KLINIK KELUARGA – TOLONG IBU PERSOALAN SAYA BANYAK SEKALI

0
146

PERTANYAAN

Ibu Ika yang terhormat,
Saya U tinggal di D, seorang ibu dengan tiga orang anak. Persoalan saya banyak sekali, apalagi di tengah badai Corona ini. Sudah tidak sanggup saya menanggungnya. Kalau tidak takut dosa, saya sudah bunuh diri.

Semula kami berdagang di pasar. Bersama suami, saya mengelola kios menjual pakaian. Karena proyek pelebaran terminal, kios saya digusur ke tempat yang jauh dari keramaian sehingga tidak dapat lagi dilanjutkan. Sehingga kios pun saya jual beserta barang dagangannya.

Saya mempunyai tiga anak. Yang sulung laki-laki, sudah menikah, mempunyai seorang anak berumur 1,5 tahun. Saat ini ia sedang dipenjara karena sebuah masalah. Karena itu mereka, anak sulung saya ini bercerai.

Semula anak saya masih mampu membiayai hidup keluarganya. Meskipun tidak tinggal serumah, ia membiayai kontrak rumah untuk istri dan anaknya. Setelah dipenjara, tidak ada lagi yang membiayai keluarganya, membuat istrinya menjadi depresi dan harus dirawat di rumah sakit.

Cucu saya kemudian dirawat besan saya, yaitu ibu dari menantu saya yang berstatus janda. Karena besan ini pun tidak punya pekerjaan, dan karena suatu masalah sehingga menjadi tidak punya tempat tinggal, suami dan saya berinisiatif mengajaknya mereka tinggal di rumah kami. Hal ini kami putuskan demi kehidupan cucu kami. Sementara menantu saya yang mengurus kakaknya, yang bekerja sebagai pengemudi online.
Anak kedua perempuan, sudah lulus kuliah dan bekerja di sebuah klinik sebagai terapis, belum menerima gaji penuh karena harus dipotong untuk menebus biaya kuliah dan wisudanya. Itu sebabnya belum dapat diharapkan untuk memberikan dukungan kepada kami. Sekarang ia hanya sesekali saja pergi bekerja, berdasarkan penggilan kalau ada kasus yang harus ditangani. Hal ini juga akan berpengaruh pada penghasilannya.
Anak ketiga seorang perempuan, sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta. Karena wabah corona ini ia sudah tidak beraktivitas di kampus lagi. Untuk mengisi waktu dan mendapatkan penghasilan, ia bekerja sebagai petugas cleaning service di sebuah rumah sakit.

Bersyukur, saat ini saya berjualan sayur di rumah. Tiap hari sebelum subuh, saya diantar suami ke pasar untuk belanja. Sehabis subuh sudah mulai berjualan di rumah. Namun karena sudah banyak yang berjualan di sekitar kami, tidak selalu dagangan kami habis terjual. Menurut para pelanggan, saya menaruh harga agak mahal, dan juga tidak boleh berutang. Makanya, tidak banyak yang belanja ke tempat saya. Hanya karena kualitas dagangan saya lebih baik, yaitu lebih segar dan bersih, orang tertentu saja yang datang berbelanja.

Menurut suami saya, akhir-akhir ini saya kadang suka bicara sendiri dan tidak bisa nyambung ketika diajak ngobrol. Saya dianggapnya menjadi orang lain. Hal ini tidak saya sadari. Dan hanya terjadi ketika saya sedang bengong duduk sendirian, mulailah saya tertawa dan bicara sendirian. Karena itu orang serumah, terutama suami dan besan saya, selalu berusaha mendampingi saya. Mereka terus mengajak bicara agar saya selalu sadar, tidak bicara ngalor-ngidul.

Terus terang Bu, saya tidak bisa curhat kepada seseorang, dan saya tidak mudah menangis. Hanya kepada suami, saya bisa bercerita tentang perasaan saya.
Dari kecil saya sudah tidak punya orang tua. Saya dibesarkan oleh keluarga kakak sulung saya. Mereka sudah meninggal. Saudara saya saat ini hanya seorang abang saya, tinggal bersama anak cucunya di Sumatra.

Seorang teman menganjurkan saya bercerita kepada Ibu untuk mendapatkan nasihat tentang apa yang harus saya lakukan, supaya saya dapat bertahan dan mengatasi masalah saya.
Terima kasih, Bu Ika.

JAWABAN

Ibu U yang hebat, puji Tuhan, tidak banyak orang yang dapat menanggung permasalahan yang berat di masa sulit seperti sekarang ini. Terima kasih sudah mau bercerita kepada saya.

