Lembar Kenangan – Theresia Moesono Hadianto, (4 Maret 1968 – 10 Januari 2021) BERPULANGNYA SOSOK RAMAH DAN CERIA

0
476

Tanpa pernah menderita penyakit berat, berpulangnya Theresia Moesono Hadianto (53 tahun) mengagetkan banyak orang. Istri Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Duta Illahi Tulungagung Jawa Timur Pdt. Tri Hadianto tersebut dikenal aktif dalam dunia pelayanan dan penyiaran Radio Serafim di kotanya. Ibu empat ini berpulang pada Minggu 10 Januari 2021 pukul 15.45 karena Covid-19.

Selama ini, Theresia yang disapa “Bu Tri” ini dikenal kebaikan hatinya dan ceria. Setelah perayaan Natal di gereja 28 Desember 2020, Theresia, Pdt. Tri Hadianto dan semua anak mereka dinyatakan positif terpapar Covid-19 sesudah menjalani tes swab. Namun karena tak ada gejala berat, mereka menjalani perawatan mandiri di rumah dengan bantuan obat-obatan dari puskesmas.

Selasa 5 Januari 2021, Theresia bersama Pdt. Tri berangkat ke Rumah Sakit (RS) Baptis Kediri untuk menjalani perawatan. Namun karena semua ruangan penuh, Theresia dan sang suami baru memasuki kamar perawatan malam harinya dalam kondisi yang sudah memakai selang infus.

“Istri saya sempat bilang, Kok nggak dimasukin kamar? Yuk, pulang aja, aku nggak apa-apa.’ Lalu saya jawab, ‘Itu udah diinfus kok, gimana to?’,” ujar Pdt. Tri Hadianto ketika diwawancarai wartawan Suara Baptis, Juniati Tasik Lola.

Karena ruang ICU penuh, Theresia baru masuk ruang perawatan intensif (ICU) hari berikutnya. Meski tak memiliki riwayat penyakit berat, kondisinya terus turun. Ia muntah-muntah, merasakan gejala flu, bahkan batuk-batuk hingga mengeluarkan darah.

Pdt. Tri menuturkan, kondisi istrinya makin buruk. Kadar oksigen dalam darahnya menurun hingga tinggal 40 persen, yang pada situasi normal berkisar 95-100 persen. Dokter lalu meminta izin untuk memasang ventilator, alat bantu pernapasan yang dimasukkan dari mulut hingga paru-paru.

Theresia juga membutuhkan plasma darah penyintas Covid-19 sebanyak empat kantong. Pencarian plasma darah ini melibatkan banyak orang. Selain anak-anaknya yang mengusahakan, para hamba Tuhan Baptis maupun non-Baptis turut mencari ke berbagai kantor Palang Merah Indonesia (PMI). Upaya ini berhasil dan kondisi Theresia sempat membaik sesudah empat kantong plasma darah tersebut.

Namun setelah empat hari di ruang ICU, wanita kelahiran Kediri, Jawa Timur 4 Maret 1968 ini menutup usia.

Theresia adalah sosok yang periang, senang bercanda dan tidak suka bermasalah. Orang-orang yang bergaul dengannya akan lebih banyak tertawa, kenang Pdt. Tri.

Berbagai ucapan dukacita mengalir ke laman FaceBook miliknya (@Theresia Moesono Hadianto)  maupun dalam laman FaceBook Pdt. Tri Hadianto. Rasa kehilangan yang besar dirasakan keluarga, jemaat rekan-rekan pelayanan dan sahabat-sahabatnya.

Setelah ibadah singkat di RS Baptis Kediri, jenazah Theresia diberangkatkan untuk dimakamkan hari itu juga. Dengan harus mengenakan pakaian pelindung diri lengkap, Pdt. Tri bersama anak-anaknya melepas kepergian Theresia dengan perasaan sedih yang berat.

Karena jemaat tidak dapat mengikuti ibadah pelepasan jenazah, Pdt. Tri meminta supaya mobil jenazah melewati gedung GBI Duta Illahi. Dengan begitu, jemaat yang ingin memberikan penghormatan terakhir, cukup melakukannya dari depan gedung gereja.

Benar saja, dalam video yang diunggah di FaceBook, jemaat berdiri di pinggir jalan ketika mobil jenazah lewat. Beberapa di antaranya berseru, “Ibu Tri, selamat jalan…”

Selamat jalan Bu Theresia Moesono Hadianto, selamat beristirahat dalam damai.

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here