Kebakaran Hutan dan Lahan SATWA LIAR KITA SUDAH KRITIS

0
36

Meski musim hujan sudah datang di sebagian besar wilayah Indonesia, kebakaran hutan masih terjadi juga. Hingga 1 Maret 2020 lalu, kebakaran hutan di Meranti, Riau belum dapat dipadamkan. Padahal kebakaran sudah terjadi berhari-hari sebelumnya.

Tiga tahun terakhir, Indonesia sedang berduka. Banyak bencana yang melanda negara kita. Salah satunya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan asap tebal mengepung sejumlah kabupaten dan kota di Riau. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, luas lahan dan hutan yang terbakar tahun 2019 lalu lebih parah daripada 2018. Berdasarkan catatan KLHK, hutan dan lahan yang terbakar sampai 1 Oktober 2019 naik 80,29 persen dari periode yang sama tahun 2018. Jumlah titik api tahun 2018 hingga September tercatat ada 4.079 titik. Sedangkan total titik api tahun 2019 ada 7.354 titik alias terjadi peningkatan 3 .279 titik api (www.cnnindonesia.com).

Akibat kejadian ini, banyaknya hewan di alam liar ikut menjadi korban. Tak heran biula para aktivis lingkungan hidup menyayangkan dan menkritik kejadian ini, tak terkecuali Direktur Utama Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau.

“Satwa di alam kita sudah kritis karena kebakaran hutan. Budaya membakar itu adalah budaya yang paling murah, mudah dan menguntungkan bagi sebagian masyarakat untuk membersihkan lahan-lahan, sehingga jika terkena hujan akan balik lagi menjadi pupuk kembali,” ujar salah satu pemilik Taman Safari Indonesia ini.

Ditambahkannya, banyak hutan lindung sekarang dikelola oleh Perum Perhutani dan dialihfungsikan menjadi kebun kopi. “Kita tahu, jika kita menanam kopi di kebun kopi, berarti di bawah pohon itu tidak boleh lagi ada rumput. Kalau ada rumput, malah kopinya tidak subur. Ketiadaan rumput ini yang menyebabkan satwa liar berjenis herbivora seperti rusa, kijang, dan sebagainya juga jadi langka keberadaannya.”

Pria berpembawaan tenang ini mengungkapkan, burung dan macan tutul sudah langka di hutan-hutan Jawa Barat. Tahun 2015, beberapa spesies seperti tapir, gajah, primata, beruang banyak diburu dan ditangkap masyarakat di berbagai daerah. Kemudian tahun 2019 induk orang utan Sumatera ditembak dengan senapan angin di hutan Provinsi Aceh. Ketiadaan satwa ini tentunya sangat memprihatinkan akibat ulah orang-orang yang merusak ekosistem.

Tony menyebut, kurangnya pemerintah mensosialisasikan pentingnya menjaga ekosistem, menjadi alasan penting nomor dua, setelah alasan pertama yang didasari kepekaan kita sebagai manusia untuk menjaga apa yang Tuhan sudah berikan.

Sosialisasi seharusnya diberikan pemerintah terutama untuk penduduk lokal yang tinggal di kota maupun di daerah perhutanan. Sedagkan pihak Taman Safari Indonesia (TSI) sendiri mempunyai misi melestarikan satwa-satwa langka untuk menjamin keberadaan mereka di luar habitat. Dengan begitu akan meminimalkan kepunahan selama seratus tahun ke depan dan mereproduksi populasi satwa.

Upaya yang dilakukan TSI sudah membuahkan hasil. Menurut Tony, pihaknya telah berhasil mengembalikan burung-burung langka seperti burung jalak bali, jalak putih, dan burung kacamata untuk kembali direproduksi dan dilepaskan di alam liar sejauh masyarakat tidak menangkap mereka lagi. Pihaknya juga masih terus menjaga satwa-satwa yang hampir punah supaya nantinya di alam liar masih terjamin keberadaan spesies tersebut.

“Dengan memberikan sosialisasi atau imbauan kepada masyarakat untuk ‘STOP MEMBAKAR HUTAN KARENA MEMBAHAYAKAN’. Mungkin bahasa seperti itu bisa mengena kepada masyarakat yang pola pikirnya sudah biasa membakar hutan, supaya tidak sulit membabat rumput liar,” ucap pria berkaca mata ini dengan wajah serius.

Diakuinya, tidaklah mudah mengubah pola pikir tersebut. Namun sebagai umat bergama apalagi sebagai orang-orang Kristen, seharusnya sadar dan peduli terhadap lingkungan. “Harusnya juga diajarkan sejak usia anak-anak, misalnya di Sekolah Minggu,” tambah Tony.
Dalam kaitannya dengan kekristenan, Allah berfirman dalam Kitab Kejadian 1 dan 2 ayat 1-7, tentang permulaan Allah menciptakan lagit dan bumi serta isinya. Karena itu harusnya setiap orang percaya menyadari bahwa Allah telah menciptakan manusia untuk hidup berdampingan dan saling jaga satu dengan yang lain.

Penulis: Stefani Sandika
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here