LIPUTAN KHUSUS | Hamba Tuhan di Tengah Pergaulan Global

0
115

PERLU TINGKATKAN KUALITAS “MIMBAR”

Pergantian tahun 2015 ke 2016 diikuti berbagai perubahan penting. Tepat di hari terakhir taun 2015, Indonesia dan sembilan negara anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) menyepakati pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan demikian, Indonesia bersama Brunei, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam bersepakat meminimalkan hambatan-hambatan kegiatan ekonomi dalam kawasan ASEAN, seperti dalam perdagangan barang, jasa, investasi dan lalu-lintas tenaga kerja.

Salah satu bentuk konkretnya adalah pembebasan bea masuk (freight forwarding) ke setiap negara anggota ASEAN. Sejumlah kalangan mencemaskan, pembebasan bea masuk barang ini akan membuat Indonesia kebanjiran produk-produk luar negeri sehingga mematikan industri dalam negeri.

Padahal, kaum usahawan sejak kuartal terakhir 2015 sudah gelisah dengan adanya tuntutan kenaikan Upah Minimum Kota dan Kabupaten (UMK) 2016 yang akan menaikkan biaya produksi, sementara daya beli masyarakat relatif lemah akibat perlambatan ekonomi Indonesia dan dunia. Belum lagi berbagai keluhan terhadap etos kerja dan jam kerja padat karya di Indonesia yang rendah.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani pada 14 Desember 2015 lalu, jam kerja di Vietnam jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia, yakni 48 jam berbanding 40 jam seminggu. Apalagi upah tenaga kerja di sana juga jauh lebih murah daripada Indonesia dan tidak pernah terjadi pemogokan dan ribut-ribut ketika menuntut kenaikan upah. Tak heran, investor lebih melirik Vietnam daripada Indonesia (www. bisniskeuangan.kompas.com).

Lantas, bagaimana dunia pendidikan teologi dan gereja-gereja di Indonesia menyikapi berbagai perubahan di awal tahun 2016 ini?

Ketua Departemen Pendidikan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) Pdt. Petrus Maryono mengatakan, banyak dosen sekolah tinggi teologi (STT) Baptis yang berpendidikan di luar negeri. Semestinya ini pun membuat para lulusan mumpuni dalam bidangnya.

Doktor lulusan Dallas Theological Seminary tersebut menambahkan, keterbukaan pintu pendidikan teologi sebenarnya sudah ada nun jauh sebelum munculnya isu MEA. Hal ini terjadi lantaran dukungan pesatnya perkembangan komunikasi, jejaring, dan kelancaran lalu lintas antarnegara.

“Hamba Tuhan perlu peka untuk meningkatkan ‘kualitas mimbarnya’. Maksudnya, kotbahnya jangan sampai menjadi khotbah yang hambar dan terkesan ‘kurang persiapan’. Pendeta atau hamba Tuhan harus mempersiapkan dengan baik, sehingga jemaat mendapatkan makanan rohani yang sehat,” ungkapnya kepada Andry Wahyu Pertiwi dari Suara Baptis (SB).

Dosen bahasa Yunani Sekolah Tinggi Teologia Injilil Indonesia (STTII) Yogyakarta ini menambahkan, “Kita sebenarnya diingatkan, baik dari Perjanjian Lama atau pun Perjanjian Baru, ketika bangsa Israel memasuki negeri perjanjian, mereka akan tahu bahwa akan masuk dalam lingkungan yang (pengajarannya) berseberangan dengan firman Tuhan. Itulah sebabnya, penting bagi kita hamba Tuhan mengajarkan hal yang paling utama, yaitu berpegang pada firman Tuhan.”

Menurut Pdt. Petrus, Perjanjian Baru juga memperingatkan, akan ada guru palsu dan serigala berbulu domba. Rasul Paulus pun mengatakan hal yang sama, akan datang malaikat gelap yang menyamar sebagai malaikat terang.

“Mendekati akhir zaman akan bermunculan pengajar-pengajar sesat,” paparnya.

