“Joy To The World, The Lord Is Come” Ternyata Bukan Lagu Natal

0
55

Tahun 2016 berjalan begitu cepat. Tak Terasa kita telah melangkah menuju masa menjelang Natal. Didalam gereja kita, Baptis, ada dua hal yang tidak akan pernah hilang dari bulan Desember, yaitu “masak” dan “musik”.

Mengenai “Natal”, sebetulnya lebih banyak bersangkut paut dengan hal budaya dan kebiasaan, ketimbang aspek normatif dari Alkitab. Sebab, memang Alkitab tidak pernah memberikan instruksi eksplisit agar kita merayakan Natal secara rutin setiap tahun.

Di dalam Perjanjian Lama (PL), Allah memberi perintah kepada bangsa Israel untuk mengingat dan merayakan Paskah yaitu peristiwa penyelamatan bangsa Israel keluar dair Mesir. Pula dalam Perjanjian Baru, hari Paskah ini masih tetap dirayakan. Kemudian kita tahu bahwa kematian dan kebangkitan Kristus menjadi penggenapan dari Paskah (dalam PL) atau menjadi Paskah yang sesungguhnya.

Dalam Alkitab, kita tahu bahwa Kristus memberikan perintah kepada pengikut-Nya yaitu gereja Kristen di sepanjang abad dan tempat, untuk terus menerus “mengingat akan Aku” dalam peristiwa Perjamuan Kudus (Holy Communion), yang menurut terminologi gereja-gereja Baptis disebut Perjamuan Tuhan (The Lord’s Supper).

Tetapi sebagaimana kita ketahui, Tuhan Yesus memang tidak pernah memberikan suatu perintah spesifik kepada kita untuk mengingat kelahiran-Nya. Karena itu, peringatan Natal atau hari “inkarnasi” (kelahiran) Putra Allah di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus ke dunia ini, menjadi sesuatu yang lebih bersifat kultural, ketimbang biblikal. Kendati demikian, sepertinya memang orang-orang Kristen seolah merasa lebih “seru” saat mengingat dan merayakan Natal, daripada Paskah, apalagi Perjamuan Tuhan. Padahal keduanya jelas-jelas diamanatkan oleh Tuhan sendiri.

Menjadi suatu perenungan bagi kita semua, mengapa kita seolah lebih bersukacita merayakan Natal daripada merayakan kedua peristiwa tadi? Apakah itu merupakan suatu sukacita yang otentik atau sekadar antusiasme sensasi sukacita menyambut hari raya atau hari libur panjang belaka? atau bahkan menyambut berbagai hadiah dan hidangan yang kita santap di hari Natal?

Perenungan ini mengingatkan kita akan satu pujian yang sering dikumandangkan di hari Natal, yaitu “Hai Dunia, Bersukalah” (dalam buku Nyanyian Pujian (NP) no. 59), atau “Joy to the World, the Lord is Come”, sebuah himne karya Isaac Watts.

Ada banyak kesalahan berpikir mengenai himne ini. Pertama, ketika Isaac Watts menulis syair lagu ini, secara spesifik Ia tidak sedang menulis sebuah lagu Natal. Watts menulis lagu ini sebagai bagian dari soft campaign-nya melawan arogansi Gereja Anglikan yang pada saat itu merupakan gereja negara (the state church). Gereja ini hanya memperbolehkan Nyanyian Mazmur Metrikai (terjemahan Sternhold & Hopkins) untuk dinyanyikan dalam ibadah-ibadah jemaat. itulah “NP”versi Gereja Anglikan yang dianggap sebagai satu-satunya kumpulan pujian yang sah untuk dinyanyikan di gereja pada saat itu, sementara yang lain dianggap ilegal.

Pandangan Gereja Anglikan ini mengikuti pandangan gereja-gereja Reformatoris di Jenewa, Swiss yang dipengaruhi oleh pengajaran tokoh Reformasi yaitu John Calvin. Mereka hanya mengizinkan Nyanyian Mazmur Jenewa untuk dinyanyikan dalam kebaktian.

