Liputan Khusus 2 – KALA GOSIP MEMBUAT PENDETA TERPOJOK

1
292

“Frustasi? Wah sering!”
“Khawatir? Pernah, wajar dan itu manusiawi.”

Begitulah pengakuan beberapa pendeta yang berhasil diwawancara tim Suara Baptis (SB). Banyak anggapan bahwa seorang pendeta harus menjadi manusia super: lebih rohani daripada yang bukan pendeta, lebih suci, lebih tangguh, lebih bijak dan lebih bisa dalam berbagai hal. Anggapan ini tidak hanya muncul dari jemaat biasa atau orang kebanyakan tetapi juga dari kalangan pendeta sendiri.

Namun bagaimanakah sejatinya hati para pendeta kala menjalani komitmen pelayanannya? Bagaimana mereka mengelola beban hidupnya?

KELG. PDT. ANDREAS DHARMADI-NEW

Mantan Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Wonogiri Jawa Tengah Pdt. Em. Andreas Dharmadi mengakui, menjadi pendeta itu memiliki beban yang berat. Lebih-lebih kalau tidak sungguh-sungguh terpanggil dalam pelayanan, pasti bebannya akan terasa sangat berat. Tetapi bagi yang meyakini panggilan Tuhan, dia akan bertahan. Ini karena ada Tuhan yang memberikan kekuatan.

Menggembalakan GBI Wonogiri selama 32 tahun, Pdt. Dharmadi mengungkapkan bagaimana dirinya mampu memikul beban-bena pelayanan. “Paling bisa mengelola beban pelayanan itu bersama Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan itu yang menentukan. Seringkali memang jemaat bergosip. Bergosip tentang pendetanya, pelayanan pendetanya, keluarga pendeta. Sering juga mendapat celaan, bahkan kadang membuat pendeta merasa terpojok.”

Menurutnya, kedekatan dengan Tuhan itulah yang menentukan, apakah seorang pendeta tahan diterpa gosip dan berbagai beban pelayanan lain sekaligus mengatasinya.
“Kalau pendeta itu sungguh-sungguh terpanggil dan ada kedekatan dengan Tuhan, pasti dapat mengatasi semua itu,” tandasnya kepada Kikie dari SB.

Mantan Gembala Sidang GBI Batu Zaman Bandung, Pdt. The Giok Gak dan Gembala sidang GBI Anugerah Tuhan Tulang Bawang Lampung, Pdm. Suyadi turut membagikan kiat menghadapi tatangan pelayanan. Ketika muncul situasi yang mengganggu pelayanannya kepada jemaat, keduanya melakukan pendekataan dan berbicara secara pribadi. Dengan begitu, anggota jemaat dapat memahami situasi yang sebenarnya dan muncul rasa saling menghargai.

Pdt. The Giok Gak bersama Istri

Setinggi-tingginya kerohanian seorang pendeta, ia pernah kecewa bahkan frustrasi. Misalnya ketika pendeta berusaha melayani sekuat kemampuan tetapi jemaat tidak puas.
Seorang narasumber mengaku, tidak mudah menerima situasi ketika anggota jemaat sekian banyak itu merasa tak puas hati dengan pelayanannya. “Anggap saja ada 100 anggota jemaat, (maka) di sini ada 100 pikiran dan 100 keinginan. Ini yang kadang membuat frustrasi,” ucapnya.

Pdt. Dharmadi yang pernah menjabat Ketua Departemen Pendeta Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI) ini menyakini, ketika banyak tumpukan beban, satu-satunya yang bisa menolong adalah Tuhan sendiri. “Kalau khawatir sih pernah. Dan wajar ya, manusiawi, bahkan sering khawatir.”

Kekhawatiran itu sempat muncul ketika awal masuk Wonogiri tahun 1981, salah satu kabupaten di sebelah tenggara Kota Solo, Jawa Tengah. Tempat pelayanan Pdt. Dharmadi terletak di sebuah desa yang gersang, jumlah jemaatnya sedikit, dan honornya pun kecil.
“Kami memiliki tiga anak. Honor dari gereja, kecil. Mungkin paling kecil di daerah Surakarta. Lalu bagaimana dengan masa depan? Kayaknya nggak bisa,” ungkap Pdt. Dharmadi.

Sementara itu Pdm. Suyadi lebih sering sedih dan khawatir ketika melihat situasi jemaat yang minus atau sulit untuk berubah menjadi baik, “Bahkan seringkali mengalami penurunan yang signifikan terkait dengan pertumbuhan rohani jemaat, keuangan gereja, kebutuhan keluarga dan sebagainya.”

Pdm. Suyadi

Meyakini akan panggilan Tuhan serta pemeliharaan-Nya menjadi modal utama seorang Hamba Tuhan.

“Apa pun yang terjadi, karena Tuhan yang memanggil, ya kami yakin, Tuhan sendiri yang bertanggung jawab. Sehingga ketika rasa khawatir itu (datang), kami serahkan kepada Tuhan yang berjanji akan menolong. Itu terbukti. Bukan omong kosong,” kenang Pdt. Dharmadi yang mengalami bukti pemeliharaan Tuhan atas keluarganya.

Ia lantas berkisah, bagaimana Tuhan memelihara diri dan keluarganya dengan cara-Nya sendiri. Kebutuhan sehari-hari keluarga gembala sidang ini tercukupi melalui jemaat yang mengasihi dan memperhatikannya. Anak-anak pun belajar di sekolah negeri yang biayanya terjangkau. Jarak dari rumah ke sekolah juga dekat, tidak perlu ongkos untuk pergi-pulang.

