LIPSUS 2 – Mereka Yang Menang Melawan Covid-19 MENDAPAT KESEMPATAN KEDUA

0
494

Sembuh dari sergapan Covid-19 sesudah dirawat di ruang isolasi, adalah hadiah Tuhan yang tak ternilai. Itulah yang dirasakan Lestari iswandi, Sekretaris Gereja Baptis Indonesia (GBI) Imanuel Bandung, Jawa Barat. Seorang perawat memberinya ucapan selamat sebelum Lestari meninggalkan rumah sakit.

“Perawat itu bilang, ‘Ibu, puji Tuhan, Ibu itu orang kedua yang lolos dari ruang ventilator itu!’ Ini yang bikin saya bersyukur, menangis, bagaimana Tuhan itu benar-benar menyelamatkan saya, memberikan saya kesempatan hidup,” begitulah pengakuan Lestari kepada wartawan Suara Baptis Juniati.

Banyak orang tak dapat membayangkan apa yang terjadi saat terinfeksi Covid-19. Namun mereka yang pernah menjalani perawatan di ruang isolasi, merasakan bagaimana berada di titik terberat saat menahan sakit dan kesepian.

Gembala sidang GBI Getsemani Cabang Pandau, Pekanbaru, Riau Pdm. Johannes Riwayat yang sembuh dari Covid-19 merasa sangat bersyukur. Kesembuhan itu membuat Pdm. Johannes dapat kembali berkumpul dengan keluarganya.

Naomi Lestari & Keluarga

“Kalau kita melihat berita (tentang keganasan) Covid-19 ini kan, seakan-akan sembuh Covid-19 itu dapat kesempatan kedua,” ungkapnya. “Jadi, ya, bersukacita karena bisa melakukan pelayanan lagi. Kemudian saya share (kabar kesembuhan ini) ke teman-teman yang selama ini mendukung dan mendoakan.”

Sejumlah orang yang dihubungi Tim Suara Baptis pun mengaku sangat bersyukur karena dinyatakan sembuh dari Covid-19. Meski begitu, ada sebagian orang merasa was-was untuk keluar rumah.

Gimana nanti (kalau harus) keluar rumah? Kan kita masih bisa terinfeksi Covid-19 lagi kalau antibodinya tidak terbentuk? Jadi, masih ada rasa takut juga,” Merian Wana Gabriella, anak pasangan Pdt. Yosia Wartono – Rina Endah Kristini dari GBI Setia Bakti, Kediri Jawa Timur.

Bagaimana Bisa Sembuh?

Bagi orang-orang berusia di atas 50 tahun, Covid-19 disebut-sebut lebih mematikan. Apalagi jika ditambah adanya penyakit penyerta seperti diabetes, kanker, penyakit jantung, hipertensi dan gagal ginjal kronis.

Dkn Prabowo dan Istri

Namun selalu ada pengecualian. Diakon (Dkn.) Prabowo, anggota GBI Baitlahim Bandung yang hampir berusia 78 tahun, dinyatakan sembuh sesudah berhari-hari dirawat di ruang isolasi sebuah rumah sakit karena Covid-19.

Awalnya, pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini tidak berani berharap akan sembuh. Namun Tuhan berkata lain.

Dkn. Prabowo memiliki masalah ginjal sejak beberapa tahun lalu. Karena itu, seminggu dua kali ia harus menjalani cuci darah. Namun ajaibnya, sekitar dua tahun lalu, Tuhan menyembuhkan penyakitnya sehingga Dkn. Prabowo tak lagi menjalani cuci darah.

Bukan hanya itu, jantungnya juga bermasalah sehingga harus dipasang dua buah ring. Karena itu ketika diketahui mengidap Covid-19, mantan pejabat sementara Gembala Sidang GBI Baitlahim tersebut lantas pasrah. Ia tak lagi berharap bakal sembuh.

Itu sebabnya ketika dinyatakan sembuh, Dkn. Prabowo sangat bersyukur.

“Ya, masa Tuhan memberikan keajaiban pada saya, tidak bersyukur? Saya tetap bersyukur kepada Tuhan,” tuturnya.

Dkn. Prabowo menceritakan, dia diisolasi di ruangan yang cukup besar, dan sendirian. Tidak ada pasien lain di rumah sakit itu. Ketika itulah, Dkn. Prabowo mengaku diganggu makhluk halus.

“Jadi, saya sendirian di sana. Dan saya paling terganggu itu, karena di sana itu, banyak setan, Mas…” ungkapnya kepada Yohanes Aris Santoso dari Suara Baptis.

“Terus-terang saja, saya terganggu, bukannya saya takut. Saya terganggu, kaget, gitu. Itu karena halusinasi, karena terpengaruh obat atau apa? Saya tidak tahu.”

Dengan kesembuhan itu, Dkn. Prabowo bertanya-tanya, apa yang Tuhan inginkan dengan hidupnya, sehingga orang yang sudah lanjut usia ini disembuhkan dari Covid-19. Ia sendiri merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa, misalnya keluar untuk mengabarkan Injil. Kalau hanya rapat, mungkin masih bisa, ujarnya.

