Kata-kata Pamitan Disangka Bercanda

0
581
Foto Pdt. Yesaya Pupon Wardoyo dalam salah satu kebaktian, diambil dari akun Facebook Cornelia Veni.

In Memoriam Pdt. Yesaya Pupon Wardoyo
(15 September 1956 – 13 September 2019)

Bijaksana, tegas, tidak bisa berkompromi. Begitulah Ninuk Yesaya mengenang mendiang suaminya, Pdt. Yesaya Pupon Wardoyo, sewaktu diwawancarai Arseindy Jushabana dari Suara Baptis (SB), Jumat 20 September 2019. Dihubungi melalui telepon, Ninuk mengisahkan, pendeta yang pernah 15 tahun menggembalakan Gereja Baptis Indonesia Karanganyar Gunung, Semarang ini tidak mengalami sakit apa pun sebelum meninggal Jumat malam 13 September 2019. Bahkan seminggu sebelumnya, mereka berdua baru menjalani general check-up dengan hasil menggembirakan.

“Saya sendiri masih sering berpikir, mosok sih (Bapak sudah dipanggil Tuhan)?” tutur Ninuk.
Betapa tidak, Ninuk yang sejak pagi bersama-sama almarhum, hanya menyangka suaminya sekadar bergurau saat ia berkata, “Sudah ya… Sudah siap…”

Kala itu, Ninuk mendapati tubuh suaminya terasa dingin.

Mendengar perkataan sang suami, Ninuk pun menyanggah, “Mau ke mana? Saya harus duluan lho (yang dipanggil Tuhan).”

Foto Pdt. Yesaya Pupon Wardoyo dari akun Facebook Bude Sumi.

Peristiwa di Jumat sore 13 September 2019 tersebut segera hilang dari benak, seiring persiapan pelayanan yang segera berlangsung. Apalagi, tubuh Pdt. Yesaya kembali menjadi hangat setelah kerokan.

Lalu tibalah waktu itu. Ketika para pemuda sedang berlatih musik pendukung ibadah di lantai dua, Ninuk mendengar suaminya berseru dari dalam kamar. Dia tergopoh-gopoh menghampiri suaminya yang kala itu didapati sedang berdoa, bersimpuh di atas matrasnya.

Ninuk lalu mendekap suaminya sambil bertanya, “Ada apa?”

Tetapi Pdt. Yesaya justru rebah ke pangkuannya. Sesudah sempat menoleh kepada isterinya dan tersenyum tipis, adik Pdt. Markus Saliman, Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Imanuel Bandung ini lalu mengembuskan napas terakhir.

Sontak, Ninuk berseru memanggil-manggil, “Kakung, Kakung… Jangan curang, mau ke mana?”

Mengomentari kepergian mendadakn suaminya ini, Ninuk berujar, “Tidak merepotkan secara manusia, tetapi membuat terkejut.”

Pak Yesaya, begitu jemaat memanggilnya, lahir di Boyolali, Jawa Tengah 15 September 1956. Dua hari sebelum ulang tahun ke-63 tahun, Tuhan memanggilnya. Pdt. Yesaya meninggalkan seorang istri, tiga anak lelaki dan empat cucu. Pendeta yang punya gaya karismatik dalam berkhotbah itu hampir genap 20 tahun menggembalakan Jemaat Kristen Indonesia (JKI) Bukit Pujian, Semarang sesudah pindah dari gereja Baptis.

Pdt. Markus Saliman Wangsa menghadiri kebaktian penghiburan sang adik. Foto dari akun Facebook Bude Sumi.

Selamat jalan Pdt. Yesaya, selamat menikmati kehidupan kekal bersama Kristus di sorga.

Penulis: Arseindy Jushabana
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here