Klinik Keluarga: “MENGAMPUNI PENGKHIANAT KELUARGA”

0
85

Pertanyaan

Ibu Ika Yth.
Saya An dari MO yang sedang sedih, bingung dan putus asa. Ceritanya saya sedang menikmati kebahagiaan hidup bahagia di masa lansia, mandiri dengan anak-anak yang beranjak dewasa, tiba-tiba harus menanggung beban akibat dosa orang lain. Saat ini saya hampir berumur 60 tahun, dengan tiga anak laki-laki, dua diantaranya sudah menikah. Ketika anak-anak masih kecil, suami saya meninggalkan kami dan menikah dengan wanita lain. Kami menikah tidak melalui masa berpacaran, tapi dijodohkan orang tua karena masih ada hubungan kerabat, dan usia yang sudah cukup untuk berumah tangga, maka kamipun dinikahkan.

www.karismatikkatolik.org

Ketika anak sulung kelas lima SD, tiba-tiba suami minta cerai, karena dia jatuh cinta dengan teman kerjanya. Jelas wanita tersebut lebih baik dari segala bidang dibandingkan dengan saya. Saya menolak untuk bercerai, karena memikirkan kepentingan anak-anak, dan juga takut melanggar perintah Tuhan. Singkat cerita dia pergi dari rumah kami dan tinggal serumah dengan istrinya yang baru. Disebut istri baru karena mereka resmi menikah di sebuah rumah ibadah, ada foto-foto dan surat nikahnya. Ibu bisa bayangkan betapa sakit hati saya dan kacaunya kehidupan rumah tangga saya. Tidak ada nafkah yang dia kirim untuk kami, dengan alasan itu risiko dari keputusan saya yang tidak mau diceraikan. Saya harus mengerjakan apa saja yang halal untuk membesarkan anak-anak, dari jualan kue, menjadi buruh cuci seterika, mengkreditkan perabot rumah, dan yang agak banyak menghasilkan uang adalah menjadi makelar jual beli rumah atau tanah.

Beruntung anak-anak semuanya laki-laki, sehingga tidak perlu diawasi terus menerus. Saat ini dua anak saya sudah menikah, yaitu si sulung dan si bungsu, sedang yang tengah sedang meniti karir dan tahun depan baru akan menikah. Tiba-tiba mendapat kabar dari anak sulung bahwa ayahnya sedang sakit dan tidak tinggal lagi dengan keluarganya, melainkan tinggal di sebuah panti jompo dan tidak ada yang membiayai. Puji Tuhan saya memiliki anak-anak yang penuh belas kasihan dan takut kepada Tuhan. Namun karena itu pula, mereka meminta ayahnya dibawa kembali ke rumah kami, untuk dirawat dengan baik, selayaknya seorang ayah di akhir hayatnya mendapat kasih sayang dari istri dan anak-anak.

Saya tidak dapat menolak keputusan anak-anak, karena saya tinggal sendirian sekarang, dan tidak banyak kegiatan yang saya lakukan selain aktivitas persekutuan di gereja. Tapi, rasa marah dan benci saya yang begitu besar, sulit saya menerima dia kembali, apalagi harus merawatnya. Dia sudah minta maaf, baik kepada anak-anak dan saya, tapi kan hal itu dilakukan karena dia sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Bulan depan anak-anak akan membawa ayah mereka pulang, atas biaya dari anak-anak kamar sudah disiapkan, termasuk dibuatkan kamar mandi di dalam supaya memudahkan beliau nantinya. Mohon ibu menolong saya, bagaimana saya harus bersikap, karena tidak ada lagi cinta, yang ada benci benci dan marah. Di depan anak-anak saya hanya dapat berkata iya, karena mau menunjukkan bahwa saya sudah memaafkan, dan mau memberi contoh sikap yang baik sebagai anak Tuhan. Tapi dalam hati saya menolak. Bagaiman ini ibu, tolonglah saya. Terima kasih bu Ika.

Jawaban
Halo Ibu An dari MO. Wah saya sangat senang ketika membaca bagian dari surat ibu yang menceritakan bahwa anak-anak meminta supaya ayahnya diterima kembali pulang. Kalau bukan ibu yang sudah berhasil mendidik mereka sesuai ajaran Tuhan, pastilah akan sangat berbeda kejadiannya. Mereka anak-anak kebanggaan yang berbahagia, selain sukses dalam studi dan karier, juga anak-anak yang takut kepada Tuhan, taat kepada Firman Tuhan, yaitu memberikan pengampunan meski tidak diminta, dan melupakan kekelaman di masa yang lalu.

