Lanjutan Musyawarah Pleno II : GEREJA PERLU DUKUNG “TAHUN PENUAIAN”

0
88

Musyawarah Pleno II masih berlanjut pada pukul 19.00 WIB usai makan malam. Peserta MUNAS dengan semangat menyerukan yel keluarga besar, “Salam keluarga besar, Mantap!” saat membuka acara. Sesi lanjutan ini dimulai dengan doa pembukaan oleh Pdt. David Sutarto, Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sangkakala, Pekalongan, Jawa Tengah.

Kini giliran Pdt. Hana Aji Nugroho, Ketua BAMUSNAS sendiri yang menyampaikan laporan  pertanggungjawaban. Unik, Pdt. Hana mengawali laporannya dengan satu filosofi “jari tangan.”

“Di antara kita tidak ada yang mempunyai jari tangan dengan panjang yang sama. Saya diajarkan oleh nenek saya, filosofi (jari tangan) ini menggambarkan keluarga besar,” tuturnya.

Makna filosofi ini ialah bagaimana keluarga besar Baptis Indonesia seharusnya tetap dapat bersinergi dalam fungsinya masing-masing. Inilah mengapa susunan kursi musyawarah kali ini dibentuk melingkar.

Selanjutnya, Pdt. Hana tidak banyak berbicara karena laporan lengkap akan disampaikan secara  dalam musyawarah komisi-komisi. Pihaknya hanya menegaskan pada peserta bahwa tidak ada “BAMUSDA” (Badan Musyawarah Daerah).

”Jika ada sesuatu yang terjadi di daerah, silakan hubungi kami. Tidak ada lagi BAMUSDA. Jika ada yang perlu diselesaikan, bila kami bisa terjun (ke daerah), kami akan usahakan datang,” tandasnya.

Masih dalam musyawarah pleno II, laporan pertanggungjawaban dan rencana kerja selanjutnya disampaikan pimpinan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI), Pdt. Yosia Wartono (ketua) dan David Vidyatama (sekretaris jenderal).

Dalam kesempatan ini, David Vidyatama mengingatkan peserta tentang moto GGBI yaitu GM3, “Gereja Memberitakan, Menumbuhkembangkan, dan Mengutus”. Berikutnya, David menjabarkan laporan kerja dari departemen-departemen GGBI, di antaranya menyangkut sejauh mana pencapaian target-target yang sudah dicanangkan.

Dalam beberapa laporan yang sampai di BPN GGBI, menurut David, ada kekurangan sehubungan dengan keaktifan gereja-gereja menyampaikan laporannya dalam beberapa program yang telah disepakati.

“Menurut data yang terkumpul, dari sejumlah  614 gereja Baptis, hanya 25 persen (153) saja yang mengembalikan data baptisan. Dukungan lewat data sangat kecil.”

Menurut David, belum tentu sedikitnya angka baptisan yang terdata disebabkan oleh tidak adanya baptisan, namun memang gereja yang melapor baru sedikit. Demikian halnya dengan laporan gereja yang memuridkan, dari 19 Badan Pengurus Daerah (BPD) GGBI, baru 8 yang melapor. Juga sampai saat ini baru 13 BPD GGBI yang melaporkan adanya 11 hamba Tuhan baru.

Lepas dari minimnya laporan gereja, BPN GGBI pun melaporkan kabar gembira, yaitu sudah adanya 4 prospek perintisan gereja Baptis di empat propinsi, yaitu Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. Kabar baik lainnya, sudah ada 10 BPD GGBI yang setia menyelenggarakan jaringan doa Baptis tiap bulan. Juga buku renungan harian New Life  yang sudah sukses dicetak dan tersebar sebanyak 2.300 eksemplar.

Sehubungan dengan program BPN GGBI 2016 – 2017, Pdt. Yosia mengimbuhkan, “Kerangka program taun ini berfokus pada misi sampai ke ujung bumi. Yaitu bagaimana tahun ini menjadi tahun kerja yang menggelora, dengan tema ‘Pekerja Untuk Tuaian’.”

Tahun ini, BPN GGBI akan melakukan berbagai pembekalan terhadap gereja secara besar-besaran. Termasuk di dalamnya pelatihan Pengabaran Injil (PI), kepemimpinan bagi pemuda, juga mentoring pendeta dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pdt. Yosia berharap, gereja-gereja dapat aktif mendukung program BPN GGBI dengan mendata tuaian dan turut memikirkan pekerja untuk tuaian. “Tahun ini menjadi tahun penuaian.  Banyak jiwa yang dimenangkan dalam batas usia belasan. Inilah pentingnya gereja menyelenggarakan SIL (Sekolah Injil Liburan). Begitu juga dalam KKR (kebaktian kebangunan rohani), kami menargetkan ada  60 pemuda menyerahkan diri untuk melayani Tuhan sepenuh waktu.”

Tidak luput dari perhatian, BPN GGBI pun kini tengah berusaha cerdas mengelola keuangan dengan menggunakan dana sehemat mungkin dalam program 2016-2017 ini.

Penulis: Andry Wahyu Pertiwi

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here