Banyak orang yang menjadi tidak peduli dengan keluarganya, dan melepaskan tanggung jawabnya kepada pihak lain. Bersyukur, Ibu mempunyai suami dan anak-anak, serta besan yang mau mengerti tentang keadaan yang sedang terjadi. Mereka tetap memberikan dukungan dan mendampingi Ibu untuk menghadapi masalah yang ada di masa sulit.

Istimewanya, karena kekuatan logika yang Ibu miliki, Ibu menjadi tetap tenang. Karena itu tiap persoalan yang ada dicarikan solusi yang Anda anggap paling praktis, walau pertimbangannya baru sampai untuk keperluan saat ini saja dulu. Yang penting untuk keperluan jangka pendek ini, saya mampu mengatasinya, itu yang ada di benak Anda.

Ketika Anda mulai merenungkan rencana ke depan, misal bagaimana nanti biaya pendidikan cucu, bagaimana nanti kehidupan si sulung selepas dari penjara, pribadi Anda mulai tidak kuat. Kemungkinan tanpa Anda sadari, Anda menolak untuk menjadi penanggung jawab atas semua persoalan yang ada. Seolah-olah ada bisikan ke telinga Anda untuk menjadi orang lain. Dan mulailah tertampil Anda menjadi suka bicara dan tertawa sendiri, juga mungkin menangis, seperti bukan diri Anda yang biasanya.

Bersyukur hal ini cepat disadari orang terdekat dan diinformasikan kepada Anda. Sehingga Anda menjadi tahu bahwa ada masalah yang serius di kepribadian Anda.

Yang pertama perlu dilakukan adalah penerimaan diri, bahwa kita bukanlah manusia super, yang harus mampu menanggung semua masalah sendirian. Ingatlah ada Tuhan tempat kita mengadu, tempat menceritakan semua beban hidup yang dialami.

Meskipun tidak semua masalah ada jawabannya saat ini, paling tidak kita membangun harapan bahwa ada Tuhan yang akan menolong dan memberikan tuntunan. Usahakan ketika berdoa lakukanlah dengan bersuara. Sekali lagi, katakan dengan bersuara.

Usahakan membangun komunikasi pribadi yang intim dengan Tuhan dengan bicara langsung, bukan berdoa dalam hati. Dengan bersuara, kita terlatih untuk dapat mengomunikasikan dan mengeluarkan beban perasaan dan pikiran, rasa sesak di dada dan kepala dapat disalurkan keluar. Ingat, bicaralah dengan Tuhan.

Selanjutnya ajaklah suami dan seluruh anggota keluarga sebagai mitra, bicarakan tentang langkah ke depan. Tidak mudah untuk memulainya. Misalnya ketika Anda mulai merencanakan membuat tabungan untuk biaya sekolah si kecil. Anda ingin menyisihkan pendapatan lima ribu Rupiah sehari untuk itu. Ceritakanlah kepada seisi rumah, dan minta semua mendukung. Minta diingatkan untuk saling mendisiplin diri, dan dengan demikian Anda pun menjadi merasa dimengerti.

Ketika suatu hari hal ini gagal Anda lakukan, jangan merasa bersalah dan gagal. Cobalah terbuka, katakan kepada suami atau anak, hari ini belum ada tabungan untuk si kecil, adakah yang bisa bantu? Atau ingatkan, tolong besok kita punya tabungan sepuluh ribu ya?

Juga untuk masalah dan kekhawatiran yang lain, mari ceritakan. Jangan semua dijadikan beban sendiri. Jadikan orang lain sebagai rekan sekerja untuk ikut menanggung beban Anda. Karena sesunggungnya semua persoalan yang ada bukan sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. Ada bagian dari orang lain yang harus mereka kerjakan.
Selain belajar membuka diri, perlu juga melakukan aktivitas yang membuat Anda lebih rileks. Misal dengan melakukan olah raga ringan atau kegiatan yang menyenangkan lainnya.

Memang saat ini belum bisa melakukan aktivitas bersama banyak orang, namun bisa melakukan kegiatan hobi Anda yang sudah lama tidak dilakukan. Misalnya, menyanyi, menari, atau apa saja yang membawa kegembiraan. Ingat, hati yang gembira adalah obat.
Kalau masih ada keluhan, ada baiknya Ibu minta tolong kepada tenaga profesional. Sekarang ada psikolog di beberapa Puskesmas yang disediakan pemerintah. Ibu dapat datang berkonsultasi.

Selamat bergembira Ibu U, jadilah sehat lahir dan batin. Tuhan Yesus memberkati.

 

Suara Baptis menyediakan ruang konsultasi keluarga.
SIlakan mengirimkan
persoalan keluarga Anda ke:
ikasembiring@gmail.com

Dra. Ika S. Sembiring, Psi.
Psikolog

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here