Kesepakatan Pendeta-pendeta Baptis Jawa Barat “KEBAKTIAN MINGGU PINDAH KE RUMAH-RUMAH”

0
399

Dunia seolah-olah sedang diistirahatkan dari berbagai tuntutan kesibukan akibat wabah virus corona (Covid-19-19), termasuk gereja-gereja Baptis Indonesia di Jawa Barat. Wabah yang terus menyebar dengan cepat ini memaksa gereja-gereja  Baptis Jawa Barat sepakat tidak mengadakan kebaktian Minggu 22 dan 29 Maret 2020.  Sebagai gantinya, kebaktian Minggu dialihkan ke rumah masing-masing anggota gereja dengan format ibadah yang diatur masing-masing gereja.

Kesepakatan ini diambil dalam pertemuan 14 pendeta di wilayah Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Jawa Barat di Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung, Jumat 20 Maret 2020. Keputusan meniadakan kebaktian resmi tersebut merupakan tanggapan gereja terhadap imbauan pemerintah pusat maupun daerah serta Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI yang meminta supaya kegiatan ibadah dilakukan di rumah.

Selain itu, beberapa gereja Baptis terletak di lingkungan tertentu sehingga bisa menjadi batu sandungan bila tetap melaksanakan kebaktian Minggu di tengah merebaknya wabah. Juga gereja mempertimbangkan imbauan dari rumah-rumah sakit (RS) agar masyarakat membantu meringankan tugas kalangan medis dengan tidak keluar rumah jika tidak mendesak.

Ketua Pengurus BPD GGBI Jawa Barat Pdt. Hosea Sugiman mengungkapkan, selain untuk menindaklanjuti imbauan BPN GGBI untuk melakukan kegiatan gereja di rumah, umat Baptis juga perlu menyadari berbahayanya Covid-19.

“Melihat korban positif Covid-19 di Indonesia yang sudah 300 orang lebih dan meninggal 19 orang sehari yang lalu, sehingga kita harus bijak. Memang ada hal-hal yang cukup (dengan) doa dan sebagainya, dan yang lainnya mengabaikan, sehingga muncul ucapan-ucapan, ‘Saya sudah rajin ibadah dan makan dengan baik.’ Nah, itu gegabah,” ujarnya kepada Aris Santoso dari Suara Baptis (SB), Jumat 20 Maret 2020.

Gembala Sidang GB Pertama Cabang Kopo Permai Pdm. Begin Yisrel Sulawesiyanto mengungkapkan, polisi bahkan berpatroli di sekitar gereja-gereja di lingkungan non-Kristen. Mereka ingin mengetahui, kalau-kalau ada gereja yang masih melakukan kebaktian resmi.

Hal serupa diungkapkan Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Batu Zaman Cabang Ciparay. “Kami sudah memutuskan untuk tidak melakukan ibadah dulu di lingkungan gereja karena sudah ada beberapa warga yang datang dan bertanya, apakah kami akan tetap melakukan ibadah Minggu atau tidak,” tuturnya.

Senada dengan itu, Gembala Sidang GBI Baitlahim Pdt. Tonny Senduk pun mengungkapkan, Jumat 22 Maret 2020 lalu, beberapa petugas Kepolisian Sektor Andir dan sejumlah anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendatangi gereja. Mereka menanyakan sekaligus mengingatkan supaya GBI Baitlahim sementara ini tidak mengadakan kebaktian Minggu yang mendatangkan banyak orang.

Menurut Pdt. Tonny, sejak pemerintah mengimbau supaya peribadatan diadakan di rumah, dampak sosial kemasyarakatan mulai terlihat. Karena itu, ayah dua anak ini juga meminta jemaat belajar membangun mesbah keluarga di rumah masing-masing.

Menurut graphics.reuters.com, penyebaran Covid-19 di Korea Selatan berawal dari seorang wanita paruh baya yang menunjukkan gejala terinfeksi. Ia kemudian diminta memeriksakan diri ke dokter namun bersikeras menolak. Ia justru pergi beribadah ke gereja di Kota Daegu sehingga kemudian menjadi sumber penyebaran Covid-19.

Sementara channelnewsasia.com memaparkan, tabligh akbar yang diselengarakan Februari lalu di Kuala Lumpur, Malaysia menjadi sumber penyebaran Covid-19. Dari 16.000 yang hadir, 1.500 di antaranya berasal dari luar Malaysia seperti Indonesia, Filipina dan Singapura.  Satu minggu kemudian seorang anggota jamaah tabligh akbar ini dinyatakan positif Covid-19. Dan satu minggu berikutnya pasien positif Covid-19 melonjak menjadi 50 orang dengan 45 di antaranya adalah peserta tabligh akbar tersebut.

Dalam pernyataan tertulisnya, pendeta-pendeta Baptis Jawa Barat mengimbau setiap jemaat tetap menjalankan arahan Firman Tuhan untuk terus bertumbuh dalam iman dan tidak terganggu oleh penyesuaian model pertemuan ibadah. Jemaat juga diingatkan untuk menjaga kesehatan pribadi, keluarga, lingkungan dan menjaga jarak sosial (social distance).

Kesepakatan untuk meniadakan ibadah Minggu di gedung-gedung gereja tersebut diberlakukan selama 14 dan akan ditinjau sesuai dengan keperluan.

 

Penulis: Juniati & Aris Santoso

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here