Liputan Khusus 3 – Ketika Pendeta Berdosa, Jangan Langsung Diberhentikan Dari Pelayanan

0
183

Satu kesalahan diingat terus, sementara seribu kebaikan terlupakan. Pepatah tersebut mungkin paling tepat untuk menggambarkan nasib seorang pendeta bila terjatuh dalam dosa. Kebaikan bertumpuk yang pendeta lakukan, pupus saat melakukan satu kesalahan.

Menjadi pendeta bukan perkara yang mudah. Seorang pendeta punya banyak tanggung jawab pelayanan dan tuntutan dari lingkungan, jemaat bahkan dari keluarga sendiri. Tak ayal, situasi seperti ini bisa membuat seorang pendeta sering menghadapi stres dan jatuh dalam dosa. Bila ini terjadi, akan berakibat fatal dalam penggembalaan. Dampaknya bukan hanya pada kehidupan pribadinya, tetapi juga pada keluarga dan gereja.

Lantas bagaimana bila pendeta jatuh dalam dosa?

Pdt. irwanto bersama istri

Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pertama Medan Pdt. Irwanto Berutu berujar, “Bahwa pendeta juga manusia, ini jangan dijadikan sebagai tameng, ya? Jangan sampai mengatakan, ‘Ya, kan saya juga masih manusia, jadi bisa saja jatuh kedalam dosa.’ Tetapi kita juga jangan memvonis atau menghakimi (pendeta yang jatuh dalam dosa).

Kadang-kadang kan jemaat posisinya sebagai hakim. Padahal (itu) kan salah? Nah, hamba Tuhan itulah pilihan Tuhan. Kalau punya kelemahan, bisa dinasihati, bisa ditegur. Yang kami sampaikan biasanya, supaya jemaat belajar menerima (kekurangan pendetanya).”

Sedangkan Gembala Sidang GBI Anugerah Tuhan, Lampung Pdm. Suyadi meminta, jemaat juga menyadari bahwa seorang pendeta bisa berdosa. Ia juga berharap, jemaat bisa turut menjaga dan mengingatkan jika seorang pendeta mulai menyimpang.

Pdm. Suyadi

“Seandainya (pendeta) sudah jatuh (dalam dosa) dan menjadi aib, maka (jemaat) harus tetap mengasihi dan menolong untuk bangkit. Tidak asal saja mengeluarkan hamba Tuhan dari pelayanan. Perlu mediasi dengan hamba Tuhan dalam lingkup Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) untuk mendapatkan solusi,” harapnya.

Namun kejatuhan seorang pendeta memang bukanlah masalah sederhana. Gembala Sidang Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung Pdt. Ardi Y. Wiriadinata mengatakan, kejatuhan seorang pendeta tidaklah mudah diterima. “Kalau (pendeta) sudah jatuh dalam dosa memang sedikit susah. Namun jika masih baik-baik saja, sebaiknya membangun rasa percaya antara pendeta dan jemaat dengan keterbukaan.”

Dilanjutkannya, ketika seorang pendeta merasa bisa melakukan segala sesuatu dan memposisikan diri sebagai orang yang sempurna, akan sulit waktu jatuh. Nanti orang akan mencibir, “Oh, katanya (sudah) sempurna?”

Pdt. Ardi & kel.

Itu sebabnya Pdt. Ardi menyarankan, pendeta dan jemaat menjalin hubungan yang sehat dan terbuka. Baik pendeta maupun jemaat perlu mengakui, mereka adalah orang-orang yang bisa menjadi rapuh. Karena itu, kedua pihak perlu saling menguatkan.

“Saya rasa itu menjadi suatu kekuatan sehingga (terbangun) hubungan timbal balik, pendeta mendoakan jemaat, jemaat mendoakan pendetanya. Saling dukung, seperti itu,” lanjut pria berpembawaan tenang ini.

Salah seorang yang dikenal sering memberi perhatian nyata ketika pendeta terbelit masalah adalah Pdt. Timotius Kabul. Gembala Sidang GBI Getsemani, Kediri Jawa Timur tersebut mendorong supaya jemaat turut menolong pendeta yang jatuh.

Pdt. Kabul

“Jemaat sebaiknya juga ikut ndandani (memperbaiki) dan menolong orang yang jatuh dalam dosa, sampai dia dipulihkan serta melayani Tuhan kembali. Jadi, yang pertama perlu dipahami adalah Allah itu mengasihi, dan kita pun harus mengasihi,” ujar Pdt. Timotus Kabul.

Beberapa narasumber yang dihubungi Suara Baptis berpendapat, sesuci-sucinya seorang pendeta atau gembala sidang, mereka juga manusia biasa. Namun berbeda dengan jemaat, yang selalu dimaafkan dan didukung kembali sesudah melakukan berbagai dosa yang jauh lebih serius dampaknya daripada yang dilakukan seorang pendeta.
Karena itu, peran sesama pendeta sangatlah dibutuhkan ketika seorang hamba Tuhan terjatuh.

