Perceraian Keluarga Kristen: KETIKA PASANGAN “INGIN MENJADI ALLAH”

0
175
https://cincincoupleku.com

Saya bersedia!

Jawaban tegas nan mantap yang disertai dengan anggukan takzim ini kerap terdengar di setiap momen pemberkatan pernikahan tatkala sang pendeta menanyakan kesediaan masing-masing mempelai untuk saling menerima, mengasihi, merawat dan menghormati hingga maut memisahkan.

Tak ada keraguan atau pikir ulang ketika sepasang pengantin sudah berdiri di depan altar.

Tetapi dunia ini memang tak seindah dongeng yang menjadikan pernikahan sebagai happy ending dari petualangan hidup. Seiring berjalannya waktu dan tantangan yang menyertainya, banyak pasangan yang tadinya begitu hanyut dalam keharuan saat dipersatukan di hadapan Tuhan dalam pernikahan suci, justru sengaja menyudahi rumah tangganya di hadapan hakim Pengadilan Negeri dalam sidang perceraian. Ironisnya, bahkan ada yang mengakhiri pernikahannya begitu saja tanpa proses hukum yang jelas.

Di tengah berbagai faktor klasik, ketidakcocokan selalu menjadi alasan favorit yang dilontarkan dalam gugatan perceraian.

Membahas perihal perceraian, Rabu, 31 Oktober 2018, Suara Baptisnberbincang dengan seorang hamba Tuhan asal Korea Selatan, Pdt. Barnabas Chung. Pendeta sekaligus dosen di Sekolah Tinggi Teologia Baptis Medan (STTBM) ini diketahui telah membimbing lebih dari 10 pasangan dalam konseling pranikah, pun memberkati mereka dalam pernikahan kudus. Menariknya, semua pasangan yang dibimbing oleh hamba Tuhan yang kini resmi menjadi warga negara Indonesia ini, tidak ada satu pun yang bercerai.

Ingin Menjadi Allah?

“Ingin menjadi Allah”, kalimat itulah yang terlontar dari hamba Tuhan yang sudah 19 tahun menetap di Medan, Sumatera Utara itu saat mengungkapkan pendapatnya terkait faktor perceraian yang menimpa banyak rumah tangga Kristen. “Alasan pertama kenapa mereka (pasangan Kristen) bercerai adalah karena mereka tidak menaati perintah Tuhan. Mereka tidak menghormati Allah dalam keluarganya. Mereka ingin menjadi Allah,” ungkap Pdt. Chung yang sebelumnya sempat mengiyakan bahwa faktor ekonomi juga berpotensi menjadi pemicu perceraian.

Ia menjelaskan, menjadi Allah artinya mereka tidak mau tunduk pada perintah Allah. “Alkitab berkata, layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Namun banyak pasangan hanya bisa menuntut pasangannya untuk melayani, memperhatikan, menyenangkan dirinya tetapi tidak mau melakukan hal yang sama kepada pasangannya. Mereka hanya mau dilayani. Tidak mau melayani. Artinya mereka tidak mau menundukkan diri pada perintah Allah melalui Alkitab dan itu berarti mereka mau menjadi Allah,” tutur pria berkaca mata ini dengan aksen Koreanya yang masih kental.

Ditekankannya, pernikahan adalah kehendak Allah. Maka, pasangan Kristen yang menikah harus mengerti apa yang menjadi kehendak Allah atas keluarga mereka. Untuk mengetahui apa kehendak Allah, setiap keluarga Kristen harus menerapkan Firman Tuhan dalam membina keluarga.

“Jika tidak menerapkan Firman Tuhan dalam keluarga, pasti keluarganya hancur!” tandasnya memperingatkan.

Tidak Mau Belajar Mengenal Pasangan

Yang kedua, dikatakan Pdt. Chung, alasan pasangan Kristen bercerai adalah karena mereka tidak mau belajar mengenal satu sama lain.

Ayah dari dua anak ini kembali memaparkan, “Ketika Allah menciptakan Adam, Hawa tidak ada. Artinya Hawa tidak tahu apa-apa mengenai Adam. Dan sebaliknya, saat Allah menciptakan Hawa, Adam sedang tidur. Artinya Adam pun tidak tahu apa-apa mengenai Hawa. Jadi pada dasarnya, laki-laki dan perempuan tidak saling tahu sifat masing-masing.”

Demikian ia melanjutkan, itulah mengapa pasangan Kristen harus mau berusaha mencari tahu sifat pasangannya. Laki-laki harus tahu apa yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaanpasangannya. Begitu pun sebaliknya.

“Walaupun sudah lama jatuh cinta, sudah lama berpacaran, namun sesungguhnya hanya 5-10 persen saja kita mengetahui siapa pasangan kita sebenarnya,” tambahnya.

Bahkan belum tentu pasangan yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup bersama bisa mengenal pasangannya 100 persen.

Pendeta yang menempuh studi doktoralnya di Sekolah Tinggi Teologi Baptis (STBI) Semarang itu meneruskan, “Allah menciptakan laki-laki dan perempuan itu berbeda. Cara mereka mengasihi, bertidak, berpikir pun berbeda. Karena itu, kebanyakan perselisihan dalam keluarga akibat mereka mengasihi pasangannya dengan cara mereka sendiri.”

Disambungnya, bagi laki-laki, berkata dengan nada keras adalah ekspresi bahwa dia menyayangi pasangannya. Namun bagi wanita, bisa diartikan sebagai kemarahan, dan banyak wanita yang terluka akibat ucapan itu.