Memang, tempat curhat favorit para pendeta adalah Tuhan. Namun demikian mereka perlu juga masukan dari sesama hamba Tuhan atau para pendeta senior.

“Tidak banyak saya bercerita kepada orang-orang luar, tetapi mungkin yang paling bisa dipercaya (adalah) gembala sidang yang lebih senior,” aku Pdt. The Giok Gak.

“Kalau saya, (curhatnya) ke rekan sesama hamba Tuhan,” kata Pdm. Suyadi dari tempat yang berbeda.

Dampak Kepada Isteri & Anak

Pergumulan pelayanan para gembala sidang sudah tentu akan terasakan oleh istri dan anak-anak, orang-orang terdekat sang hamba Tuhan. Itu sebabnya, Pdt. Dharmadi terkadang berbagi beban tersebut kepada keluarganya.

“Ya, kepada istri, saya ngomong-ngomong, juga anak anak. Saat anak-anak sudah dewasa, kami ajak datang kepada Tuhan untuk menyampaikan hal (pergumulan) ini kepada Tuhan. Kekuatan kita sekeluarga itu kan Tuhan? Apa pun yang terjadi, pasti Tuhan akan bertanggung jawab,” tutur Pdt. Dharmadi.

Berbeda dengan Pdt. The Giok Gak yang memilih menympan sendiri pergumulannya, “Saya tidak pernah membuka beban masalah saya kepada istri juga kepada anak-anak. Biarlah istri melakukan yang tidak kelihatan atau di belakang layar saja.”

Dorce Meiwa Panggua, istri asisten gembala sidang GBI Kalvari Jakarta Pdt. Refli Sumanti, mengakui betapa pergumulan pelayanan sang suami acapkali berdampak kepadanya. “Sangat berdampak kepada saya. Saya malah terkadang lebih stres daripada Bapak.”

Oce, panggilan akrabnya melanjutkan, “Ketika ada persoalan, karena saya orangnya tidak suka bercerita kepada orang lain tentang pergumulan saya, maka yang saya lakukan hanya berdoa, berdoa dan berdoa. Di situlah hati saya menjadi tenang dan nyaman.”

Apakah pergumulan sang suami juga berdampak kepada kedua anak mereka?
“Ya, pasti! Tetapi kepada anak-anak kami berikan pengertian dan arahan, bahwa dalam pelayanan itu pasti ada masalah dan tantangannya. Saya minta supaya mereka tetap fokus belajar dan pelayanan.”

Oce sendiri mempunyai tips bagaimana menjadi istri seorang hamba Tuhan.

“Kita harus panjang sabar, mau merangkul, mengasihi siapa pun, siap dikritik, rendah hati, jangan suka menceritakan pergumulan pribadi kepada orang lain, mengadakan waktu sharing dan berdoa bersama suami. Dan yang lebih dari itu, ada waktu khusus secara pribadi dengan Tuhan.”

Pengakuan pun datang dari Yemima Kharistia Evangelika Pratami, putri Gembala Sidang GBI Ngadinegara Pdt. Marthinus Sumedi. Pemudi 24 tahun yang biasa disapa “Tia” ini mengakui, beban pelayanan ayahnya pun mempengaruhi dia.

“Sangat berdampak! Karena otomatis kami berstatus anak pendeta. Kami harus berlaku kayak jadi orang suci. Ya, meskipun kami juga melakukan hal-hal yang baik. Saya sih (bersikap) bodo amat dengan omongan orang,” tukasnya.

“Saya berdoa buat Papah, mendukung apa saja yang Papah lakukan berkaitan dengan pelayanan dan memberikan semangat buat Papah,” lanjut Tia.

Kenanya Dwicharisma Jodito Elnugrahawan atau dipanggil Ken, putra Gembala Sidang GBI Bakti Bandung Pdt. Stefanus Joko Budiyanto, juga mengakui dampak pelayanan sang ayah pada dirinya.

“Berdampak. (Saya) cuek aja, tapi sempat kesel juga. Beberapa kali sempat dengar dari anak pendeta yang lain, jadi seperti insecure (merasa tidak aman). Tapi kalau saya ngadepin sih, bodo amat. Soalnya, kita kan anak pendeta, juga punya kehidupan masing-masing.”

Meski demkian, Ken tetap mendorong teman-teman sesama anak pendeta untuk tetap berdiri tegak.

“Tapi sebagai anak pendeta, kita harus punya identitas yang kuat. Misalnya, kita mau dikenal sebagai anak pendeta yang bisa main musik, pelayanan nyanyi atau segala macam. Kita tekuni di situ.”

Ditambahkannya, semua itu juga tak terlepas dari hubungan baik dalam persekutuan dengan anak-anak pendeta sendiri. Karena dalam persekutuan ini, anak-anak pendeta bisa saling mendoakan setiap pergumulan yang dihadapi.

Bagaimana pun, seorang pendeta tetaplah menjadi pemimpin yang harus memberikan contoh baik.

“Gembala sidang harus menjadi teladan dalam segala perkara. Tuntutan ini sederhana tetapi berat, namun ini yang disukai jemaat,” ujar Pdt. The Giok Gak.

Penulis: Kikie
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here