Maka, pada masa itu, pujian himne masih jarang ditemukan dan dipergunakan di inggris. Kecuali di kalangan orang Kristen yang bersekutu dalam rumah-rumah, yaitu Kaum Non-Konformis, termasuk kaum Baptis, juga gereja-gereja Protestan di Jerman.

Di tengah situasi seperti itulah, Isaac Watts, seorang muda yang berbakat, jenius, serta menguasai bahasa asing termasuk Latin, Ibrani. dan Yunani, tergerak untuk menulis lagu-lagu pujian yang bukan Mazmur metrikal. Walaupun jenius, ia ditolak saat mendaftar kuliah di Oxford University karena sikapnya yang membangkang terhadap Gereja Anglikan. Sebelum menjadi universitas sekuler seperti sekarang, dulu Oxford University merupakan universitas yang teratiliasi (mempunyai pertalian) dengan Gereja Anglikan.

Watts kemudian berpikir, bagaimana jemaat dapat memahami kebenaran dan ajaran Alkitab mengenai Kristus? Pasalnya, Kitab Mazmur tidak terlalu banyak berbicara secara eksplisit mengenai Kristus kecuali mazmur-mazmur mesianik atau nubuatan mengenai Kristus. Jika ada, itu pun tersirat dalam bahasa kiasan. Mulailah Watts menulis lagu-lagu himne yang menceritakan tentang berbagai inti pokok iman Kristen.

Tetapi sebelum ia menulis lagu himne, ia memparafrasekan Mazmur ke dalam berbagai nyanyian-nyanyian Mazmur yang disisipi muatan ajaran mengenai Pribadi dan karya Tuhan Yesus. Salah satu Mazmur yang diparafrasekan oleh Watts adalah Mazmur 98 yang menceritakan mengenai Tuhan Allah sebagai Pencipta dan Raja atas seluruh bumi yang datang untuk menghakimi dunia ini dengan keadilan. Dari Mazmur inilah, lagu “Joy to the World, the Lord is Come!” itu lahir.

Lantas, apakah Mazmur 98 serta merta berbicara mengenai kelahiran Kristus? Tentu tidak. Dari sini saya dapat menduga, sepertinya kecil kemungkinan Watts membayangkan dalam pikirannya bahwa lagu ini akan menjadi lagu “langganan” umat Kristen saat Natal.

la semata-mata menulis syair lagu ini untuk mengajarkan pokok iman Kristen mengenai Kristus yang lahir di dunia sebagai Raja. ia datang untuk memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Kitalah yang kemudian mewarisi suatu tradisi nyanyian dari para pendahulu kita, maka seringkali kita menyanyikan lagu ini dalam masa-masa perayaan Natal. Padahal awalnya, lagu ini justru merupakan simbol perlawanan terhadap tradisi yang kaku di masa lampau.

Mengenai hal ini, seorang sastrawan Inggris bernama James Montgomery menulis tentang Watts dan karya-karyanya yang revolusioner: ”He so far departed from all precedent, that few of his compositions resemble those of his fore-runners,- while he so far established a precedent to all his successors, that none have departed from it (dikutip oleh J. R. Watson, The English Hymns: A Critical and Historical Study, New York: Oxford University Press, 2004, hlm. 152).

Lagu ini lahir dari kecintaan Watts kepada Tuhan yang ia percaya, kasihi dan layani. Watts rindu jemaat dapat beribadah dan semakin mengenal Tuhan. Karena ia menyaksikan, selama ini jemaat telah beribadah di gereja dengan tradisi yang mengakar kuat, namun malah menghalangi mereka untuk mengenal Pribadi Tuhan dan Juruselamat. Ia merindukan sebuah pengalaman ibadah yang vernakular (bergaung dengan bahasa jiwa dari umat yang menyembah Allah). Maka lahirlah puji-pujian yang tulisannya masih bergema hingga saat ini.

(bersambung)

Penulis: Ev. Samuel Tandei

Editor: Andry W. Perliwi

 

*) Penulis merupakan konsultan pelayanan ibadah di berbagai gereja, sekaligus jemaat Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung yang melayani sebagai dosen penuh waktu di Sekolah Tinggi Teologia- Seminari Alkitab Asia Tenggara (STT-SAAT) Malang.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here