Demikan sebaliknya, “Bagi perempuan, cerewet itu tanda bahwa dia peduli dan sayang kepada pasangannya. Tapi bagi laki-laki kecerewetan itu bisa berarti rasa tidak percaya dan melecehkan ‘kepriaannya’.” Berbagi pengalaman saat mengonseling para calon suami-istri, Pdt. Chung mengungkapkan bahwa dalam menyiapkan kelas pranikah, ia selalu menganjurkan kedua pasangan untuk membaca Alkitab. Selain Alkitab, mereka pun disarankan untuk membaca buku Men are from Mars, dan Women are from Venus. Tujuannya supaya kedua pasangan ini sadar dan bisa mengerti sifat pasangannya.

“Kalau mereka sadar dan mengerti mengenai sifat pasangannya, mereka bisa mengasihi pasangannya dengan cara yang dikehendaki pasangannya. Kalau tidak mau mengerti pasangannya, lebih baik jangan menikah,” tegas hamba Tuhan yang dikenal saklek setiap menjalankan bimbingan pranikah itu.

Menilik buku tersebut -Men are from Mars, Women are from Venus- , Jhon Gray, penulis buku itu menuliskan hal yang mengejutkan. Bahwa kesamaan alasan dari pasangan yang memutuskan untuk bercerai, adalah sebenarnya mereka sama-sama saling mengasihi dan menyayangi. Namun cara mereka untuk mengekspresikan rasa sayang itulah yang berbeda.

Tidak Siap Menjadi “Korban”

Pdt. Chung menuturkan kembali, kebanyakan orang menikah karena ingin hidup bahagia bersama pasangannya. Namun ternyata setelah menjalani biduk rumah tangga, mereka merasa tidak mendapatkan kebahagiaan yang sesuai harapan.

Kok suami saya begini? Kok istri saya begitu?”

Menurutnya, kekecewaan tersebut muncul karena keduanya hanya bisa menuntut pasangannya untuk melakukan apa yang dia kehendaki. Namun mereka tidak pernah mau menjadi “korban” bagi pasangannya.

“Kalau saya mengasihi orang lain, artinya saya harus berkorban bagi dia. Tanpa korban, tidak ada kasih yang benar. Hanya hobi saja. Menjadi ‘korban’ adalah kehendak Tuhan,” ucapnya sungguh-sunguh.

Dimaksudkannya, jika kita berkata bahwa kita mengasihi pasangan kita, kita harus mengorbankan ego, perasaan, pikiran, demi menyenangkan pasangan kita.

Lagi-lagi ia menandaskan, bahwa lebih baik pernikahan itu tidak terjadi jika kedua pihak tidak siap menjadi “korban”.

Sebab, lanjutnya, tujuan menikah bukan untuk kebahagiaan salah satu pihak saja, namun supaya bisa melihat kebahagiaan pasangannya. “Kalau kedua pasangan melakukan hal ini (berpusat pada pasangan) pasti pernikahannya berhasil. Orang yang berpusat pada dirinya sendiri dan tidak berpusat pada pasangannya pasti bermasalah.”

Pekerjaan Setan

Pekerjaan setan salah satunya melalui perceraian. Setan mencuri kebahagiaan keluarga Kristen dan berusaha untuk membinasakan dan menghancurkannya. Menurut Pdt. Chung, kadang jemaat gereja Baptis tidak memikirkan hal itu. Ia menyayangkan sebab tidak banyak gereja Baptis yang mengajarkan tentang siapa setan dan bagaimana melawan setan. Padahal setan itu ada dan pekerjaannya nyata. Alkitab mengatakan bahwa pekerjaan setan adalah mencuri, membunuh dan membinasakan.

Pdt. Chung mengingatkan, pasangan Kristen harus mengerti bahwa saat keluarga mereka mengalami masalah, mereka harus datang kepada Tuhan.

“Harus bertanya apakah ini kehendak Allah atau kehendak setan? Carilah Tuhan, tanya bagaimana cara melawan setan. Meskipun kita sebagai manusia punya banyak kelemahan, namun Tuhan bisa memakai kelemahan kita. Jangan malah melawan pasangan kita!” serunya.

“Kebanyakan  orang  malah  lebih  memilih  melawan pasangannya daripada melawan setan. Tidak melawan setan dan tidak mencari Allah membuat masalah kita menjadi lebih besar!”

Pentingnya Bimbingan Pranikah

Semua gereja pada umumnya mengadakan bimbingan bagi pasangan yang akan menikah. Tak terkecuali gereja-gereja Baptis. Rata-rata mereka memakai buku Dua Menjadi Satu, terbitan Lembaga Literatur Baptis.

https://www.bcs.org.sg

Ada juga yang memakai buku Biblical Potret Of Marriage seperti yang diterapkan Gereja Baptis Pertama Bandung. Pada dasarnya buku-buku itu mengantarkan para calon mempelai ke pemahaman yang benar mengenai pernikahan Kristen, terkait peran Allah serta peran suami dan istri dalam rumah tangga Kristen.

Lamanya bimbingan pranikah ini memang berbeda-beda tergantung kebijakan di gereja masing-masing. Namun umumnya konseling atau bimbingan pranikah ini mendapat perhatian penting dari tiap gereja yang sehat. Jika ada gereja yang menyelenggarakan proses pemberkatan pernikahan secara “instan” -tanpa konseling pranikah- maka perlu dipertanyakan integritas gereja itu di hadapan Tuhan.

Pdt. Chung mengingatkan, alangkah baiknya jika dalam bimbingan pranikah, gereja tidak hanya mengajarkan bagaimana pernikahan Kristen saja, namun juga bahaya perceraian. Kedua pasangan harus tahu apa akibatnya jika bercerai dan kehancuran yang diakibatkan oleh perceraian. “Supaya dari awal mereka mengambil keputusan tidak akan bercerai dalam hidup mereka. Apa pun masalah mereka,” tutupnya.

Penulis: Masdharma

Editor: Andry W.P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here