LIPUTAN | Ajakan Ber-AKSI: Dengan Kartun Memberantas Korupsi

0
212

Sabtu, 21 Maret 2015 Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI), Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) dan Komisi Pemberantaran Korupsi (KPK) menggelar lomba poster antikorupsi, pameran kartun dan diskusi tentang perilaku korupsi. Lomba diawali pukul 14:00 dengan pengarahan singkat oleh pengajar desain komunikasi visual, Aries Setiawan. Sekitar 15 menit kemudian, 19 peserta lomba dari sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) menggoreskan pensilnya memperebutkan hadiah Rp 1 juta (pemenang pertama), Rp 500 ribu (pemenang kedua) dan Rp 250 ribu (pemenang ketiga).

Tampaknya, mereka telah mempersiapkan diri untuk perlombaan ini. Dengan total waktu pengerjaan kurang dari dua jam, persiapan dan ide yang telah dipikirkan sebelumnya akan sangat menolong. Dan, ketegangan semakin terasa pada detik-detik terakhir pengumpulan.

Penampilan Paduan Suara Gita Wastu, gabungan anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA dengan dua buah gerak dan lagu yang sangat apik menandai pembukaan pameran hari pertama. Ruang depan yang diisi pajangan karya para kartunis dalam cahaya yang temaram makin menggetarkan suasana yang penuh keindahan.

Sambutan-sambutan singkat dan perkenalan diberikan Ketua STDI, Pdt. Martinus Ursia, Sandri Justiana (Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK), dan Joko Luwarso (Pakarti).

Dibukanya pintu penghubung ke ruangan dalam menandai acara selanjutnya, forum diskusi dengan masing-masing perwakilan dari STDI, KPK, dan Pakarti. Lagi-lagi, suasana yang temaram dihiasi pajangan karya-karya kartunis, menciptakan suasana presentasi yang hangat tentang korupsi, mendorong hadirin untuk berpikir. Korupsi yang dapat merugikan negara hingga angka triliunan Rupiah ini ternyata dipicu oleh perilaku-perilaku yang merugikan seperti bohong, menyontek, melanggar lalu lintas, buang sampah sembarangan, boros, malak, nilep uang bayaran sekolah, dan menyerobot antrean.

Pdt. Martinus dalam selebaran pameran ini menuliskan, “Pameran ini untuk merekam realitas masyarakat. Apakah masyarakat memiliki kecenderungan korup, atau hanya pejabat yang korup? Atau malah sistem politik, hukum, ekonomi yang memberi ruang lebar bagi korupsi merajalela?”

“Komunikasi lewat gambar tak pernah surut dimakan zaman,” tulis Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Toni Masdiono, yang memimpin forum diskusi. “Di era digital ini justru komunikasi kartunal makin eksis. Korupsi pun nampaknya tak pernah hengkang dari sebagian besar negara di dunia ini,” lanjutnya.

Kesempatan ini merupakan momentum yang baik untuk masyarakat luas, terutama generasi muda siswa-siswi SMA, untuk bangkit dan bersikap kritis, berani berekspresi dan berpikir melalui kreativitas seni visual. Kreativitas inilah yang digali dari siswa-siswi SMA melalui lomba.

Sahara Krisnadevi (SMA Angkasa) berhasil meraih juara pertama. Guru seni budaya SMA Angkasa, Septian Nur Fatoni mengatakan, sebelum lomba, anak-anak didiknya di sekolah yang terkenal memiliki tim pasukan pengibar bendera (paskibra) jempolan ini memang telah dilatih dan diseleksi lebih dulu. Sedangkan peserta lain dari SMA Angkasa gagal menang lomba karena tidak menggunakan teknik yang dianjurkannya, ujar Septian kepada Lya Anggraini dari Suara Baptis. Menurut Septian, goresan siswanya itu memang bagus dan berkarakter, hanya teknik pewarnaannya lemah.

21 Maret 2015  dok bigjohn 2Pemenang ketiga adalah Akmal Zaidan (SMA Negeri 20 Bandung). Posternya bergambar manusia bermuka tikus bertuliskan “WANT3D” di atas dan “DEAD OR ALIVE” di bawahnya dengan media sederhana pensil warna merah, pensil B, dan spidol.

Pingin gambar, seneng gambar, jadi deh..” katanya ketika diminta menjelaskan karyanya.

Peserta ini datang tepat ketika lomba dimulai dan selesai lebih cepat. Tampaknya ia telah menyiapkan diri sebelum datang di tempat lomba.

Menurut Toni, karya pemenang kedua, Felicia Sianti Dewi (SMA Kristen 3 BPK Penabur), sebenarnya memiliki orisinalitas dan pewarnaan yang sangat bagus. Tikus-tikus bermunculan dari lubang-lubang di meja permainan, siap dihantam palu pemain yang hanya tampak punggungnya. Pada layar game tertulis “BERANTAS” berwarna merah. Sayang, tulisannya tidak kontras dengan latar belakang yang gelap.

Karya poster pemenang pertama adalah karikatur dalam sebuah lingkaran kecil tentang laki-laki dan perempuan dikelilingi berkantung-kantung uang. Warna hitam cat semprot yang memenuhi kertas menonjolkan gambar dalam lingkaran tersebut. Huruf-huruf dari stiker tersusun rapi di bawahnya, “HEI KORUPTOR! SUATU SAAT HUKUM MENGADILIMU!” Tulisan ini ditempelkan dengan cerdik. Keseluruhan hasilnya, komposisi dan pewarnaan, sangat bagus, menarik orang untuk mendekat.

Para juri menyatakan bahwa pemahaman tentang korupsi di tingkat anak-anak SMA sudah cukup lumayan. Mereka berpesan untuk bisa menularkan semangat antikorupsi kepada teman-teman di sekolah. Mereka juga mengingatkan bahwa seluruh peserta sebetulnya sudah juara karena punya nyali untuk ikut lomba. “Hanya segelintir orang yang berani ikut lomba, padahal yang berkemampuan banyak,” tandas Toni.

Pameran yang ditampilkan selama seminggu sampai Sabtu, 28 Maret 2015 ini di antaranya memajang karya-karya kartunis senior seperti Pramono, Gesi Goran, Anwar Rosyid, Koesnan Hoesie, dan Sudi Purwono.

Dalam kesempatan itu, dibagikan pula buku Kartunis Ber-AKSI, kumpulan karya 100 kartunis dari Aceh, Medan, Riau, Jambi, Lampung, Kalimantan Selatan, Jakarta, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, dan Bali.

Melalui gerakan moral Kartunis Ber-AKSI ini, Pakarti ingin mengajak seluruh komponen masyarakat turut berperilaku antikorupsi dan melawan praktik korupsi di Indonesia.

Hidup antikorupsi!

 SB/lya anggraini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here