“Kejatuhan dalam dosa bisa terjadi pada siapa saja, termasuk hamba Tuhan. Sebagai rekan hamba Tuhan, sebisa mungkin saya akan menguatkan agar yang bersangkutan tidak terpuruk keadaannya. Untuk teknis-teknis yang lain, saya harus mempertimbangkan berbagai hal. Jika hamba Tuhan yang jatuh dalam dosa jauh lebih senior dalam pelayanan, maka saya cukup menguatkan dan tidak bertindak lebih, demi rasa hormat saya kepada yang bersangkutan,” ujar Pdm. Suyudi kepada Kiki dari Suara Baptis 16 Maret 2020.

“Namun jika tidak lebih senior dan mungkin masih setara dalam pengalaman pelayanan, maka memungkinkan bagi saya untuk memberikan nasihat atau pendampingan yang lain,” lanjutnya.

Pdt. Timotius Kabul mengutarakan pendapat serupa, “Ya, (perlu melakukan) pendekatan, (itu) yang pertama. Yang kedua, diajak sharing (berbicara hati ke hati) saja. Tetapi kalau kita itu mampu menolong, (beritahukan) tujuan kami adalah untuk menolong kepada Anda, bahwa apa yang sudah terjadi ini adalah satu kesalahan.”

Pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur itu melanjutkan, “Tapi ketika kita masuk dalam pertobatan, maka Anda pun akan diberkati Tuhan, dipulihkan kembali oleh Tuhan. Itu yang utama. Jadi, mengajak mereka (untuk bangkit kembali), lalu juga mengadakan pendampingan agar mereka tidak menyimpang lagi dari perbuatan-perbuatan yang tidak benar itu.”

Pdt. Ardi pun berkata sama. “Kalau itu adalah seseorang yang kita sudah dekat, kita tahu (berbuat dosa), kita bisa sharing dan curhat bersama-sama. Mungkin kita bisa lebih mengerti ya? Bukan berarti kalau memang dia benar-benar jatuh dalam dosa, bukan berarti kita membenarkan dosanya.”

Menurutnya, jika sesama pendeta memiliki hubungan yang baik dan sehat, niat membantu seorang pendeta yang sedang jatuh, akan dapat dipahami dengan baik. Sebaliknya, jika hubungan sesama pendeta kurang baik, akan sukar membantu pendeta yang jatuh.

“Kalau rekan sekerja atau BPD (Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia) sering melayani bersama, punya hubungan yang baik, pasti niat untuk menolong orang yang jatuh dalam dosa, begitu kuat. Secara prinsip sama seperti jemaat. Kalau jemaat melihat pendetanya sedang bergumul serta situasinya kurang baik, dan pendeta rela ditolong, pasti ada rasa saling dukung,” tandasnya.

KELG. PDT. ANDREAS DHARMADI-NEW

Dorongan saling tolong di antara para pendeta juga mestinya dilakukan melalui jalur organisasi pelayanan, bukan hanya dari hubungan persahabatan. Hal ini pernah dilakukan mantan Gembala Sidang GBI Wonogiri, Jawa Tengah Pdt. Em. Andreas Dharmadi. Pria ramah ini pernah menjabat Ketua Departemen Kependetaan Badan Pengurus Pusat (sekarang Badan Pengurus Nasional/BPN, red.) GGBI tahun 2005-2010. Dalam waktu tersebut, Pdt. Em. Dharmadi menangani beberapa pendeta yang jatuh dalam dosa pelanggaran etika pelayanan dan karakter yang kurang baik.

Tanpa menyebut nama pendeta yang ditemui secara pribadi, Pdt. Andreas menyampaikan, “Waktu itu kepada sesama hamba Tuhan, ya saya minta supaya bertobat, menyadari dosanya, membuktikan penyesalan dan pertobatannya dengan segera. Mengubah sikap hidupnya, kembali sebagai hamba Tuhan.”

Namun ketika seorang pendeta jatuh dalam dosa yang fatal, Pdt. Em. Dharmadi mendorong supaya pendeta yang bersangkutan berani mengakui dosanya di hadapan Tuhan dan jemaat.

“Jika jemaat sudah tahu semuanya, lebih baik mengundurkan diri daripada dimundurkan oleh jemaat. Tetapi keputusan untuk pencabutan (gelar) kependetaan, semua diserahkan kepada gereja yang menahbiskan,” kata Pdt. Em. Dharmadi.

Senada dengan itu, Pdt. Timotius Kabul menyatakan, setiap gereja memiliki tatanan organisasi masing-masing. Mantan Ketua BPN GGBI ini mengungkapkan, tidak sedikit pendeta yang diminta untuk berpamitan kepada jemaat jika melakukan kesalahan fatal.
Meski begitu, ia mendorong supaya jemaat lebih dulu memperbaiki apa yang sudah rusak. “Mari perbaiki dengan sebaik-baiknya agar mereka nantinya bertobat dan hidup dalam pengampunan, sampai boleh mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan Yesus,” ajaknya dengan nada suara lunak.

Penulis: Yohanes Aris Santoso
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here