Saya sangat memahami betapa sakitnya hati ibu, selain merasa dikhianati, dicampakkan dan dibuang sebagai wanita yang tak layak dicintai, juga harus menanggung beban berat mengurus dan menafkahi keluarga dalam waktu yang panjang. Dalam surat ibu tidak dijelaskan apakah ibu sudah melihat dan bertemu dengan suami dalam kondisi yang sekarang ini. Saat ini mari kita bayangkan keadaan beliau yang dulu gagah, sekarang sudah keriput, duduk di kursi roda dan tua tak berdaya. Semula perlente, penuh percaya diri atau maaf mungkin sombong karena punya banyak uang, saat ini tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, dan tidak punya siapa-siapa yang mau mendampinginya atau menolongnya agar dapat beraktivitas secara normal. Kemudian bandingkan dengan kondisi yang ibu alami dan juga anak-anak saat ini, coba ibu pikir baik-baik secermat-cermatnya, mana yang lebih diberkati oleh Tuhan? Kalau sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan tadi, mari ibu pikirkan baik-baik, apakah anak-anak ibu sudah benar-benar bahagia hidup dengan ibu saja tanpa hadirnya seorang ayah? Tidakkah Ibu rindu melihat anak-anak juga boleh menikmati sebuah keluarga yang utuh, walau tidak sempurna? Di akhir masa hidup ayahnya, mereka pasti ingin menikmati kasih sayang seorang ayah, dan mau menunjukkan rasa hormat dan juga pengabdian mereka kepada orang tua yang utuh. Mungkin ini sudah mereka doakan lama, dan Tuhan mengabulkan doa mereka. Kita tidak tahu rahasia rencana Tuhan di balik peristiwa demi peristiwa di sepanjang kehidupan kita.

Itu dari sudut kepentingan anak-anak. Mungkin dari sudut kepentingan Ibu sudah tidak ada tempat bagi suami di hati ibu, benci dan marah yang memenuhi pikiran dan perasaan Ibu. Bahwa sekarang ia menderita adalah bagian risiko dari tindakannya, atau mungkin itu adalah hukuman yang Tuhan beri untuknya. Mari kita berpikir jernih sebagai anak Tuhan. Memang hal ini tidak mudah untuk dilakukan, tapi adalah suatu keharusan. Siapakah kita ini, Bu, adakah kita ini manusia yang luput dari kesalahan, terus saja seratus persen berbuat benar? Tentu tidak kan? Hanya saja kadar kesalahan kita tidak sebesar yang ia perbuat. Namun Tuhan bisa saja memberikan penderitaan yang sama dengan yang ia alami, tetapi kenapa hal itu tidak dilakukan oleh-Nya. Jawabannya, karena Ia masih memberi kesempatan kepada kita. ‘

Mari mengingat janji pernikahan yang pernah kita ucapkan, bahwa tetap mengasihi dalam untung dan malang, sehat ataupun sakit, dan seterusnya. Puji Tuhan kalau saat ini Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk membuktikan bahwa kita sanggup memenuhi janji tersebut. Walau suami tidak dapat lagi dianggap sebagai suami yang membanggakan. Kalau kita dapat memenuhi janji kita di hadapan Tuhan, lengkaplah berkat sukacita yang akan ibu nikmati kelak di akhir hayat Ibu. Terimalah dia sebagai teman pewaris kasih karunia, 1 Petrus 3:7, agar doanya dan doa kita semua tidak terhalang. Memang sulit menerima sebagai kekasih hati, tetapi bukan berarti tidak bisa. Kalau menerimanya sebagai teman pewaris kasih karunia dan seperjuangan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga bagaimana? Selamat berjuang Ibu, doa saya menyertai. Tuhan Yesus memberkati.

Dra. Ika S. Sembiring, Psi. 
Dra. Ika S. Sembiring, Psi.

Suara Baptis menyediakan ruang konsultasi keluarga. Silahkan mengirimkan persoalan keluarga anda ke: ikasembiring@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here