Karena itu, tidak ada cara lain selain para Kristen tetap cermat menjalani kesalehan, menjalankan firman, giat pelayanan dan tekun dalam doa.

“Hal itu yang perlu ditekankan,” ujarnya.

Menanggapi MEA, kesepakatan tersebut berintikan berkat, yaitu peluang dan tantangan. Walaupun dampak MEA mungkin tidak begitu kentara atau tidak berimbas langsung ke gereja, hamba Tuhan maupun pendidikan teologi, Pdt. Petrus menegaskan, tidak mungkin pihak-pihak tersebut hanya “mengubur kepala di dalam pasir” alias menolak melihat kenyataan globalisasi yang nyatanya berpengaruh cukup besar. Maka, sambungnya, gereja pun harus turut memberi sumbangsih untuk memanfaatkan sisi baik globalisasi, mengoptimalkan peluang untuk maju, serta melemahkan pengaruh negatifnya.

Mengutip pendapat Romo Y.B. Mangunwijaya (Alm), anggota panitia perancang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Nyutran, Yogyakarta ini mengatakan, menjadi orang beriman di abad modern semakin berat dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Apalagi ketika iptek dan materialisme menjadi norma, pragmatisme menjadi pandangan hidup. Hal-hal tersebut akan melemahkan iman dan kebanyakan orang akan menjadi duniawi. Namun jika umat Kristen lebih dekat dengan Tuhan dan firman-Nya, juga tekun dalam pelayanan, mereka akan mampu bertahan.

Sepakat dengan Pdt. Petrus, Ketua Sekolah Tinggi Teologia  Baptis Jakarta (STTBJ) Pdt. Susanto Dwiraharjo pun mengakui, MEA sesungguhnya menjanjikan peluang yang cukup besar bagi Indonesia. Misalnya, peluang untuk meningkatkan diri, baik dalam kinerja dan utamanya dalam kepribadian sebagai anak-anak Tuhan.

Pdt. Susanto juga meyakini, MEA memberi peluang untuk meningkatkan kualitas STT yang dipimpinnya. “Kalau MEA terjadi, maka bahasa akan menjadi hal yang sangat penting. Di sinilah sekolah-sekolah tinggi teologia harus lebih meyiapkan diri dan mahasiswanya agar lebih terampil menguasai bahasa internasional,” tandasnya.

Bukan hanya bahasa, kecakapan dalam menjalin relasi dan berkomunikasi pun menjadi sangat penting. “Ya, memang banyak kendala, mengingat cukup banyak mahasiswa yang berasal dari luar Jawa. Jadi, dibutuhkan perhatian ekstra untuk menolong mereka membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi bahasa internasional,” jelasnya.

STTBJ memiliki beberapa dosen lulusan luar negeri, juga beberapa dosen tamu asing. Maka, sekolah ini dapat mendorong mahasiswa untuk mempraktikkan kecakapan berbahasa Inggris.

Pdt. Susanto mengaku, tiga tahunan lalu STTBJ pernah membuka kelas bahasa Mandarin kerja sama dengan mahasiswa dari Cina dan Taiwan. Namun program tersebut macet karena hambatan pengurusan visa dan masalah akademik. Dengan berjalannya MEA, anggota GBI Jakarta Baptist Community tersebut berharap, kesuilitan pengurusan visa dan sejenisnya tidak akan terjadi lagi. Ia bahkan optimis akan kemungkinan membuka program-program studi yang bersifat internasional.

Pdt. Susanto merasa, makin mudahnya warga ASEAN masuk Indonesia dalam pelaksanaan MEA akan mendorong pengenalan berbagai ajaran dan budaya baru. Maka, tugas hamba Tuhan dan praktisi akademisi Baptis adalah menyiapkan mahasiswa dan  umat Kristen dengan teologi yang alkitabiah.

