Liputan Khusus 1 – Ketika Pendeta dituntut Menjadi Manusia Super, HARUS MENJADI ANUTAN DITENGAH KELEMAHAN

0
307

Menjadi pendeta tidaklah bisa sekadar hobi. Tak bisa hanya karena pandai berbicara di depan umum. Menjadi pendeta haruslah karena panggilan. Jika seseorang tidak dipanggil secara khusus menjadi pendeta, ia tidak akan sanggup menghadapi tuntutan tugas, tanggung jawab maupun teladan hidup.

“Menjadi hamba Tuhan itu adalah panggilan, juga pilihan kita. Maksudnya, Tuhan memanggil kita lalu kita mengambil pilihan itu dan menjadi hamba Tuhan atau pendeta. Sebagai hamba Tuhan, wajar jika kita dituntut karena kita memiliki posisi sebagai pemimpin, dan seorang pemimpin harus menjadi teladan,” tutur Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Pertama Medan, Sumatra Utara Pdt. Irwanto Berutu kepada Juniati dari Suara Baptis, 19 Februari 2020.

Menanggapi tuntutan jemaat maupun lingkungan terhadap pendeta, Gembala Sidang Gereja Baptis (GB) Pertama Bandung, Jawa Barat Pdt. Ardi Wiriadinata memberikan dua pengertian. Keduanya adalah tuntutan nyata dan dan tuntutan yang sebenarnya tidak nyata.

“Kalau untuk tuntutan, kita harus bisa membedakan. Minimal yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri, kita menuntut diri kita sebagai pendeta atau ekspektasi dari kebiasaan-kebiasaan itu sebenarnya yang nggak nyata? Tetapi kalau berkaitan dengan pekerjaan dan pelayanan seperti kita harus berkhotbah, mengajar, kunjungan ataupun melatih jemaat, itu memang tanggung jawab kita sebagai gembala sidang,” ujarnya.

Sementara mantan Gembala Sidang GBI Cimahi, Jawa Barat Pdt. Rattu Albert Moniung mengungkapkan, panggilan menjadi pendeta adalah suatu pekerjaan yang sangat berharga. Panggilan ini berbeda dan melebihi semua pekerjaan yang lain di dunia. Itu sebabnya diungkapkan dalam 1 Timotius 3:1-7, seorang penilik jemaat haruslah orang yang tidak bercela.

“Orang yang ingin menjadi pendeta harus melihat (panggilan) ini sebagai pekerjaan yang berharga artinya melebihi dari pekerjaan dunia yang lain. (Syaratnya) seperti yang dituliskan dalam 1 Timotius 3:1-5, ” ungkapnya pada Yohanes Aris Santoso dari Suara Baptis 25 Febuari 2020.

Sekadar tahu, seperti yang diungkapkan dalam 1 Timotius 3:1-7, “seorang penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anaknya.”

Pdt. Moniung

Panggilan menjadi pendeta seperti diungkapkan Pdt. Moniung, bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi baik dari jemaat, lingkungan bahkan dari keluarganya sendiri.

Sementara Pdt. Irwanto Berutu berkata, seorang pendeta harus menjadi teladan seperti yang disampaikan Paulus kepada Timotius. Timotius sendiri masih muda namun ia dituntut untuk menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian (1 Timotius 4:12).

Pdt, Irwanto bersama keluarga

“Saya melihat bahwa seorang pendeta harus memiliki integritas termasuk disiplin. Mengenai tuntutan, saya kira itu wajar karena kita sebagai anutan, dan anutan itu ada di depan, meskipun pendeta juga masih punya kelemahan,” ujar ayah dari seorang putri ini.

Ia melanjutkan, “Panggilan menjadi hamba Tuhan dalam konteks penggembalaan, saya punya prinsip 7M, (yaitu) Mengasihi, Memuridkan, Mengajar, Menginjil, Mengunjungi, Mendoakan dan Mengutus.”

Bahwa pendeta harus menjadi teladan, hal itu juga dikatakan mantan Gembala Sidang GBI Batu Zaman Bandung Pdt. The Giok Gak, “Kata yang paling gampang diucapkan namun sulit dilakukan adalah ‘teladan’. Bukan berarti dia (pendeta) harus berkata, ‘Ini saya, lihat saya sebagai contoh,’ namun secara diam-diam melakukan sesempurna mungkin. Meski itu (teladan) yang paling sulit namun merupakan bagian paling penting. Jadi, teladan itu adalah berusaha sebaik mungkin walaupun terbatas kemampuannya.”

Sendirian Memendam Persoalan

Sudah menggembalakan sejak tahun 2002 (18 Tahun), Pdt. Irwanto banyak menjumpai persoalan dalam kehidupan bergereja. Menurutnya kehadiran pendeta dalam gereja membantu memberikan masukan sehingga jemaat kembali pada Firman Tuhan. Meski banyak kali menjumpai masalah dalam organisasi yang kadang-kadang alot, hal itu tak sampai membuatnya stres.

Pdt. The Giok Gak bersama Istri

Sedangkan Pdt. The Giok Gak yang 34 tahun menggembalakan GBI Batu Zaman, memberi resep pelayanan yang telah dilaluinya dengan baik, yaitu kedisiplinan.