“Apa sih maksud Tuhan, dengan seorang diakon yang bernama Prabowo? Sudah tua, sudah renta, apa yang diharapkan dari saya? Apa maksud Tuhan? Dan untuk apa saya disembuhkan? Saya sudah pasrah, saya tidak mempunyai harapan sama sekali, tapi ternyata bisa sembuh,” katanya.

Dengan kesembuhan yang dialaminya, Dkn. Prabowo menyampaikan, obat hanyalah sebuah sarana. Hidup mati seseorang itu datang dari Tuhan.

Merian Wana Gabriella

Merian Wana Gabriella yang kerap disapa Gaby pun, menanggapi perihal kesembuhan yang dialaminya. “Saya menyadari, kalau mau kelihatan sesakit apa pun, mau kelihatan separah apa pun, kalau orang ini sembuh, ya pasti sembuh. Kalau Tuhan menentukan tugas kita selesai dengan baik, ya pastinya kita tahu (akhirnya tiba waktunya meninggal dunia),” tuturnya.

Asisten Gembala Sidang GBI Kalvari Jakarta Pdt. Refli Sumanti pun mengucap syukur sesudah sembuh dari Covid-19. Ia juga mengatakan hal senada. “Dokter memberitahu begini, obat itu hanya memberikan kekuatan 10 persen, yang 90 persen itu dari semangat kita. Memang, harus dari diri sendiri, harus semangat dari diri-sendiri, nih,” ungkap ayah dua anak laki-laki ini.

Pdt. Refli Jack Sumanti dan Keluarga

Dikatakannya, memang benar apa yang Alkitab katakan, yakni hati yang gembira adalah obat. Karena itu bagi penderita Covid-19 yang menjalani masa pemulihan, hati yang gembira menimbulkan pengaruh yang luar biasa. Itu sebabnya, Pdt. Refli mengajak supaya anak-anak Tuhan tetap mengusahakan supaya tetap bersemangat dan bersukacita.

Lestari pun membenarkan pernyataan tersebut, “Semangatlah yang membuat sembuh. Vitamin dan obat-obatan itu memang penting, tetapi semangat dari diri sendirilah yang terutama. Dan jangan lupa untuk berdoa.”

Lestari pun mengajak pembaca Suara Baptis dan orang-orang lain yang sedang dalam perawatan akibat infeksi Covid-19 supaya terus bergembira. Menurutnya, hati yang gembira adalah obat, walaupun diakuinya, dalam keadaan dirawat karena Covid-19, tidaklah mudah untuk gembira.

“Kemudian (konsumsilah) vitamin-vitamin, tenang, bersemangat. Menurut saya, ini yang membuat kita, ada semangat gitu,” tandasnya.

Pdm. Johanes Riwayat dan Keluarga

Pdm. Johannes Riwayat turut berpesan agar para penderita Covid-19 selalu berdoa dan memuliakan Tuhan. Kedua, melakukan hobi masing-masing selama menjalani perawatan.

“Misalnya, kita punya hobi membaca, ya kita membaca. (Masa peratawan) itu waktu yang tepat untuk melakukan itu, ketika dalam isolasi. Jangan dihilangkan, jangan menjadi stres. Yang penting rasa semangat dan optimis bahwa orang yang kena Covid-19 itu bisa sembuh,” tuturnya.

Menanggapi hal ini, Gaby juga memberikan nasihat serupa, sembari tetap melakukan protokol kesehatan. “Karena bagaimana pun yang memutuskan semuanya nanti itu Tuhan. Jadi, apa pun yang kita lakukan, apa pun yang nantinya kita kerjakan, apa pun yang terjadi di hidup kita saat ini, apa pun yang kita lakukan, kita serahkan kepada Tuhan.”

Sedangkan kepada keluarga pasien, Dkn. Prabowo berpesan supaya terus membesarkan hati. “Khususnya bagi (keluarga) yang sakit, yang masih dalam perawatan, berilah support (dukungan) agar mereka percaya kepada Tuhan. Mintalah mukjizat dari Tuhan, sekalipun mereka ini masih dalam perawatan. Mintalah mukjizat dari Tuhan.”

Diingatkannya, mukjizat Tuhan tidak bisa dilawan oleh apa pun juga. Itu sebabnya dirinya yang sudah lanjut usia, pernah harus cuci darah dua kali seminggu dan dipasang dua ring di pembuluh jantung, masih bisa disembuhkan. Bahkan virus corona tak sampai menyerang ke berbagai organ vitalnya.

“(Virus) Corona tidak bisa menyentuh ginjal saya. Karena dari terakhir tes, ginjal saya bagus, jantung saya bagus. Saya tetap tidak cuci darah (sesudah sembuh dari Covid-19). Artinya apa? (Pekerjaan) Tuhan! Mukjizat,” tutupnya.

Penulis: Yohanes Aris Santoso

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here