Pererat Kekeluargaan Baptis

Ketua BPN GGBI Pdt. Yosia Wartono mengungkapkan, gereja sangat berperan dalam mempersiapkan mental dan kerohanian umat saat memasuki MEA. Dikatakannya, MEA harus menjadi prospek tiap gereja, namun jangan ditakuti. Dikatakannya, gereja perlu memanfaatkan peluang lalu lintas tenaga kerja asing untuk pengembangan penginjilan dan penuaian.

“Dengan adanya MEA, semua orang asing akan keluar-masuk negara ini. Gereja harus memandang itu sebagai prospek tuaian, karena tidak semua orang yang datang dari luar negeri itu percaya Tuhan Yesus,” ungkapnya kepada Luana Yunaneva dari SB.

Pdt. Wartono mengatakan, supaya dapat menjadikan arena MEA sebagai prospek, gereja harus paham strategi penginjilan. Salah satunya dengan mengembangkan penggunaan bahasa Inggris.

“Kita tidak perlu takut bersaing karena kapasitas kita tidak lebih rendah dari masyarakat Asia pada umumnya. Bahkan, menurut saya masyarakat Indonesia ini masyarakat yang serba bisa. Inilah yang seharusnya membuat kita optimis,” ujar Gembala Sidang GBI Setia Bakti Kediri ini.

Ia melanjutkan, para hamba Tuhan tinggal membuka wawasan kompetisi dalam MEA dan menjadikannya menjadikannya sebagai peluang, kepada warga gereja. Dengan demikian, jemaat mengetahui situasi dan kondisi yang akan dihadapi di masa mendatang. “Jadi, yang perlu disiapkan saat ini adalah mentalitas yang kompetitif dan spiritualitas yang matang, itulah tugas gereja.”

Dalam peran GGBI yang cukup majemuk, Pdt. Wartono mengungkapkan, pokok permasalahan yang sudah muncul sejak lama dan perlu dipikirkan bersama, yaitu masalah kebersamaan.  “Sekalipun selama ini kita sudah merasa bersama-sama, seringkali yang dimaksud kebersamaan adalah tiap gereja menyatakan ‘kami ini otonomi’. Kami melihat kebersamaan itu strategis dalam konteks bahasa Indonesia karena kita hidup di bawah tekanan berbagai sudut. Kalau kita berjalan masing-masing dengan mengatasnamakan otonomi, keberadaan kita akan sangat terbatas.”

Maka, ia mengajak umat Baptis Indonesia mempererat kekeluargaan antargereja dan terus bekerja sama sebagai keluarga besar GGBI.

Di sisi lain, Gembala Sidang GBI Tlogo Semarang, Pdt Nixon Siathen mengungkapkan, dalam MEA ini, Indonesia mungkin perlahan akan mengalami sedikit kejutan jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang berkembang ataupun yang sedang berkembang. Menurutnya, MEA akan banyak berpengaruh  pada lapangan pekerjaan, pendidikan, bahkan kesehatan.

Selain itu, banyaknya pandangan tentang MEA dan reaksi-reaksi yang banyak bermunculan, dapat mengacaukan fokus gereja. “Sebagai hamba Tuhan, melihat besar atau kecilnya tantangan yang akan terjadi, kami tidak akan lepas dari bagaimana kami percaya Tuhan. Kami tidak bisa berpegang pada pemikiran atau situasi yang sedang terjadi,” ungkapnya.

Ia yakin, pelbagai krisis yang selama ini disorot, justru menjadi peluang besar bagi peningkatan pelayanan para hamba Tuhan di Indonesia. “Kita tidak perlu takut! Sebaliknya kita harus percaya dan optimis. Bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap mengandalkan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Yeremia 17 ayat 7, diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”

Ia pun menuturkan, persaingan seperti apa pun bukanlah ancaman jika manusia mengandalkan Tuhan sepanjang waktu. Mereka yang melakukannya akan diberi kekuatan untuk menyongsong tahun yang terus datang kemudian.

Pewawancara : Luana Yunaneva & Andry W.P.

Penulis : Andry W.P.

Editor  : Prisetyadi Teguh Wibowo

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here