(Klinik Keluarga) Dominasi Mertua dan Ipar

0
559
ilustrasi: amercurynews.com

Pertanyaan.

Ibu Ika yang terhormat,

Saya Ibu J tinggal di kota SB, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) perantauan karena penempatan sebagai guru di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Berkat Tuhan, saya berjodoh dengan seorang duda yang satu profesi, semula mengajar di sekolah yang sama. Setelah menikah, suami saya pindah mengajar dan menjadi kepala sekolah di SMK swasta.

Istri pertama suami saya meninggal ketika anak-anak masih balita. Ia dari suku yang sama dengan suami, sama-sama orang Batak. Sedang saya campuran dari Jawa. Kami mempunyai tiga anak. Pertama perempuan, kedua laki-laki. Keduanya dari perkawinan pertama suami. Dengan saya, kami mendapat satu anak lakilaki. Anak sulung sedang kuliah hampir lulus, yang tengah kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA), si bungsu masih kelas lima Sekolah Dasar (SD).

Ibu mertua tinggal bersama kami. Sejak almarhumah meninggal, beliaulah yang mengasuh anak-anak. Pernikahan kami direstui seluruh keluarga, baik dari keluarga suami dan keluarga saya.

Tak berapa lama setelah menikah saya pun hamil, sehingga diputuskan ibu mertua tetap tinggal bersama kami. Bapak mertua sudah meninggal. Suami saya anak sulung, mempunyai dua orang adik perempuan yang sudah menikah, tinggal satu kota dengan kami. Puji Tuhan, kedua adik ipar ini menjadi ibu rumah tangga yang berkecukupan karena bersuamikan orang Batak yang sukses.

Setelah anak-anak kami besar dan cukup mandiri, ibu mertua tidak mau pindah tinggal bersama mereka, juga tidak mau tinggal sendiri di rumah peninggalan keluarga. Ia tetap mau tinggal bersama kami.

Ketika anak-anak masih kecil, persoalan belum begitu banyak. Mungkin karena fokus beliau masih bagaimana mengurus anak-anak, sementara kami berdua bekerja. Setelah anak anak besar, perselisihan mulai sering terjadi. Suami sulit bersikap netral, lebih sering membela ibu mertua. Demikian pula adik ipar, sudah mulai mencampuri urusan keluarga kami. Selain ikut membela ibu mertua, juga sudah mulai menjodoh-jodohkan anak sulung kami, yang kebetulan diberkati Tuhan dengan paras yang cantik dan cukup pintar.

Saya sangat mengasihi ibu mertua, sudah menganggapnya sebagai ibu sendiri. Namun tindakannya mengatur rumah tangga kami tanpa dikomunikasikan lebih dulu sering menjadi bahan pertengkaran kami. Tidak hanya dengan kami suami-istri, namun juga dengan anak-anak. Misalnya, beliau memanggil tukang untuk mengganti warna cat dinding kamar anak-anak secara tiba-tiba, anak-anak dipaksa memakan masakannya yang dianggapnya itu menu kegemaran mereka, menuduh anak bungsu saya mengambil dompetnya padahal dia sendiri yang lupa meletakkan dan kebetulan si bungsu yang menemukannya, dan masih banyak lagi.

Untuk meminta beliau pindah tinggal sendiri, kami tidak tega, mengingat beliau sudah mulai mengalami kemunduran dalam kesehatan. Bagaimana sebaiknya kami memperlakukan beliau, Bu Ika? Mohon nasihat Ibu.

Jawaban.

Yang terkasih Ibu J di kota SB, Kebanyakan pasangan suami-istri selalu mengeluhkan mertua atau adik iparnya, terutama sikap mertua kepadanya. Mulai dari mertua yang terlalu cerewet, suka ikut campur, banyak mengatur, dan masih banyak lagi. Persoalan yang sering terjadi apabila pasangan lebih membela orang tuanya daripada istri atau suaminya, meskipun orang tuanya salah.

Memang benar kita harus memelihara sikap hormat kepada orang tua, supaya lanjut umur dan berbahagia, kata Firman Tuhan. Tetapi bagaimana bisa menghormati dan mengasihi dengan tulus kalau hatinya kesal?

Sebagai orang yang sudah mengikat janji pernikahan, kita harus memiliki sikap tegas dan bisa memilah, kapan harus membela pasangan dan kapan harus membela orang tua. Kita juga harus memahami, terkadang pasangan mengalami kesulitan membela pasangannya di hadapan mertua, apalagi kalau tinggal seatap dengaan mertua.

Apalagi di dalam suku Batak, selain mertua, juga ipar perempuan ikut campur karena merasa abangnya adalah saudara kandungnya. Mereka merasa lebih mengenali suami kita, tahu bagaimana membuat abangnya berbahagia. Urusan jodoh anak pun mereka merasa berkewajiban untuk mencarikan “pariban” (jodoh dari keluarga sendiri) bagi keponakan perempuannya.

