, anak-anak dari keluarga tidak mampu ini pun berjalan kaki 4,3 kilometer.

Guru Sekolah Minggu yang melarang mereka masuk ruang kebaktian mungkin tidak tahu penyebab kelima anak itu basah kuyup, dan langsung menghakimi. Pasti sang guru tidak menyadari, ia telah melukai perasaan anak-anak itu.

Tindakan guru yang menyakiti emosi anak seperti ini bisa saja dilakukan tokoh gereja atau orang-orang dewasa di gereja lainnya. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti membentak anak-anak supaya tidak berisik di ruang kebaktian. Maksud baik supaya anak menghormati saat beribadah, justru menjadi tidak tepat.

Ketua Departemen Anak Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) Pdt. Noto Sumarto membenarkan, masih ada pengurus gereja yang membeda-bedakan anak dari status sosialnya. Perlakuan kepada anak pemulung berbeda dengan perlakuan kepada anak orang kaya.
“Itu tidak terjadi di gereja kota saja, di gereja desa pun terjadi,” ujarnya kepada Masdharma dari Suara Baptis, 26 Februari 2019.

Karena itu ia berharap, gereja-gereja Baptis menjadi gereja yang ramah anak. “Pada hari-hari ini anak-anak Indonesia mengalami darurat kekerasan anak, darurat narkoba, darurat pornografi, darurat seksual (pedofil), darurat kebangsaan dan intoleransi. Gereja harus menjadi jawaban bagi anak-anak. Kalau tidak, mereka akan diambil oleh teknologi, oleh gadget,” ujar Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sahabat, Kediri, Jawa Timur ini.

Gereja yang Ramah Anak
Menurutnya, ada tujuh tanda gereja yang ramah kepada anak. Pertama, keamanan. Ketika anak-anak berada di gereja, mereka terlindung dari hal-hal yang berbahaya seperti kecelakaan lalu lintas, kejatuhan atap, dan lain-lain. Kedua, keterbukaan. Di sini, anak bebas berada di ruang-ruang gereja.

www.satuharapan.com

“Ada beberapa gereja yang melarang anak-anak menginjak (area sekitar) mimbar. Gereja juga harus memberi kesempatan anak-anak untuk bertumbuh secara fisik. Caranya dengan menyediakan lapangan (ruang) untuk anak-anak berkegiatan. Tidak perlu ruang yang luas, mewah, yang penting anak-anak itu bisa berkegiatan,” sarannya.

Ketiga, menganggap penting anak-anak. Artinya, anak diterima, dihargai, diperhatikan, dan selalu dibimbing secara utuh.

“Berapa banyak gereja punya anggaran khusus untuk pelayanan anak? Masih banyak gereja yang menganggap anak sebagai warga negara kelas dua. Keberadaannya hanya dianggap sebagai beban. Padahal anak-anak adalah investasi masa depan gereja,” Pdt. Noto mengingatkan.

Ia mendorong, anak-anak mulai dilibatkan langsung dalam pelayanan gereja. Misalnya, mendoakan teman, diajak berkunjung menengok orang jompo, dan mengajar mereka mendoakan orang-orang yang dikunjungi.

Keempat, punya batasan. Gereja ramah anak bukan berarti membiarkan anak-anak bebas tanpa batas. “Batasannya adalah nilai-nilai luhur Indonesia. Nilai luhur ini dibangun dari kondisi Indonesia,” lanjut Pdt. Noto.

Kelima, etika Kristen. Gereja yang ramah anak harus juga mengajarkan etika Kristen, yakni prinsip-prinsip yang disarikan dari iman sebagai landasan bagi tindakan anak. Misalnya, Alkitab tidak berbicara secara langsung mengenai narkoba. Namun berdasarkan prinsip Alkitab, memakai narkoba itu salah.

Keenam, terdapat komunitas-komunitas anak. Dalam komunitas itulah kebutuhan sosial-emosi anak, kebutuhan pengetahuan, dan kebutuhan rohani terpenuhi. Anak-anak bisa berkomunikasi dengan teman seumurnya. Dalam komunitas itu, mereka bisa mengembangkan nilai iman dan kemampuan sosial. Komunitas ini mengarahkan anak menjadi serupa dengan Tuhan Yesus.

“Tentu harus didampingi,” ujar Pdt. Noto tentang pelaksanannya.
Ketujuh, memberi kesempatan anak untuk berkreasi. “Biarkan anak-anak menggali kemampuan diri mereka. Kalau mereka suka bermain musik, ya gereja harus memberi kesempatan untuk memperdalam itu. Gereja harus memberi kesempatan bagi anak untuk berkembang baik secara kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Kalau tidak, mereka akan belajar dari luar, misalnya media sosial, yang belum tentu benar,” paparnya.

Gerakan Sayang Anak Indonesia
Pdt. Noto mengatakan, BPN GGBI terpanggil memenangkan dan menjangkau anak-anak. Karena itu, dibentuklah gerakan SAIN, Sayang Anak Indonesia. Menurutnya, adalah sebuah gerakan nasional bersama seluruh komponen umat Baptis Indonesia. BPN GGBI sendiri bertekad menjadi mitra Allah dalam memuridkan anak-anak terutama usia 0 sampai 15 tahun. Diharapkan, mereka menjadi murid Kristus yang unggul dan berdampak bagi gereja, bangsa dan dunia.

Ditambahkannya, SAIN hadir untuk menjembatani anak supaya mereka menjadi serupa dengan Kristus, dan menjadi solusi dalam masalah generasi yang hilang (lost generation).

Dalam kegiatan SAIN, anak akan didampingi seorang pamong dan dibimbing secara pribadi. “Selain itu anak-anak dikumpulkan dalam komunitas seumuran. Itu membuat anak-anak bisa berkomunikasi dengan teman yang seumurnya. Hal menarik lain, kurikulum SAIN memakai kearifan lokal di daerah tersebut,” jelas Pdt. Noto.

Dicontohkannya, makan rujak bersama sebagai salah satu kegiatan aplikatif SAIN yang menggunakan kearifan lokal. “Rujak itu kan ada bermacam-macam rasa. Ada yang manis, asam, tawar. Warnanya juga bermacam-macam, ada yang putih, merah, kuning, hijau. Semua itu ngumpul jadi satu di piring, disatukan dengan bumbunya. Dari berbagai rasa, warna, kalau bersatu ditambah bumbu, jadi enak,” paparnya. “Begitulah gereja, ada berbagai sifat dan perilaku, namun ketika disatukan akan menjadi luar biasa.”

Gerakan yang didengungkan sejak tahun 2015 ini mengusung tema “Loving Children, Building Nation” atau mengasihi anak-anak, membangun bangsa.

Diyah Pipit Puspitaningrum, psikolog anak sekaligus guru Sekolah Minggu GBI Gisikdrono, Semarang, Jawa Tengah mengatakan, guru Sekolah Minggu jangan hanya mengajarkan Alkitab namun harus juga menambah pengetahuan tentang perkembangan anak dan perkembangan zaman. Guru Sekolah Minggu harus bisa menjelaskan bagaimana mencegah perundungan (bullying), kekerasan seksual, hingga memberitahu bahaya pornografi.

“Bertemanlah dengan mereka di dunia nyata dan di dunia maya,” dorongnya.

Diyah pun mengingatkan, gereja harus peduli kepada anak-anak. Gereja harus menjadi jawaban atas kebutuhan anak-anak. Kalau tidak, di luar sana banyak yang siap menampung dan menjawab kebutuhan anak-anak kita.

Siapa?

Para pedofil, pengedar narkoba, dan pelaku kekerasan anak!

Penulis: Masdharma
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here