“Dalam perjalanan pelayanan kami selama sekitar 34 tahun, selalu ada yang suka dan tidak suka. Namun selama melayani, kami tidak menjumpai ada orang yang sampai terang-terangan membenci atau memusuhi. Saya (termasuk) disiplin sehingga sebulan sekali kami rapat. Pada saat rapat itu, semua blak-blakan, tidak ada yang tersembunyi, berapa banyak yang setuju, berapa yang tidak setuju,” ujar pria jangkung yang giat dalam dunia musik gereja ini kepada Suara Baptis, 17 Februari 2020.

Menurutnya, jika terjadi persoalan atau kesalahpahaman dalam jemaat, ia akan melakukan pendekatan pribadi. Selanjutnya, Pdt. The Giok Gak menjelaskan secara perlahan persoalan ataupun situasi yang sebenarnya.

Menjadi pendeta harus juga siap hati dan mental, entah karena disalapahami seseorang, menghadapi persoalan-persoalan dalam penggembalaan, maupun masalah dari luar gereja.

Pdt. Yakub dan keluarga

“Saya sering mendengar orang-orang berkata, ‘Pak Jakub melakukan hal-hal yang menjadi kepentingannya sendiri.’ Namun karena saya tahu apa yang saya kerjakan (itu) benar, hati nurani saya benar di hadapan Tuhan, jadi tidak terlalu ambil pusing ataupun bawa perasaan,” ujar utusan Injil GB Pertama Bandung di Jemaat Petra, Medan Sumatra Utara Pdt. Jakub Ginting

Ia juga mengungkapkan selalu berpikir positif dan tetap bersemangat dalam pelayanan serta membagikan hal yang sama kepada keluarga dan tim sepelayanannya.
Sementara Pdt. Ardi Wiriadinata mengungkapkan tantangan dalam pelayanan adalah ketika jemaat secara terbuka tidak percaya. “Ketika ada hubungan-hubungan yang nggak baik terjadi, dalam artian ada jemaat yang secara terbuka tidak percaya, menjadi salah satu tantangan dalam pelayanan namun juga bisa menjadi refleksi.”

Sejumlah hamba Tuhan mengaku menyimpan tantangan-tantangan pelayanan tertentu untuk diri sendiri dan Tuhan. Namun mereka tertolong dengan kehadiran orang-orang yang memahami dunia pelayanan dan memberikan dukungan semangat.

“Kalau saya bersyukur karena ada tim pastoral di sini (GB Pertama) jadi kita punya waktu untuk sharing, saling mendoakan dan menolong. Untuk level praktis pelayanan ada dua pendeta yang bisa, sementara untuk level-level di bidang-bidang khusus pelayanan ada banyak jemaat yang juga adalah pemimpin-pemimpin jemaat. Jadi, kita bisa sharing,” tutur Pdt. Ardi.

Pdt. Ardi & kel.

Ayah dua anak ini mengakui tak dapat melakukan semua pelayanan seorang diri. Itu sebabnya ia bersyukur karena GB Pertama memiliki banyak orang yang punya kemampuan dalam pengetahuan Alkitab, kedewasaan iman, dan kemampuan di bidang-bidang tertentu untuk membangun tubuh Kristus. Tak hanya itu, kehadiran seorang pembimbing atau bapak rohani bagi Pdt. Ardi sangat menolong.

“Ada seseorang yang sangat saya percaya menjadi pembimbing rohani, saya sebutnya mentor. Mentor dalam arti segala hal, nggak hanya tentang pelayanan tetapi juga yang bersifat pribadi bahkan lebih banyak sharing tentang kehidupan secara umum. Kita bisa memperoleh pembimbing secara rohani. Pasti ada perspektif yang dia bisa lihat dan kita nggak bisa lihat,” ucapnya.

Hal serupa diungkapkan Pdt. Jakub dan Pdt. Irwanto. Selain membawa pergumulan dalam doa penyerahan kepada Tuhan, kehadiran istri yang sama-sama melayani sangatlah menolong dalam pelayanan.

“Bersyukur ada orang-orang di sekitar saya yang memahami saya, khususnya istri sebagai rekan penolong. Biasanya dia akan mengajak saya untuk berhenti dari segala kesibukan dan mengambil waktu, diajak pergi keluar rumah, ngopi bareng. Setelah itu kami kembali dan mengingat akan panggilan, visi dan juga apa yang sudah Tuhan kerjakan,” tutur Pdt. Jakub.

Berbeda halnya yang dialami Pdt. The Giok Gak. Ketika mengalami pergumulan-pergumulan berat, ia lebih memilih menyimpannya sendiri. Ia jarang menceritakan pergumulan tersebut kepada istri dan anak-anaknya.

“Saya tidak pernah menyampaikan kalau lagi ada beban berat. Paling cuma bilang lagi ada persoalan,” ungkapnya.

Tuntutan hidup dan tanggung jawab yang besar berada di pundak para pendeta. Terkadang mereka terlihat baik-baik saja, namun seringkali para hamba Tuhan itu menyimpan pergumulan yang tak dapat dibagikan kepada orang lain. Di saat yang sama, para pendeta dituntut tetap memberikan pelayanan yang terbaik agar nama Tuhan dimuliakan.
Pernahkah Anda sungguh-sungguh mendoakan mereka daripada menuntutnya melakukan sesuatu sesuai yang diharapkan?

Penulis: Juniati
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here