Kapal Perang Perusak ini Sempat Amankan KAA 2015

0
148

Di tengah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 pada 19 hingga 24 April 2015, beberapa kali disebut nama Oswald Siahaan. Ya, nama tersebut muncul karena menjadi nama salah satu Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang mengawal perairan barat Indonesia bersama kelima kapal perang lain, di antaranya KRI John Lie-358, KRI Imam Bonjol-383, KRI Pati Unus-384, KRI Beladau-643, dan KRI Makassar-590. Nama KRI Oswald Siahaan-354 diabadikan untuk mengenang salah satu anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang terlibat dalam pertempuran Teluk Sibolga tahun 1947, lalu tewas di tangan tentara Belanda.

Salah seorang cucu Oswald Siahaan yaitu Michael Teguh Adiputra Siahaan cukup menyayangkan sejarah yang kurang mengangkat sosok ompung (kakek dalam bahasa Batak, red.)–nya dan pemberitaan yang jarang menampilkan KRI tersebut. Berbeda dengan nama-nama pahlawan nasional lain yang sama-sama menjadi nama KRI yang tergabung dalam kapal fregat, kelas Ahmad Yani.

“Menurut saya, saat perang, komandan memerintah secara langsung dari KRI Oswald Siahaan, bukan kapal yang lain. Kalau kapal ini diserang, selesai sudah,” kata Michael dengan logat Bataknya yang kental, saat dihubungi Reporter Suara Baptis Luana Yunaneva.

Kantor Berita Nasional Antara mencatat, hingga November 2014, KRI milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) hanya 151 unit. Padahal dengan luas perairan Indonesia 3.257.483 km² yang dicatat Badan Informasi Geospasial, idealnya TNI AL mengoperasikan sekitar 400 kapal perang dari berbagai kelas, tipe, dan varian. Keseluruhan kapal perang tersebut tidak hanya menjalankan misi pengamanan perairan, tetapi juga misi-misi lain, salah satunya. misi diplomasi di luar negeri.

Berdasarkan jenisnya, kapal aktif KRI dibagi menjadi beberapa macam, antara lain:

  • Fregat

Fregat diberlakukan untuk berbagai jenis kapal perang pada beberapa masa berbeda, sehingga mencakup beberapa peran dan ukuran kapal yang berbeda pula. Berawal dari zaman kapal layar, fregat berfungsi melakukan tugas-tugas pengawalan armada dagang. Namun saat ini, fregat menjadi salah satu jenis kapal untuk melakukan patroli samudera serta pengawalan armada dagang dan tangker di daerah rawan. Kapal fregat modern biasanya dilengkapi meriam serba guna, torpedorudal dari permukaan ke permukaan, dan rudal dari permukaan ke udara. Di Indonesia, beberapa kelas fregat antara lain kelas Ahmad Yani (KRI Ahmad Yani-351, KRI Slamet Riyadi-352, KRI Yos Sudarso-353, KRI Oswald Siahaan-354, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, dan KRI Karel Satsuit TUbun-356), Fatahillah (KRI Fatahillah-361, KRI Malahayati-362, dan KRI Nala-363, dan Sigma (Sigma 10514).

  • Korvet

Ukuran korvet lebih kecil dari fregat dan lebih besar dari kapal patroli pantai, walaupun banyak desain terbaru yang menyamai fregat dalam ukuran dan tugas. Istilah korvet diperkenalkan Angkatan Laut Perancis pada abad ke-17 untuk kapal kecil yang membawa 20 meriam. Saat itu, korvet bertujuan melindungi kapal dagang dan patroli lepas pantai. Kemampuannya terhitung tinggi karena dilengkapi persenjataan cukup modern dan rudal. Bahkan desain kapal korvet terbaru juga mampu mengangkut helikopter. Beberapa kelas korvet di Indonesia antara lain kelas Bung Tomo (KRI Bung Tomo-357, KRI John Lie-358, dan KRI Usman-Harun-359), Sigma (KRI Diponegoro-365, KRI Sultan Hasanuddin-366, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Frans Kaisiepo-368), dan Parchim.

  • Kapal selam

Kapal yang bergerak di bawah permukaan air ini umumnya untuk tujuan dan kepentingan militer. Sebagian besar angkatan laut memiliki dan mengoperasikan kapal selam, meski jumlah dan populasinya berbeda di setiap negara. Selain itu, kapal selam digunakan untuk ilmu pengetahuan laut dan air tawar serta bertugas di kedalaman yang tidak sesuai untuk penyelam manusia. Beberapa kelas kapal selam di Indonesia antara lain Cakra (KRI Cakra dan Nanggala), serta Changbogo (Tipe 209/1400).

Sementara itu, KRI Oswald Siahaan-354 merupakan kelas fregat TNI Angkatan Laut yang dibeli Indonesia pada tahun 1980-an dari Angkatan Laut Belanda (HMNLS Isaac Sweers F805). Di negara asalnya, kelas ini dikenal dengan nama Fregat kelas Van Speijk yang dibangun tahun 1967.

Kapal yang diluncurkan pada 26 Maret 1966 ini dilengkapi amunisi rudal bernama Yakhont, buatan Rusia yang memiliki jangkauan tembak mencapai 300 kilometer. Itu artinya KRI Oswald Siahaan-354 menjadi satu-satunya kapal di Indonesia yang memiliki jangkauan rudal terjauh. Mengingat KRI lain milik Indonesia hanya memiliki jangkauan rudal maksimal 150 kilometer. Dengan begitu, kapal perang kelas Ahmad Yani dengan tipe perusak kawal rudal tersebut bertugas sebagai armada patroli sekaligus pemukul, dengan kemampuan antikapal permukaan, antikapal selam, dan antipesawat udara.

Di balik namanya yang diangkat menjadi salah satu kapal perang Tanah Air, sebenarnya siapa sosok Oswald Siahaan? Simak kisahnya dalam Majalah Suara Baptis edisi II/2015 yang segera terbit awal Juli 2015. (SB/ luana yunaneva)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here