Dalam hal ini yang perlu dibantu adalah suami Ibu yang perlu dukungan untuk dapat bersikap lebih tegas. Setelah menikah, seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging (Kejadian 2:24). Ini merupakan suatu keharusan, kunci keluarga harmonis. Tidak saja berpisah secara lahir dari orang tua, juga secara emosional sudah harus matang dan mandiri, tidak lagi bergantung pada keputusan orang tua atau mertua.

Yang pertama harus diingat terus-menerus, ketika sudah menikah, masing-masing pasangan wajib mengedepankan relasi suami-istri daripada orang tua dan saudara. Orang tua bebas berkeluh kesah dan suami perlu belajar bijaksana dalam merespons, “Oke Mama, kami bicarakan berdua dulu ya?”

Beri kesan kepada orang tua bahwa keputusan apa pun adalah hasil kesepakatan suami istri. Bukan berarti anak laki-lakinya menjadi lemah atau disebut sebagai suami yang takut istri, namun karena kondisinya memang harus demikian. Bila mertua mengeluhkan kekurangan menantu kepada anak laki-lakinya, ucapkan, “Terima kasih Ma, sudah memperhatikan istriku, nanti kusampaikan.”

Dalam menindaklanjutinya pun tidak harus langsung diceritakan. Simpan keluhan tersebut sebentar, lalu sampaikan kepada istri dengan cara dan waktu yang tepat.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah sesungguhnya orang tua kita mempunyai kebutuhan yang tinggi untuk dihargai. Sering-seringlah bicara empat mata, katakan, “Mama, terima kasih sudah mau membantu kami membesarkan anak-anak,” atau berterima kasih untuk hal-hal yang lain, bahkan untuk hal yang sepele sekalipun. Biasanya kalau sudah bicara empat matademikian, akan disambung dengan curhatan yang panjang lebar. Pada saat itulah waktu yang tepat untuk menyampaikan apa yang kita harapkan, supaya beliau lebih nyaman membangun relasi dengan sang menantu. Misal, ketika ia sudah mulai mengeluh tangannya yang ngilu, katakan, “Makanya Ma, kurangi kerja di dapur. Biarkan berantakan sedikit, nggak apa-apa. Nanti aku pulang kerja pasti kubereskan. Atau biar anakanak juga belajar untuk membereskan. Tolong ya Ma, supaya mereka nanti juga pintar mengurus rumah seperti Opungnya.”

Mari terus bangun komunikasi, belajar dari kisah Rut dan Naomi di Alkitab.

Yang ketiga, ada baiknya kalau mertua dan anak mantu tinggal terpisah. Karena masing-masing memerlukan “daerah kekuasaan” yang bisa bebas diatur sesuka hatinya. Kalau hal ini tidak memungkinkan, siapkan segala keperluan orang tua di tempat yang mudah dijangkaunya.

Misalnya, kita buatkan kamar beliau sendiri, tidak tidur bersama cucu atau orang lain. Kita lengkapi kamar tersebut dengan kamar mandi, termos air panas yang selalu terisi penuh, stoples berisi biskuit atau cemilan kesukaannya, TV atau radio yang terus menyala, kipas angin atau penyejuk udara, dan perangkat lain yang membuat beliau merasa nyaman dan bebas mengaturnya. Tentu saja harus diawasi keamanannya. Ingat, jangan ada yang “mengomentari” cara beliau mengatur “sarangnya”.

Terakhir, jangan mempersoalkan hal-hal kecil, maafkan dan lupakanlah. Makin lanjut usia orang tua kita, makin tidak menyadari atau kurang mempertimbangkan apakah kata-katanya menyakiti kita atau tidak, sementara dirinya makin sensitif. Firman Tuhan mengingatkan, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran,” (Amsal 19:11).

Tidak ada manusia yang sempurna. Orang bisa berubah karena menyoroti hal yang positif dan melupakan yang negatif.

Untuk ipar, meski aturan adat demikian, mintalah suami memberi masukan kepada saudara perempuannya. Mengenalkan teman laki-laki boleh kepada anak perempuan kita, namun tidak harus membicarakannya sebagai jodoh. Jangan mendahului kehendak Tuhan dalam hal ini. Jangan kecewa kalau anak kita berjodoh dengan orang lain. Yakinkan juga, siapa tahu ada orang lain yang mungkin jauh lebih baik daripada anak kita, yang akan menjadi istri anak laki-laki yang tadinya mau dijodohkan ke anak kita tersebut. Serahkan pada rencana Tuhan.

Demikian Ibu J nasihat saya. Mungkin belum pas dengan harapan Ibu. Namun demi semangat kasih Ibu kepada keluarga, ada baiknya mencoba. Apa pun yang Ibu pikir baik untuk dilakukan, kalau didasari atas kasih dan disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat, pastilah akan berbuah manis pada akhirnya. Tuhan Yesus memberkati.

 

Konsultasi masalah keluarga Anda

dengan mengirim email ke:

ikasembiring@gmail.com

M.Psi Psikologi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here